Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Tunjangan guru akan dihapus, siap-siap cari “sampingan”

Tunjangan guru akan dihapus, siap-siap cari “sampingan”
Surabaya-KoPi| Kebijakan pemerintahan yang ingin menghapus tunjangan profesi guru menuai amuk masa dari para kalangan guru Indonesia. Sebelumnya, dalam kampanye pilpres 2014 Joko Widodo berjanji bahwa tunjangan  profesi guru tidak akan dihapus, bahkan kerap akan ditambah.

Seperti yang diketahui, alasan pemerintah ingin menghapus tunjangan profesi guru adalah mutu beberapa guru yang menerima tunjangan terkesan buruk. Hal ini terkait dengan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara  (ASN) yang menyatakan bahwa sistem penggajian ASN tidak mengenal tunjangan profesi guru.

Kebijakan ini tentunya membuat getir bagi para guru di Indonesia. Sebab, gaji yang tidak seberapa harus kembali mengecil dengan hilangnya tunjangan profesi guru.

Situasi ini kemudian memunculkan dorongan bagi beberapa individu untuk mencari peluang lain. Seperti yang dilakukan oleh Irfan, seorang guru asal Bandung ini mengantisipasi kekurangan gaji guru dengan cara berjualan.

“Sebenarnya saya berjualan herbal dari tahun lalu. Ini saya lakukan karena gaji guru yang didapatkan masih kurang untuk biaya hidup. Tapi sampingan ini bukan berarti meninggalkan saya untuk mengabdi pada negeri dengan cara mengajar,” ujar Irfan kepada KoPi senin (28/09).

Bagi Irfan, guru adalah abdi. Sehingga penghasilan yang didapatkan bukanlah pencapaian seseorang. “Cari sampingan pekerjaan yang tidak terlalu merepotkan, tapi bisa berpenghasilan lebih. Menjadi guru adalah mencari pahala, kalo mencari gaji, masih ada cara lain,” tutur Irfan.

Wanny, guru asal Sidoarjo juga melakukan hal yang sama. Ia berjualan beras untuk memenuhi kebutuhan penghasilannya.

“Pendapatan menjadi guru tidak cukup untuk kebutuhan hidup. Jualan beras memang tidak besar hasilnya, tapi bisa menunjang,” tutupnya.

Meskipun peluh mereka dalam mendidik anak bangsa, para guru ikhlas dengan bayaran seadanya. Walaupun harus menjalankan kerja sampingan, mereka tetap ikhlas menjalankan peran seorang pendidik. |Labibah|

back to top