Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Tradisi Carok, antara kekerasan dan harga diri

Tradisi Carok, antara kekerasan dan harga diri

Surabaya-KoPi | Menurut Muhammad Fadillah Ketua Tim PKM, carok adalah tradisi pembelaan harga diri yang sudah menjadi kebudayaan yang sangat melekat di daerah Madura, dimana disini jika ada seseorang yang merasa diinjak-injak harga dirinya akan menantang duel orang yang menghinanya tersebut dengan menggunakan celurit.

Harga diri dalam carok adalah nomor satu dan sangat dijunjung tinggi, tetapi kelompok PKMP Soshum disini memberikan sentuhan baru daripada penelitian-penelitian carok yang sudah ada sebelumnya. Disini tim PKMP-Soshum Carok datang dengan ide baru dan data-data baru yang lebih valid, tim PKMP-Soshum Carok sendiri menemukan beberapa data-data baru yang belum pernah ditemukan di penelitian-penelitian Carok yang sebelumnya.

Tim PKMP-Soshum Carok disini lebih menekankan kepada pergeseran makna Carok itu sendiri, dimana yang dulunya Carok terjadi karena adanya hanya hal-hal serius seperti perebutan perempuan, tanah warisan, dan lain-lain. Sekarang mengalami pergeseran dimana hanya karena salah perkataan atau menerima hinaan yang sepele bisa terjadi Carok.

Menurut salah satu anggota tim PKMP-Soshum Carok yaitu Fadhli Zul, timnya disini ingin memfokuskan pandangan orang-orang yang berada di luar Madura agar tidak memandang bahwa segala bentuk kekerasan yang dilakukan dengan memakai celurit di daerah Madura adalah tradisi carok dan juga ingin memperlihatkan data baru yang belum ada pada penelitian-penelitian carok sebelumnya tentang pergeseran-pergeseran tradisi carok pada zaman sekarang ini yang sudah berubah dari tradisi carok pada awalnya.

Adapun harapan dari Tim PKMP-Soshum Carok ini adalah semoga dengan enelitian ini diharapkan dapat mengungkap arti sebenarnya carok dan alasan mengapa carok ini menjadi pilihan solusi untuk menyelesaikan konflik, sehingga dari hasil analisis ini dapat dipublikasikan kepada masyarakat baik di Madura sendiri serta di luar Madura, supaya masyarakat banyak dapat mengetahui kebenaran tentang carok yang dianggap sebagai tradisi Madura.

Sebagai upaya dari perbaikan dan mengubah cara pandang masyarakat tentang carok, dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan strategi-strategi sebagai upaya dari pihak pemerintah atau kepolisian dapat mengurangi kasus-kasus carok atau bahkan menghilangkan carok ini, karena meskipun dianggap sebagai sebuah tradisi, tapi banyak masyarakat juga yang tidak mau atau setuju bahwa carok dianggap budaya masyarakat Madura.

Semoga penelitian tentang carok dari para mahasiswa Fisip UA ini mampu berkontribusi baik untuk perubahan masyarakat. | A. Ginanjar

back to top