Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pertanian Organik, Pemerintah Belum Konsekuen

Pertanian Organik, Pemerintah Belum Konsekuen
Pertanian organik adalah program unggulan pemerintah. Namun faktanya regulasi pemerintah terkadang menghambat perkembangan pertanian organik. Sepantasnya kebijakan pemerintah mampu konsekuen dan berani mengambil resiko politik terbesar.

Yogyakarta-KoPi. “Lahirnya petani organik sebagai reaksi terhadap kebijakan pemerintah yang menarik subsidi pupuk. Penarikan kembali subsidi pupuk otomatis mengharuskan petani membeli pupuk ke pabrik. Dalam hal ini petani menjadi korban kebijakan”.

Demikian yang disampaikan oleh Nundang Rundagi kepada Koranopini.com. Menurut Nundang kemandirian seorang petani Indoensia merupakan cikal bakal ketahanan pangan nasional.

Diakui oleh Nundang, selama ini pemerintah telah mengucurkan banyak subsidi kepada para petani. Namun dalam faktanya terindikasi ketidak-konsistenan pemerintah dalam mengelola pertanian.

“Jika pemerintah serius, dia tidak akan setengah-setangah. Yang terpenting bagi petani bukan terletak pada besaran dana subsidinya melainkan pada skiil kognitif para petaninya. Petani yang cerdas dia siap untuk mengelola sawahnya.

Nundang menambahkan bentuk cinta pada perntanian bagian dari cinta tanah air.

“Kita sadar 70% sinar matahari ada di indonesia. Sangat pantas negara ini menjadi puncak ketahanan pangan di dunia. Indonesia harus melanggengkan pertanian dan kelautan untuk ketahanan pangan. Kalau mau mengunggulkan Negara industri 20 tahun lagi semua negara jadi industry semua. Lantas yang jadi pertanyaan, besok kita mau makan apa ? Apa kita makan mobil rongsokan”, kritik Nundang.

 

 

 

back to top