Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Di Sleman, sawah mulai tumbuh pabrik

Di Sleman, sawah mulai tumbuh pabrik

Sleman- KoPi- Menurut Sukadi Suhartono pada tahun 1990-an wilayah Jatirejo, Sendangdadi, Sleman, Yogyakarta masih kawasan pertanian. Seiring berjalannya waktu areal sawah warga tergerus oleh bangunan.

Dahulu sawah berada di atas tanah yang sangat luas. Namun kini sawah semakin terdesak, banyak tanah yang dahulunya sawah dijadikan pertokoan, pabrik dan perumahan warga.
 
“Sawah saya dekat gudang meja kursi kayak mebel gitu, mungkin itu juga penyebab hasil sawah kurang. Bagusnya sih, lahan luas tidak terhalangi oleh bangunan agar produksi bisa maksimal. Lahan yang luas butuh sinar matahari banyak dan udara yang bebas”, tutur Sukadi.

Selain posisi sawah yang terhimpit bangunan. Sukadi menyayangkan sikap pemilik gudang yang kurang simpatik terhadap sawahnya.

“Saya diminta tanda tangan ijin bangunan ini, kayak suruh jual tanah, saya gak mau, saya merasa dirugikan. Kalau saya setuju dengan perjanjian itu, mereka nanti bebas membuang limbah, dan kotoran produksi ke tanah saya. Dahulu sempat saya memerintahkan mandor memgambil kotoran yang dibuang ke sawah. Saya mengancam bisa perkarakan hal ini”, kata Sukadi.

Kebijakan pemerintah yang tidak melindungi petani dan membebaskan pihak pengusaha mendirikan gudang, pabrik dan pengembang perumahan membuat para petani beralih profesi. Secara umum jumlah petani di Daerah Istimwa Yogyakarta menurun mencapai 1,38 persen setiap tahun dari  495,8 ribu rumah tangga (BPS DIY, 2013).

Direktur Eksekutif Indonesia Human Rights Committee for Justice ( IHCS ), Gunawan, misalnya, ketika dimintai tanggapannya meembenarkan hilangnya motivasi masyarakat untuk bertani karena lahan dipangkas untuk pemukiman dan pendirian pabrik.

Reporter: Winda Efanur Fs

back to top