Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Indonesia bisa swasembada daging dalam 5 tahun

Indonesia bisa swasembada daging dalam 5 tahun
Surabaya – KoPi | Kebutuhan daging Indonesia selama ini lebih banyak terpenuhi melalui impor. Akibatnya harga daging sering kali tidak stabil dan memberatkan masyarakat. Rencana pemerintah agar Indonesia bisa mencapai swasembada daging sudah muncul sejak masa pemerintahan SBY. Namun pelaksanaannya masih terkendala kebijakan yang tidak seragam.
 

“Swasembada daging itu tidak perlu sampai 30 tahun. Indonesia sebenarnya bisa swasembada daging dalam 5 tahun, hanya saja yang dibutuhkan adalah koordinasi pemerintah,” tutur Herry Agoes Hermadi, Guru Besar Ilmu Kemajiran Universitas Airlangga.

Selama ini swasembada daging terkendala masalah reproduksi. Masalah penyakit reproduksi pada ternak juga masih tidak banyak dipahami oleh peternak. Di sisi lain, peternak tradisional enggan menyembelih hewan ternak mereka karena hewan ternak merupakan harta bagi mereka.

Masalah kesehatan reproduksi ternak bisa dipecahkan dengan membekali peternak dan petugas inseminasi dengan pengetahuan mengenai penyakit reproduksi ternak. “Misalnya kalau terkena endometritis atau peradangan pada rahim ternak, maka cukup diberi larutan obat merah,” jelas Herry.

Herry mengatakan Jawa Timur sudah ditetapkan sebagai lumbung sampi nasional. Karena itu, perlu dilakukan penguatan pada peternak dan sumber daya manusia di Balai Besar Inseminasi Buatan (BIB). Hewan-hewan ternak juga perlu dikarantina sebagai upaya pencegahan masuk penyakit dari luar negeri, dan tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina (HPHK).

“Penyediaan stok sperma ternak yang berkualitas di bank sperma bisa menjadi cara untuk mengatasi masalah reproduksi ternak. Daripada kawin alami, lebih efektif lewat inseminasi buatan. Satu vial sperma bisa dipakai untuk 500 kali kawin suntik. Tapi dari segi kualitas tentu lebih baik kawin alami,” ujar dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Unair ini.

 

back to top