Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jatim kekeringan, DPRD minta embung Belanda diaktifkan lagi

Jatim kekeringan, DPRD minta embung Belanda diaktifkan lagi
Surabaya - KoPi | Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur menyesalkan turunnya Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur. Karenanya, Komisi B meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan Provinsi Jawa Timur untuk mengaktifkan kembali embung-embung peninggalan Belanda.
 

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Yusuf Rohana meminta Dinas PU Pengairan agar mengaktifkan kembali embung-embung peninggalan Belanda yang dibangun pada masa penjajahan. Di Jatim masih terdapat banyak embung-embung peninggalan Belanda yang semestinya dapat diaktifkan kembali.

Yusuf juga menyatakan juga perlu ada pembangunan waduk-waduk di lokasi yang kekeringannya sangat parah, seperti di Sumenep. Menurutnya setiap musim kemarau, sering terjadi kekeringan di Kepulauan Sapudi . "Embung dan waduk ini dapat menampung air ketika musim hujan, sehingga tidak terjadi banjir. Di Sampang setiap hujan selalu banjir, maka dengan waduk dapat menampung dan dimanfaat ketika kemarau," katanya.  

Menurut Yusuf, NTP Jatim saat ini turun drastis. Padahal selama ini tidak pernah terjadi kondisi semacam ini. Bahkan, Yusuf mengatakan penurunan NTP di Jatim lebih besar dibandingkan dengan Jateng dan Jabar. Hal ini tampak dari turunnya kesejahteraan petani.

"Selama ini angka NTP di Jatim belum pernah di bawah 100 persen. Namun akibat kurangnya respons Pemprov dalam penanganan musim kemarau, NTP kita sekarang turun drastis hingga di bawah 100 persen," tegasnya.

Yusuf menambahkan, drastisnya penurunan NTP tersebut tidak hanya dirasakan para petani saja. Daya beli masyarakat terhadap produk pertanian juga turun karena naiknya harga jual.

Yusuf mengingatkan, dengan kondisi ini, Pemprov tidak bisa menjadikan faktor cuaca sebagai alasan utama. Pemprov Jatim melalui Dinas Pengairan harus mencari solusi yang tepat agar petani tetap dapat mempunyai persediaan air yang cukup ketika musim kemarau. 

"Pemprov tidak bisa menyalahkan alam sebagai dampak turunnya NTP. Jangan dibandingkan dengan provinsi lainnya. Dinas terkait harus cermat dalam mencari solusi. Indonesia ini kan mempunyai dua musim yakni hujan dan kemarau," tuturnya.

back to top