Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Indonesia bisa swasembada daging dalam 5 tahun

Indonesia bisa swasembada daging dalam 5 tahun
Surabaya – KoPi | Kebutuhan daging Indonesia selama ini lebih banyak terpenuhi melalui impor. Akibatnya harga daging sering kali tidak stabil dan memberatkan masyarakat. Rencana pemerintah agar Indonesia bisa mencapai swasembada daging sudah muncul sejak masa pemerintahan SBY. Namun pelaksanaannya masih terkendala kebijakan yang tidak seragam.
 

“Swasembada daging itu tidak perlu sampai 30 tahun. Indonesia sebenarnya bisa swasembada daging dalam 5 tahun, hanya saja yang dibutuhkan adalah koordinasi pemerintah,” tutur Herry Agoes Hermadi, Guru Besar Ilmu Kemajiran Universitas Airlangga.

Selama ini swasembada daging terkendala masalah reproduksi. Masalah penyakit reproduksi pada ternak juga masih tidak banyak dipahami oleh peternak. Di sisi lain, peternak tradisional enggan menyembelih hewan ternak mereka karena hewan ternak merupakan harta bagi mereka.

Masalah kesehatan reproduksi ternak bisa dipecahkan dengan membekali peternak dan petugas inseminasi dengan pengetahuan mengenai penyakit reproduksi ternak. “Misalnya kalau terkena endometritis atau peradangan pada rahim ternak, maka cukup diberi larutan obat merah,” jelas Herry.

Herry mengatakan Jawa Timur sudah ditetapkan sebagai lumbung sampi nasional. Karena itu, perlu dilakukan penguatan pada peternak dan sumber daya manusia di Balai Besar Inseminasi Buatan (BIB). Hewan-hewan ternak juga perlu dikarantina sebagai upaya pencegahan masuk penyakit dari luar negeri, dan tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina (HPHK).

“Penyediaan stok sperma ternak yang berkualitas di bank sperma bisa menjadi cara untuk mengatasi masalah reproduksi ternak. Daripada kawin alami, lebih efektif lewat inseminasi buatan. Satu vial sperma bisa dipakai untuk 500 kali kawin suntik. Tapi dari segi kualitas tentu lebih baik kawin alami,” ujar dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Unair ini.

 

back to top