Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Pertanian Organik, Pemerintah Belum Konsekuen

Pertanian Organik, Pemerintah Belum Konsekuen
Pertanian organik adalah program unggulan pemerintah. Namun faktanya regulasi pemerintah terkadang menghambat perkembangan pertanian organik. Sepantasnya kebijakan pemerintah mampu konsekuen dan berani mengambil resiko politik terbesar.

Yogyakarta-KoPi. “Lahirnya petani organik sebagai reaksi terhadap kebijakan pemerintah yang menarik subsidi pupuk. Penarikan kembali subsidi pupuk otomatis mengharuskan petani membeli pupuk ke pabrik. Dalam hal ini petani menjadi korban kebijakan”.

Demikian yang disampaikan oleh Nundang Rundagi kepada Koranopini.com. Menurut Nundang kemandirian seorang petani Indoensia merupakan cikal bakal ketahanan pangan nasional.

Diakui oleh Nundang, selama ini pemerintah telah mengucurkan banyak subsidi kepada para petani. Namun dalam faktanya terindikasi ketidak-konsistenan pemerintah dalam mengelola pertanian.

“Jika pemerintah serius, dia tidak akan setengah-setangah. Yang terpenting bagi petani bukan terletak pada besaran dana subsidinya melainkan pada skiil kognitif para petaninya. Petani yang cerdas dia siap untuk mengelola sawahnya.

Nundang menambahkan bentuk cinta pada perntanian bagian dari cinta tanah air.

“Kita sadar 70% sinar matahari ada di indonesia. Sangat pantas negara ini menjadi puncak ketahanan pangan di dunia. Indonesia harus melanggengkan pertanian dan kelautan untuk ketahanan pangan. Kalau mau mengunggulkan Negara industri 20 tahun lagi semua negara jadi industry semua. Lantas yang jadi pertanyaan, besok kita mau makan apa ? Apa kita makan mobil rongsokan”, kritik Nundang.

 

 

 

back to top