Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Jateng dan DIY diserang cabai yang diduga bervirus asal China

Lahan cabai dragon chilli di Grabag, Magelang Lahan cabai dragon chilli di Grabag, Magelang
Setelah kasus cabai asal China berbakteri di Bogor, kini di Sleman dan Magelang ditemukan cabai yang diduga bervirus. Ada indikasi upaya mematikan cabai lokal dan menghidupkan cabai China.

Sleman-KoPi| Dinas Pertanian Sleman, Kamis 12 Januari 2017 tengah bekerja keras untuk memastikan para petani tidak menanam cabai asal China yang diduga mengandung virus. Dinas Pertanian bertindak setelah mendapatkan informasi dua mahasiswa S2 asal Indonesia berinisial Aj dan Mj yang tinggal di Godean, Sleman membawa bibit cabai asal China.

Menurut keterangan, dua mahasiswa itu telah mencobakan di Selambu, Citro Sono, Grabag Magelang. Bibit itu telah ditanam sejak bulan Oktober lalu dan panen di Januari 2017. Bibit cabai itu ditanam pada lahan seluas 764 meter persegi. Cabai ini bernama Dragon Chilli.

Meskipun belum terbukti cabai itu mengandung virus, tetapi menurut Nur Syaifuddin Ahmad, Kasi Bina Produksi Tanaman Hortikultura dan Perkebunan Bidang Tanaman Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian Sleman, ada indikasi cabai yang ditanam di Grabag Magelang itu mengandung Virus Bule.

"Sampai saat ini belum ada laporan apakah cabai tersebut berbakteri atau tidak, kalau dilihat dari tanamannya saja sudah membawa penyakit, ini banyak bule bulenya (kuning-kuning), itu virus, jadi ada virusnya," jelas Nur Syaifuddin. "Kalau melihat ini sih ilegal. plangnya mencurigakan, petak dinamai Perancis, nama pemilik diganti dengan Kapten," tambahnya.

Syaifuddin menjelaskan bahwa virus yang ada pada bibit cabai itu belum ada obatnya di Indonesia dan harus ke China untuk mendapatkan obatnya. Sifat virus itu mematikan tananam lokal dan mengendap di tanah yang sudah ditanami cabai bervirus tersebut.

"Virus ini lebih lama penyebarannya dibanding jamur tapi penyakitnya tidak cepat hilang, tidak mudah mati, jadi lebih berbahaya. Walaupun tanaman cabainya sudah mati tapi virusnya masuk tanah. Kalau diganti tanaman cabe lain, benih dari Indonesia maka tetap nular. bisa mematikan tanaman lain dan menyebar di sekitarnya," jelas Nur Syaifuddin.

Politik Dagang

Merebaknya bibit cabai asal negerinya Jet Li di Indonesia saat ini menurut Nur lebih dekat dengan politik penguasaan pasar ketimbang dikaitkan dengan naiknya harga cabai yang melambung tinggi saat ini.

"Saya lebih ke politik melihatnya, bawa bibit sedikit, yang tanam tidak tahu ada penyakit," katanya.

Menurutnya secara politik dengan menyebarkan bibit cabai yang bervirus ini menjadikan tanaman cabai lokal Indonesia mati. Sementara cabai yang dibawa dari China bisa menguasai lahan-lahan yang ada di Indonesia.

Di Grabag Magelang, kata Nur Syaifuddin, merupakan sentra tanaman hortikultural terutama cabai. Jika tanamannya terkena virus maka membuka peluang pasar China menguasai.

"Kalau tanaman stress kurang air langsung kena. Virus asal tanaman sehat tidak kena, tapi kalau tanaman hari ini sehat kemudian besok kurang air, maka ia stress pasti akan kena virus. Virus ini hanya bisa meracuni tanaman yang satu familiy dengan cabai. Ini daerah sentra cabai maka kalau kena virus bisa dimasuki pasar China."

Syaifuddin mengatakan bibit cabai Indonesia lebih mahal ketimbang bibit cabai asal China.

"Lebih murah China. "Kita satu amplop di pengecer harga 110-150 ribu, hanya isi 10 gram, 2000-2300 biji itu pun tidak tumbuh semua, daya tumbuh hanya 95%. kalau bibit dari China ini belum tahu daya tumbuhnya."

Seperti kasus di Grabag, Magelang, petani hanya membutuhkan sedikit bibit untuk mendapatkan hasil yang besar.

"Tanah 764 m2 (Grabag) hanya butuh ½ amplop atau 5 gram, sekitar 600 batang dengan hasil normal 1 pohon 1,2-1,5 kg," ungkap pria ramah ini.

Perkara cabai China ini tampaknya sangat serius, tetapi pihak Dinas Pertanian tidak mampu mencegah dengan segera karena harus membuktikan dahulu agar tidak melanggar undang-undang.

"Kalau tidak boleh menanam, kita juga tidak bisa, nanti melanggar UU. Jadi sebatas mengawasi, jika ada penyakit yang belum ada kita musnahkan. Patek pun yang bersifat jamur jika ada di cabai kita langsung musnahkan, karena cepat menyebar."

BACA JUGA: Positif mengandung virus, petani Magelang dilarang menanam cabai Dragon Chili

Nur Syaifuddin juga menjelaskan sebenarnya di Sleman sendiri sebelumnya tidak ada Virus Bule. Tidak ada cabai di Sleman terkena virus tersebut. Tetapi setelah ada misi Taiwan tahun 2003-2004 yang mengujicobakan cabai varietas China maka Virus Bule menyerang cabai lokal. Sementara, para petani yang menanam bibit cabai China itu bersifat tertutup dan tidak ada pendampingan.

"Takutnya itu, apalagi kalau belum ada peptisida yang bisa menangani maka harus ke China. Saya melihatnya ke politik, mematikan produk cabai Indonesia. Belum ada pemusnahan hingga sekarang," katanya dengan kuatir. Nah, bagaimana tuh? |Syidiq Syaiful Ardli|Frenda Yentin|

Media

back to top