Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!

Menakjubkan! Pupuk hayati naikkan hasil panen dua kali lipat!
Surabaya – KoPi| Masalah produktivitas lahan dan pangan masih membelit petani Indonesia. Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian, rusaknya infrastruktur pertanian, dan suplai air yang semakin berkurang hanya beberapa di antaranya. Namun yang sering dikeluhkan petani adalah tidak meratanya distribusi pupuk yang berakibat pada semakin mahalnya harga pupuk kimia.

Permasalahan tersebut kadang membuat petani melirik biofertilizer atau pupuk hayati. Masalahnya, beberapa biofertilizer kurang memberikan hasil yang memuaskan bagi petani. Karena itu, petani mau tak mau masih sangat tergantung pada pupuk kimia buatan pabrik. Padahal, pupuk hayati lebih ramah lingkungan dan tidak mengganggu unsur hara dalam tanah meskipun dipakai berkali-kali.

Namun, tidak semua pupuk hayati memberi hasil yang lebih sedikit daripada pupuk kimia buatan parbik. Hal itu dibuktikan Prof. Dr. Ir. Tini Surtiningsih, DEA, peneliti dari Departemen Biologi Universitas Airlangga. Tini membuat pupuk hayati dari campuran mikroorganisme. Ia membuktikan, pupuk hayati tetap bisa memberikan hasil panen yang lebih tinggi daripada pupuk buatan pabrik.

Tini membuat pupuk hayati tersebut dengan mencampurkan bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat, dan beberapa bahan pendegradasi bahan organik, serta cendawan. Bakteri-bakteri tersebut diambilnya dari hutan-hutan yang ada di Indonesia.

Ia mengaplikasikan pupuk buatannya tersebut pada tanaman kacang koro. “Hasil tertinggi yang pernah kami dapat, yaitu berat polong kering mencapai 287 g/tanaman, dan berat biji kering 208 g/tanaman, setara dengan 13 ton/ha,” katanya. Ia mengatakan, hasil itu seratus persen lebih banyak daripada penggunaan pupuk kimia.

Meskipun industri pupuk juga sudah ada yang memproduksi biofertilizer, namun Tini menyebutkan bakteri yang terdapat dalam kemasan pupuk hayati belum tentu masih hidup. Padahal, apabila bakteri tersebut masih hidup, para petani bisa mengembangbiakkannya sendiri. Walapun pada kenyatannya, pupuk-pupuk hayati bisa dijangkau oleh petani karena harganya yang jauh lebih murah.| Defrina S.S.

back to top