Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Anggota DPR ini anggap kasus penolakan bandara Kulonprogo tidak rasional

perwakilan WTT saat konferensi pers di LBH Jogja perwakilan WTT saat konferensi pers di LBH Jogja

Jogjakarta-KoPi| 24 September 2015 diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Selayaknya Hari nasional lainnya, berbagai seminar bahkan diskusi mewarnai peringatan Hari Tani Nasional.

Namun bagi anggota DPR RI, Adian Napitulu, SH memandang persoalan petani terutama tanah tidak untuk menjadi bahan diskusi. Berbagai persoalan menyangkut petani hanya membutuhkan rumusan, pemerintah turun menyelesaikan konflik agraria.

“Diskusi ini Rp 2 juta, saya yakin di tempat lain ada diskusi yang sama bisa menghabiskan 50 juta. Konflik ada, diskusi ada, penyelesaian tidak ada,” terang Adian saat diskusi Hari Tani Nasional.

Adian mengajak masyarakat khususya petani untuk bergerak. Bukan malah terjebak dalam ruang-ruang diskusi yang tidak memberikan aksi yang nyata.

“Kita cari 100 ribu orang petani yang beraksi, bukan petisi ngumpulin petisi atau 1000 tanda tangan. Yang tidak ada wujudnya. Lalu buat grup di sosmed untuk petani, kita cari 100 ribu petani,” jelas Adian.

Meski memilki keteguhan untuk membela petani, namun Adian belum memiliki keberpihakan bagi kasus petani Kulonprogo yang terancam akibat pembangunan bandara baru. Adian memandang pertemuan dengan tim Wahana Tri Tunggal (WTT) beberapa waktu yang lalu tidak menemukan kejelasan penolakan WTT.

“Saya sebenarnya malas bicara Kulonprogo. Kalau ditanya soal alasan pembangunan bandara alasannya tidak mau pindah. Tidak mau saja. Kasih alasan yang tepat dan rasional. Kami tidak mau pindah. Kenapa tidak mau bandara, saya butuh alasan yang kuat,” ungkap Adian.

Saat ini proses hukum sengketa bandara Kulonprogo telah memasuki tahap kasasi Mahkamah Agung RI.

Menurut Ketua WTT, Martono tinggal menunggu putusan dari Mahkamah Agung. “Awalnya putusan pada tanggal 23 September namun diundur minggu depan.”

Dalam hal ini Adian menolak memberikan tanggapan mengenai perkara hukum yang dijalani oleh WTT.

Secara terpisah Anggota Komnas HAM Dianto Bachriadi, Ph.D mendukung warga WTT, dirinya tidak mempermasalahkan alasan penolakan WTT pindah dari Temon Kulonprogo, justru mempertanyakan ulang putusan Pemda memilih lokasi Temon untuk pembangunan bandara yang nota bene lahan pertanian subur. |Winda Efanur FS|

back to top