Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan
Meskipun tanah pertanian kita luas dan subur, tetapi banyak petani kita hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah juga melakukan banyak impor yang menunjukkan kekurangan pasokan pangan dalam negeri. Atau ada desain konspiratif? 

Yogyakarta-KoPi| “ Kita mulai swasembada pangan tahun 1984. Selama kurun waktu 3-5 tahun ke depannya kita aktif berswasembada pangan. Nah habis itu kita drop. Setelah itu kita aktif mengimpor, tahun kemarin saja kita impor beras sekitar 12 jta ton”, kata salah seorang petani varietas lokal, Gati Andoko.

Gati Andoko, mantan Dosen Antropologi yang kini bergelut di dunia pertanian menyayangkan kondisi pertanian Indonesia saat ini. Menurutnya mata rantai impor beras Indonesia tidak terlepas dari aspek historis politik masa lalu. 

“Apalagi jaman Orde Baru- kita nanem bulir padi yang asli aja sudah diklaim PKI, dianggap melawan pemerintah. Sebenarnya Kalau nggak salah, tahun 1969 dari CSR Ford Foundation ada program. Program itu menyebar ketiga Negara yakni Thailand untuk mengembangkan teknologi pertanian dan pertanian itu sendiri. Filipina untuk masalah bibit dan Indonesia untuk meneliti masalah hama. Makanya dari konsensus itulah Indonesia kelimpungan mau nanem apa? Nah semua bibit asli Indonesia ditarik untuk penelitian, kita fokus meneliti hama”, papar Gati.

Namun Prof. Andrea Santosa dari IPB masih meragukan adanya relasi antara CSR Ford Foundation dengan pertanian Indonesia. 

“Itu nggak demikian memang untuk benih padi itu Filipina ada IRRI lembaga internasional yang menghasilkan padi IR 64 yang booming di Indonesia. Bukan berarti mereka fokus ke perkembangan benih nggak juga. Dan Indonesia fokus pengembangan hama , ya no tidak juga. Suka tidak suka perkembangan pertanian Thailand cepat. Tapi varietas unggul Indoensia ada ciherang, inpari karya peneliti Indonesia sendiri”, jelasnya.

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

 

 

 

 

back to top