Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Harga beras tak akan kembali murah

Harga beras tak akan kembali murah
Surabaya – KoPi | Berkat pemerintah Orde Baru, beras telah menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Meski di buku pelajaran masa SD disebutkan beberapa komunitas di Indonesia mengkonsumsi makanan lain seperti jagung atau sagu, tak bisa dibantah beras kini telah dikonsumsi secara luas di Indonesia.
Akibatnya ketika terjadi kenaikan harga beras, banyak masyarakat yang terkena dampaknya. Masyarakat yang tidak lagi terbiasa mengkonsumsi makanan alternatif seperti ubi dan singkong harus begitu tergantung pada beras. Berapa pun harga beras, mereka harus membelinya.

Pemerintah menyebutkan kenaikan harga beras akhir-akhir ini dikarenakan masa panen yang terlambat. Selain musim kemarau panjang, di beberapa daerah juga terjadi serangan hama dan banjir sehingga panen berkurang. 

Selain itu, ditariknya stok beras nasional untuk jatah raskin pada bulan November, Desember, dan Januari juga mempengaruhi kenaikan harga beras. Karena kekosongan tersebut, pemerintah jadi dianggap terlambat menggelontorkan beras ke pasar. Akibatnya terjadi kekosongan stok di pasar dan hal itu dimanfaatkan pedagang untuk menaikkan harga.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebelumnya mengeluarkan pernyataan bahwa harga beras akan segera turun. Hal itu karena dalam dua minggu ke depan daerah penghasil beras akan memasuki masa panen raya. KPPU berharap stok beras akan kembali membanjiri pasar dan menurunkan harga.

Meski demikian, Sosiolog Kemiskinan dari Unair, Bagong Suyanto skeptis harga beras akan kembali seperti semula. Menurutnya, begitu harga suatu barang naik, akan sulit kembali hingga ke level sebelumnya. Ia yakin harga beras akan tetap tinggi, dan masyarakat miskin akan kesulitan membelinya.

“Faktor penyebabnya karena lahan persawahan yang semakin berkurang. Produksi beras kita semakin turun, akibatnya kita harus terus impor. Saya percaya harga beras akan terus naik. Kalau ini dibiarkan ancaman krisis beras di Indonesia bisa semakin nyata,” ujarnya.

 

back to top