Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan
Meskipun tanah pertanian kita luas dan subur, tetapi banyak petani kita hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah juga melakukan banyak impor yang menunjukkan kekurangan pasokan pangan dalam negeri. Atau ada desain konspiratif? 

Yogyakarta-KoPi| “ Kita mulai swasembada pangan tahun 1984. Selama kurun waktu 3-5 tahun ke depannya kita aktif berswasembada pangan. Nah habis itu kita drop. Setelah itu kita aktif mengimpor, tahun kemarin saja kita impor beras sekitar 12 jta ton”, kata salah seorang petani varietas lokal, Gati Andoko.

Gati Andoko, mantan Dosen Antropologi yang kini bergelut di dunia pertanian menyayangkan kondisi pertanian Indonesia saat ini. Menurutnya mata rantai impor beras Indonesia tidak terlepas dari aspek historis politik masa lalu. 

“Apalagi jaman Orde Baru- kita nanem bulir padi yang asli aja sudah diklaim PKI, dianggap melawan pemerintah. Sebenarnya Kalau nggak salah, tahun 1969 dari CSR Ford Foundation ada program. Program itu menyebar ketiga Negara yakni Thailand untuk mengembangkan teknologi pertanian dan pertanian itu sendiri. Filipina untuk masalah bibit dan Indonesia untuk meneliti masalah hama. Makanya dari konsensus itulah Indonesia kelimpungan mau nanem apa? Nah semua bibit asli Indonesia ditarik untuk penelitian, kita fokus meneliti hama”, papar Gati.

Namun Prof. Andrea Santosa dari IPB masih meragukan adanya relasi antara CSR Ford Foundation dengan pertanian Indonesia. 

“Itu nggak demikian memang untuk benih padi itu Filipina ada IRRI lembaga internasional yang menghasilkan padi IR 64 yang booming di Indonesia. Bukan berarti mereka fokus ke perkembangan benih nggak juga. Dan Indonesia fokus pengembangan hama , ya no tidak juga. Suka tidak suka perkembangan pertanian Thailand cepat. Tapi varietas unggul Indoensia ada ciherang, inpari karya peneliti Indonesia sendiri”, jelasnya.

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

 

 

 

 

back to top