Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!
Surabaya – KoPi| Masalah produktivitas lahan dan pangan masih membelit petani Indonesia. Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian, rusaknya infrastruktur pertanian, dan suplai air yang semakin berkurang hanya beberapa di antaranya. Namun yang sering dikeluhkan petani adalah tidak meratanya distribusi pupuk yang berakibat pada semakin mahalnya harga pupuk kimia.

Permasalahan tersebut kadang membuat petani melirik biofertilizer atau pupuk hayati. Masalahnya, beberapa biofertilizer kurang memberikan hasil yang memuaskan bagi petani. Karena itu, petani mau tak mau masih sangat tergantung pada pupuk kimia buatan pabrik. Padahal, pupuk hayati lebih ramah lingkungan dan tidak mengganggu unsur hara dalam tanah meskipun dipakai berkali-kali.

Namun, tidak semua pupuk hayati memberi hasil yang lebih sedikit daripada pupuk kimia buatan parbik. Hal itu dibuktikan Prof. Dr. Ir. Tini Surtiningsih, DEA, peneliti dari Departemen Biologi Universitas Airlangga. Tini membuat pupuk hayati dari campuran mikroorganisme. Ia membuktikan, pupuk hayati tetap bisa memberikan hasil panen yang lebih tinggi daripada pupuk buatan pabrik.

Tini membuat pupuk hayati tersebut dengan mencampurkan bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat, dan beberapa bahan pendegradasi bahan organik, serta cendawan. Bakteri-bakteri tersebut diambilnya dari hutan-hutan yang ada di Indonesia.

Ia mengaplikasikan pupuk buatannya tersebut pada tanaman kacang koro. “Hasil tertinggi yang pernah kami dapat, yaitu berat polong kering mencapai 287 g/tanaman, dan berat biji kering 208 g/tanaman, setara dengan 13 ton/ha,” katanya. Ia mengatakan, hasil itu seratus persen lebih banyak daripada penggunaan pupuk kimia.

Meskipun industri pupuk juga sudah ada yang memproduksi biofertilizer, namun Tini menyebutkan bakteri yang terdapat dalam kemasan pupuk hayati belum tentu masih hidup. Padahal, apabila bakteri tersebut masih hidup, para petani bisa mengembangbiakkannya sendiri. Walapun pada kenyatannya, pupuk-pupuk hayati bisa dijangkau oleh petani karena harganya yang jauh lebih murah.| Defrina S.S.

back to top