Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

UN online jangan hanya jadi reformasi kosmetik pendidikan Indonesia

UN online jangan hanya jadi reformasi kosmetik pendidikan Indonesia
Surabaya – KoPi | Kebijakan pemerintah melangsungkan Ujian Nasional dengan sistem Online diharapkan dapat meminimalisir adanya kecurangan. Namun, apakah UN online ini akan memiliki dampak pada siswa?

Menurut Tuti Budiahayu, pakar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, kecurangan yang terjadi saat UN lebih dikarenakan persoalan distribusi soal ujian dan keamanan dari pembuat soal ujian itu sendiri. Artinya, kecurangan dari UN didukung oleh sistem di sekitarnya.

Misalnya, guru sengaja mengendorkan pengawasan saat ujian demi menjaga reputasi sekolahnya. Sekolah ketakutan siswa mereka tidak lulus dan berdampak pada nama baik sekolah tersebut. Bukan hanya itu, bahkan beberapa orang tua wali murid juga mendukung perilaku kecurangan tersebut.

“Kadang ada orang tua murid yang men-support siswa untuk melakukan kecurangan saat UN, dengan turut membayari siswa untuk membeli jawaban dari joki,” ujar Tuti. Dosen Sosiologi Universitas Airlangga ini sependapat jika UN online dapat meminimalisir adanya kecurangan dalam UN, asalkan kerahasiaannya terjamin.

Mungkinkah akan ada bentuk kecurangan baru yang muncul dalam UN online ini? Menurut Tuti hal itu tergantung dari bagaimana sistem pendukungnya. Misalnya peran guru, orangtua, dan juga sekolah. “Karena perilaku menyimpang akan terus muncul mengikuti celah yang ada,” tuturnya.

Tuti meyakini kebijakan Mendikbud yang memutuskan UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan merupakan langkah besar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun ia berharap kebijakan ini tidak akan hanya berhenti di situ. Peningkatan kualitas pendidikan masih harus terus dilakukan, terutama integritas para siswa. Jika siswa memiliki integritas yang tinggi dalam dirinya maka berbagai bentuk kecurangan akan hilang sendiri secara perlahan-lahan.

“Jangan sampai ini hanya menjadi sebatas reformasi kosmetik pendidikan, di mana pemerintah mengabaikan persoalan moral etika dan kualitas pembelajaran di sekolah. Semestinya hal-hal tersebut lebih patut untuk diperhatikan pemerintah,” ungkapnya. | Labibah

back to top