Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Anggota DPR ini anggap kasus penolakan bandara Kulonprogo tidak rasional

perwakilan WTT saat konferensi pers di LBH Jogja perwakilan WTT saat konferensi pers di LBH Jogja

Jogjakarta-KoPi| 24 September 2015 diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Selayaknya Hari nasional lainnya, berbagai seminar bahkan diskusi mewarnai peringatan Hari Tani Nasional.

Namun bagi anggota DPR RI, Adian Napitulu, SH memandang persoalan petani terutama tanah tidak untuk menjadi bahan diskusi. Berbagai persoalan menyangkut petani hanya membutuhkan rumusan, pemerintah turun menyelesaikan konflik agraria.

“Diskusi ini Rp 2 juta, saya yakin di tempat lain ada diskusi yang sama bisa menghabiskan 50 juta. Konflik ada, diskusi ada, penyelesaian tidak ada,” terang Adian saat diskusi Hari Tani Nasional.

Adian mengajak masyarakat khususya petani untuk bergerak. Bukan malah terjebak dalam ruang-ruang diskusi yang tidak memberikan aksi yang nyata.

“Kita cari 100 ribu orang petani yang beraksi, bukan petisi ngumpulin petisi atau 1000 tanda tangan. Yang tidak ada wujudnya. Lalu buat grup di sosmed untuk petani, kita cari 100 ribu petani,” jelas Adian.

Meski memilki keteguhan untuk membela petani, namun Adian belum memiliki keberpihakan bagi kasus petani Kulonprogo yang terancam akibat pembangunan bandara baru. Adian memandang pertemuan dengan tim Wahana Tri Tunggal (WTT) beberapa waktu yang lalu tidak menemukan kejelasan penolakan WTT.

“Saya sebenarnya malas bicara Kulonprogo. Kalau ditanya soal alasan pembangunan bandara alasannya tidak mau pindah. Tidak mau saja. Kasih alasan yang tepat dan rasional. Kami tidak mau pindah. Kenapa tidak mau bandara, saya butuh alasan yang kuat,” ungkap Adian.

Saat ini proses hukum sengketa bandara Kulonprogo telah memasuki tahap kasasi Mahkamah Agung RI.

Menurut Ketua WTT, Martono tinggal menunggu putusan dari Mahkamah Agung. “Awalnya putusan pada tanggal 23 September namun diundur minggu depan.”

Dalam hal ini Adian menolak memberikan tanggapan mengenai perkara hukum yang dijalani oleh WTT.

Secara terpisah Anggota Komnas HAM Dianto Bachriadi, Ph.D mendukung warga WTT, dirinya tidak mempermasalahkan alasan penolakan WTT pindah dari Temon Kulonprogo, justru mempertanyakan ulang putusan Pemda memilih lokasi Temon untuk pembangunan bandara yang nota bene lahan pertanian subur. |Winda Efanur FS|

back to top