Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Anggota DPR ini anggap kasus penolakan bandara Kulonprogo tidak rasional

perwakilan WTT saat konferensi pers di LBH Jogja perwakilan WTT saat konferensi pers di LBH Jogja

Jogjakarta-KoPi| 24 September 2015 diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Selayaknya Hari nasional lainnya, berbagai seminar bahkan diskusi mewarnai peringatan Hari Tani Nasional.

Namun bagi anggota DPR RI, Adian Napitulu, SH memandang persoalan petani terutama tanah tidak untuk menjadi bahan diskusi. Berbagai persoalan menyangkut petani hanya membutuhkan rumusan, pemerintah turun menyelesaikan konflik agraria.

“Diskusi ini Rp 2 juta, saya yakin di tempat lain ada diskusi yang sama bisa menghabiskan 50 juta. Konflik ada, diskusi ada, penyelesaian tidak ada,” terang Adian saat diskusi Hari Tani Nasional.

Adian mengajak masyarakat khususya petani untuk bergerak. Bukan malah terjebak dalam ruang-ruang diskusi yang tidak memberikan aksi yang nyata.

“Kita cari 100 ribu orang petani yang beraksi, bukan petisi ngumpulin petisi atau 1000 tanda tangan. Yang tidak ada wujudnya. Lalu buat grup di sosmed untuk petani, kita cari 100 ribu petani,” jelas Adian.

Meski memilki keteguhan untuk membela petani, namun Adian belum memiliki keberpihakan bagi kasus petani Kulonprogo yang terancam akibat pembangunan bandara baru. Adian memandang pertemuan dengan tim Wahana Tri Tunggal (WTT) beberapa waktu yang lalu tidak menemukan kejelasan penolakan WTT.

“Saya sebenarnya malas bicara Kulonprogo. Kalau ditanya soal alasan pembangunan bandara alasannya tidak mau pindah. Tidak mau saja. Kasih alasan yang tepat dan rasional. Kami tidak mau pindah. Kenapa tidak mau bandara, saya butuh alasan yang kuat,” ungkap Adian.

Saat ini proses hukum sengketa bandara Kulonprogo telah memasuki tahap kasasi Mahkamah Agung RI.

Menurut Ketua WTT, Martono tinggal menunggu putusan dari Mahkamah Agung. “Awalnya putusan pada tanggal 23 September namun diundur minggu depan.”

Dalam hal ini Adian menolak memberikan tanggapan mengenai perkara hukum yang dijalani oleh WTT.

Secara terpisah Anggota Komnas HAM Dianto Bachriadi, Ph.D mendukung warga WTT, dirinya tidak mempermasalahkan alasan penolakan WTT pindah dari Temon Kulonprogo, justru mempertanyakan ulang putusan Pemda memilih lokasi Temon untuk pembangunan bandara yang nota bene lahan pertanian subur. |Winda Efanur FS|

back to top