Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda
Indonesia memiliki ribuan sarjana dan praktisi pertanian yang cemerlang. Mereka menemukan berbagai temuan jenis tanaman dan system. Tetapi sayangnya tak banyak yang digunakan. Beberapa diantaranya, bahkan hanya sekedar menjadi alat propaganda politik.

Yogyakarta-KoPi| Banyak penemuan bidang pertanian tidak terdengar di kalangan masyarakat bahkan pemerintah cenderung menutup diri terhadap perkembangannya. Seperti kasus Padi Superto, Kediri, misalnya yang memiliki keunggulan bisa dipanen dua kali tanpa memotong tanaman padinya. 

“Padi Superto awalnya padi endemik lokal asal Purworejo. Kita olah, lalu ada teman ngambil untuk kampanye Bu Mega. Kalau yang kami tanam bisa, panen dua kali. ditambah pupuk lagi bisa tumbuh lagi dan berbuah lebih banyak. Nah itu gagal, bukan tidak ada dukungan pemerintah. Tapi dicuri tadi, buat propaganda”, papar Gati.

Sementara tanggapan Prof. Andea Santosa, tentang tidak gaungnya penemuan pertanian Indonesia disebabkan oleh dua faktor. 

Pertama, kembali lagi ke pemerintah. Berdasarkan peraturan pemeritah varietas padi yang dilempar ke masyarakat harus melalui prosedur panjang dan rumit. Misal varietas padi tersebut harus melalui proses pelepasan oleh menteri pertanian. Ketika dilepas varietas tersebut harus ditanam 20 lokasi. Setelah itu harus memiliki ijin edar. Yang melali prosedur yang rumit. Itu salah satu yang menghambat mengapa karya besar peatani. 

Kedua, masalah kebijakan. Pemerintah masa orde baru pada varietas tertentu. Misal program penyeragaman petani wajib menanam padi IR 64. 

“Dengan penyeragaman itu lalu yang dimiliki petani musnah semua. Sementara kami, berusaha mengembalikan itu semua, bekerjasama dengan petani agar petani bebas menanam”, terang Prof. Andrea.

Implikasi dari penyeragaman ini, sekalipun program tersebut sukses mengantarkan Indonesia berswasembada pangan namun setelah itu kita mengalami defisit. 

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

back to top