Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

AB2TI: Indonesia kehilangan 5 juta petani selama 10 tahun

AB2TI: Indonesia kehilangan 5 juta petani selama 10 tahun

Bogor-KoPi| Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) melakukan rapat umum anggota ke empat 17-18 November 2015. Rapat tersebut dihadiri anggota dari 74 kabupaten dari 8 provinsi. Pertemuan dengan tema "Konsolidasi Petani Indonesia: Mewujudkan Benih Unggul dan Teknologi Karya Petani Indonesia' tersebut menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi.

Dwi Andreas Santosa dalam siaran pressnya menyampaikan kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan itu diantaranya pembangunan pertanian selama 40 tahun terakhir ini semakin meminggirkan petani kecil. Petani hanya sebagai obyek pembangunan pertanian dengan program dan pelaksanaan program yang ditentukan pemerintah tanpa melibatkan petani.

Petani sebagai pengembang benih dan teknologi juga sangat dibatasi geraknya melalui berbagai Undang-Undang dan peraturan yang membatasi kreatifitas mereka. Program pembangunan pertanian dalam kerangka Revolusi Hijau juga telah menghancurkan ekosistem pertanian serta menurunkan drastis keanekaragaman hayati pertanian. Ribuan varietas-varietas lokal karya petani kecil lenyap dan tidak pernah terselamatkan karena sistem pertanian monokultur dan mono-varietas.

Kesejahteraan petani juga semakin menurun sehingga semakin banyak petani meninggalkan dunia pertanian dan semakin sedikit generasi penerus yang berkerja di sektor pertanian. Pendapatan petani hanya Rp 1.030.000 per bulan (BPS 2014) dan lebih rendah dari Upah Minimum Propinsi (UMP) terendah di Indonesia.

Dalam sepuluh tahun terakhir (2003 – 2013) sebanyak 5 juta keluarga petani meninggalkan lahannya. Sebanyak 62,8% penduduk miskin adalah petani. Pada puncak musim panen padi Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan petani justru turun 3 bulan berturut yaitu di bulan Maret, April dan Mei 2015 (BPS 2015).

Dalam 6 bulan pertama pemerintahan saat ini (September 2014 – Maret 2015) sebanyak 570.000 petani jatuh miskin. Pada periode April – Desember 2015 diperkirakan lebih dari 1 juta petani akan jatuh miskin, karena harga pangan melonjak tinggi disaat sebagian besar petani adalah konsumen netto pangan.

back to top