Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Uji Kelayakan: S1 Maksimal 5 Tahun

Uji Kelayakan: S1 Maksimal 5 Tahun

Winda Efanur FS, Amanullah Ginanjar W


Yogyakarta-KoPi, Idealnya kuliah S1 (strata satu) ditempuh dengan waktu 8 semester atau 4 tahun dengan menghabiskan 144 beban sks. Ketika wacana pembatasan kuliah maksimal 5 tahun bukanlah menjadi masalah.

Demikian inti dari pernyataan Dosen Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga Tuti Budi Rahayu. Kebijakan itu memang layak dilakukan. Mahasiswa menjadi lebih terpacu untuk segera menyelesaikan masa studinya.

“Hal itu karena beban biaya pendidikan di Indonesia yang masih mahal. Dengan segera menyelesaikan masa studinya, mahasiswa bisa menghemat biaya. Dari segi pengelolaan pembelajaran, terlalu banyak mahasiswa yang tidak lulus akan menjadi beban bagi institusi. Misalnya, dosen harus terus menerus melayani mahasiswa yang tidak segera lulus. Itu akan menjadi beban, baik pada dosen maupun mahasiswa tersebut”, kata Tuti Budi.

Sekilas pandangan itu muncul dari segi keuntungan universitas. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang notabene objek dari kebijakan tersebut. Justru sanggahan dilontarkan oleh Wapresma UIN Sunan Kalijaga Yogykarta, Badriyanto. Wacana pemangkasan kuliah dari 14 semester (7 tahun ) menjadi 10 semster (5 tahun) merugikan mahasiswa.

Menurutnya tidak semua mahasiwa puas berproses akademik. Ada mahasiswa yang mencari kepuasaan di luar kampus.

“Hal yang menghambat mereka lulus tepat waktu, misal kerja, organisasi, LSM. Ketika kerja mereka membiayai kuliah sendiri. Sehingga secerdas apapun membagi waktu harus ada yang dikorbankan.
Anehnya lagi, pihak mendikbud harus mencari solusi agar mahasiswa merasa puas dengan kuliah. Kampus saja tidak maemuaskan masih saja dijerat harus lulus 5 tahun”, sanggah Badri.

 

 

 

back to top