Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Lumbung Mataraman hasilkan 15 juta per bulan

Lumbung Mataraman hasilkan 15 juta per bulan
Dengan lahan hanya 500 meter persegi, Joglo Tani mampu menghasilkan Rp. 15 juta setiap bulan. Berminat mengikuti?

Sleman-KoPi- Mayoritas sistem pertanian Indonesia menggunkan sistem anorganik. Dominan memakai pupuk dan pestisida berbahan kimia. Tanpa disadari residu dari penggunan obat berbahan kimia sejatinya membahayakan diri petani maupun tumbuhan sendiri. Berangkat dari hal itu salah seorang petani Dusun Mandungan, Margoluwih, Sayegan, Sleman, T.O Suprapto dan Sunarno mendirikan Joglo Tani.

Joglo Tani yang berada di ini dideklarasikan sebagai hari kebangkitan petani Indonesia. Dengan visi kemerdekaan dan misi kemandirian, diharapkan para petani bisa hidup makmur dan hidup sejahtera.

Menurutnya, untuk mencapai kesejahteraan itu petani harus cerdas dalam memanfaatkan lahan sempit, dengan cara menggunakan sistem multikultur yang sedang ia terapkan. Sistem multikultur ini manmefaatkan setiap lahan yang ada menjadi lahan produktif dan menghasilkan.

Petani yang mantan guru olahraga ini membanting setir untuk lebih fokus didunia pertanian. Dan ditahun 2005, TO Suprapto bersama rekan-rekannya membentuk sebuah Ikatan Penyuluh Pengendali Hama Tanaman Indonesia (IPPHTI), yang kemudian ditahun  2008 berubah menjadi Joglo Tani.

“Oyot-oyotan, kekayotan, gegogongan, kekembangan, gegedangan adalah bagian dari tanaman yang dapat dimanfaatkan”. Ungkap TO Suprapto kepada wartawan Koranopini.com, 24/09/2014.

Seluruh bagian pohon seperti akar-akaran, batang-batangan, daun-daunan, buah-buahan dan bunga-bungaan, dapat dimanfaatkan oleh para petani. Selain itu memaksimalkan lahan menjadi lahan peternakan pun bisa dilakukannya, seperti beberapa macam ikan, dan berbagai jenis unggas seperti itik dan ayam. Sehingga dengan konsep tersebut, petani akan bisa hidup secara berkala, baik harian, mingguan, bulanan, 2 bulanan, 3 bulanan, 4 bulanan, dan 6 bulanan.

“Dan saya sudah membuktikannya secara langsung, dan hasilnya sungguh fantastis. Dengan lahan 500 meter, saya dapat menghasilkan uang sebesar 15 juta per bulan. Dan ini real”. Ujar TO Suprapto sembari menunjukkan lahannya.

Pengolahan lahan ini disebutnya sebagai sebagai lumbung mataraman, karena pernah diterapkan oleh petani dimasa kerajaan mataram. Dan menurutnya lumbung mataraman ini bisa menjadi pertahanan pangan rakyat Indonesia, dan kebangkitan petani menjadi lebih mandiri dan merdeka.

Reporter: Haerul Mustakim

back to top