Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

AB2TI: Indonesia kehilangan 5 juta petani selama 10 tahun

AB2TI: Indonesia kehilangan 5 juta petani selama 10 tahun

Bogor-KoPi| Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) melakukan rapat umum anggota ke empat 17-18 November 2015. Rapat tersebut dihadiri anggota dari 74 kabupaten dari 8 provinsi. Pertemuan dengan tema "Konsolidasi Petani Indonesia: Mewujudkan Benih Unggul dan Teknologi Karya Petani Indonesia' tersebut menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi.

Dwi Andreas Santosa dalam siaran pressnya menyampaikan kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan itu diantaranya pembangunan pertanian selama 40 tahun terakhir ini semakin meminggirkan petani kecil. Petani hanya sebagai obyek pembangunan pertanian dengan program dan pelaksanaan program yang ditentukan pemerintah tanpa melibatkan petani.

Petani sebagai pengembang benih dan teknologi juga sangat dibatasi geraknya melalui berbagai Undang-Undang dan peraturan yang membatasi kreatifitas mereka. Program pembangunan pertanian dalam kerangka Revolusi Hijau juga telah menghancurkan ekosistem pertanian serta menurunkan drastis keanekaragaman hayati pertanian. Ribuan varietas-varietas lokal karya petani kecil lenyap dan tidak pernah terselamatkan karena sistem pertanian monokultur dan mono-varietas.

Kesejahteraan petani juga semakin menurun sehingga semakin banyak petani meninggalkan dunia pertanian dan semakin sedikit generasi penerus yang berkerja di sektor pertanian. Pendapatan petani hanya Rp 1.030.000 per bulan (BPS 2014) dan lebih rendah dari Upah Minimum Propinsi (UMP) terendah di Indonesia.

Dalam sepuluh tahun terakhir (2003 – 2013) sebanyak 5 juta keluarga petani meninggalkan lahannya. Sebanyak 62,8% penduduk miskin adalah petani. Pada puncak musim panen padi Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan petani justru turun 3 bulan berturut yaitu di bulan Maret, April dan Mei 2015 (BPS 2015).

Dalam 6 bulan pertama pemerintahan saat ini (September 2014 – Maret 2015) sebanyak 570.000 petani jatuh miskin. Pada periode April – Desember 2015 diperkirakan lebih dari 1 juta petani akan jatuh miskin, karena harga pangan melonjak tinggi disaat sebagian besar petani adalah konsumen netto pangan.

back to top