Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!
Surabaya – KoPi| Masalah produktivitas lahan dan pangan masih membelit petani Indonesia. Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian, rusaknya infrastruktur pertanian, dan suplai air yang semakin berkurang hanya beberapa di antaranya. Namun yang sering dikeluhkan petani adalah tidak meratanya distribusi pupuk yang berakibat pada semakin mahalnya harga pupuk kimia.

Permasalahan tersebut kadang membuat petani melirik biofertilizer atau pupuk hayati. Masalahnya, beberapa biofertilizer kurang memberikan hasil yang memuaskan bagi petani. Karena itu, petani mau tak mau masih sangat tergantung pada pupuk kimia buatan pabrik. Padahal, pupuk hayati lebih ramah lingkungan dan tidak mengganggu unsur hara dalam tanah meskipun dipakai berkali-kali.

Namun, tidak semua pupuk hayati memberi hasil yang lebih sedikit daripada pupuk kimia buatan parbik. Hal itu dibuktikan Prof. Dr. Ir. Tini Surtiningsih, DEA, peneliti dari Departemen Biologi Universitas Airlangga. Tini membuat pupuk hayati dari campuran mikroorganisme. Ia membuktikan, pupuk hayati tetap bisa memberikan hasil panen yang lebih tinggi daripada pupuk buatan pabrik.

Tini membuat pupuk hayati tersebut dengan mencampurkan bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat, dan beberapa bahan pendegradasi bahan organik, serta cendawan. Bakteri-bakteri tersebut diambilnya dari hutan-hutan yang ada di Indonesia.

Ia mengaplikasikan pupuk buatannya tersebut pada tanaman kacang koro. “Hasil tertinggi yang pernah kami dapat, yaitu berat polong kering mencapai 287 g/tanaman, dan berat biji kering 208 g/tanaman, setara dengan 13 ton/ha,” katanya. Ia mengatakan, hasil itu seratus persen lebih banyak daripada penggunaan pupuk kimia.

Meskipun industri pupuk juga sudah ada yang memproduksi biofertilizer, namun Tini menyebutkan bakteri yang terdapat dalam kemasan pupuk hayati belum tentu masih hidup. Padahal, apabila bakteri tersebut masih hidup, para petani bisa mengembangbiakkannya sendiri. Walapun pada kenyatannya, pupuk-pupuk hayati bisa dijangkau oleh petani karena harganya yang jauh lebih murah.| Defrina S.S.

back to top