Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!
Surabaya – KoPi| Masalah produktivitas lahan dan pangan masih membelit petani Indonesia. Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian, rusaknya infrastruktur pertanian, dan suplai air yang semakin berkurang hanya beberapa di antaranya. Namun yang sering dikeluhkan petani adalah tidak meratanya distribusi pupuk yang berakibat pada semakin mahalnya harga pupuk kimia.

Permasalahan tersebut kadang membuat petani melirik biofertilizer atau pupuk hayati. Masalahnya, beberapa biofertilizer kurang memberikan hasil yang memuaskan bagi petani. Karena itu, petani mau tak mau masih sangat tergantung pada pupuk kimia buatan pabrik. Padahal, pupuk hayati lebih ramah lingkungan dan tidak mengganggu unsur hara dalam tanah meskipun dipakai berkali-kali.

Namun, tidak semua pupuk hayati memberi hasil yang lebih sedikit daripada pupuk kimia buatan parbik. Hal itu dibuktikan Prof. Dr. Ir. Tini Surtiningsih, DEA, peneliti dari Departemen Biologi Universitas Airlangga. Tini membuat pupuk hayati dari campuran mikroorganisme. Ia membuktikan, pupuk hayati tetap bisa memberikan hasil panen yang lebih tinggi daripada pupuk buatan pabrik.

Tini membuat pupuk hayati tersebut dengan mencampurkan bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat, dan beberapa bahan pendegradasi bahan organik, serta cendawan. Bakteri-bakteri tersebut diambilnya dari hutan-hutan yang ada di Indonesia.

Ia mengaplikasikan pupuk buatannya tersebut pada tanaman kacang koro. “Hasil tertinggi yang pernah kami dapat, yaitu berat polong kering mencapai 287 g/tanaman, dan berat biji kering 208 g/tanaman, setara dengan 13 ton/ha,” katanya. Ia mengatakan, hasil itu seratus persen lebih banyak daripada penggunaan pupuk kimia.

Meskipun industri pupuk juga sudah ada yang memproduksi biofertilizer, namun Tini menyebutkan bakteri yang terdapat dalam kemasan pupuk hayati belum tentu masih hidup. Padahal, apabila bakteri tersebut masih hidup, para petani bisa mengembangbiakkannya sendiri. Walapun pada kenyatannya, pupuk-pupuk hayati bisa dijangkau oleh petani karena harganya yang jauh lebih murah.| Defrina S.S.

back to top