Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

zimbio.com zimbio.com
“Pendapatan petani itu lebih rendah dari UMP se- Indonesia. UMP terendah itu di NTT, 1.115.000/ bulan. Nah pendapatan petani menurut BPS 1.030.000/ per keluarga. Petani paling miskin di Indonesia. Dan tidak ada upaya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Sementara mereka dituntut memproduksi dengan harga yang murah.”

Yogyakarta-KoPi| Menurut Prof. Andrea peletakan target-target panen secara tidak langsung menyengsarakan petani kecil. Urgenitas polemik pertanian terletak pada petani itu sendiri.

“Problem terbesarnya ada di petani, bagaimana ketika panen petani harus menerima harga gabah yang rendah. Dulu, masa Pak Harto petani panen diserahkan ke pemerintah, sekarang diserahkan ke pasar. Jadi gak heran selama 10 tahun terakhir harga gabah, rendah tapi harga beras tinggi”, papar Prof. Andrea.

Dalam kesempatan berbeda, ketua Joglo Tani, TO Suprapto, juga sependapat, kondisi petani terpuruk saat ini karena mulai dari bibit, pupuk hingga pemasaran berada di tangan pasar.

Orientasi Kebijakan Pertanian

Pertama, Program mensejahterakan petani. Selama ini orinetasi kebijakan menjadikan petani sebagai subjek. Pemerintah mematok harga gabah yang kompetitif. 

“Jangan kayak kedelai, kedelai kita hancur karena pemerintah membeli 7000, sementara produksi petani 7500, atau kasus gula karena banjir gula impor ada satu juta ton stok gula mengendap di petani. Sungguh menyengsarakan petani ”, tutur Prof. Andrea.

Kedua, jangan berorientasi pangan murah. Implikasinya ketika mindset murah, menghilangkan produk petani lokal. Harusnya fokus pada produksi. 

Ketiga, mengembangkan varietas lokal sesuai karakter masing-masing wilayah.

Saat ini Prof. Andrea bersama rekan tengah mengembangkan varietas local. Menghasilkan memiliki 490 galur dari proses kawin. Salah satunya IF- 8 (Indonesia farmer yang menghasilkan 13,76 ton /Ha, dua kali lipat dari varietas pemerintah yang hanya 6-7 ton. [Winda Efanur Fs]

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Siap swasembada beras, ini syaratnya

 

 

 

back to top