Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Toleransi Kehidupan Beragama: Upaya Membangun Masyarakat yang Harmonis

Toleransi Kehidupan Beragama: Upaya Membangun Masyarakat yang Harmonis

KoPi| Meskipun manusia terdiri dari banyak golongan agama, namun secara sosial pada hakekatnya manusia adalah kesatuan yang tunggal. Untuk itu, perbedaan golongan hendaknya bisa dijadikan sarana pendorong untuk saling mengenal, saling memahami dan saling berhubungan.

Ini akan mengantarkan setiap golongan itu kepada kesatuan dan kesamaan pandangan dalam membangun dunia yang diamanatkan Tuhan kepadanya. “Agree in Disagreement“ merupakan ungkapan yang cocok untuk hal ini. Prinsip yang selalu didengungkan oleh Prof. DR. H. Mukti Ali pada jamannya itu bermakna bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan. Karena perbedaan selalu ada di dunia ini, maka perbedaan tidak harus menimbulkan pertentangan.
Mewujudkan kerukunan dan toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama merupakan bagian usaha menciptakan kemaslahatan umum serta kelancaran hubungan antara manusia yang berlainan agama.

Upaya tersebut sejalan dengan visi dan misi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang hendak membentuk generasi muda yang unggul inklusif, humanis dan berintegritas. Untuk itu, Unit Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK-UAJY) menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema, “Toleransi Kehidupan Beragama: Upaya Membangun Masyarakat yang Harmonis” di Ruang Auditorium Kampus II, Gedung Thomas Aquinas, Babarsari pada Sabtu, 31 Oktober 2015.

Kuliah Umum yang dihadiri lebih dari 300 mahasiswa ini menghadirkan 3 pembicara, masing-masing adalah Dr. Anak Agung Suryahadi (Birokrat dari PPPG), Rm. P. Tri Wahyu Widiantoro, Pr. (UAJY), dan Dr. Inayah Rochmaniyah, MA (UIN Sunan Kalijaga). Sedangkan Dr. Y. Agus Tridiatno, MA bertindak sebagai moderator.

Disampaikan oleh Dr. Anak Agung Suryahadi, bahwa agama Hindu tidak bermasalah dengan toleransi. Hal ini sudah dibuktikan sejak berabad-abad yang lalu ketika jaman kerajaan Hindu tumbuh subur di Indonesia. Pada masa itu agama Hindu mampu hidup rukun dengan agama-agama lain. Bahkan di Bali juga ada tempat-tempat seperti kuil yang ditujukan untuk menyembah/menghormati tokoh-tokoh agama lain.

Sedangkan menurut Rm. P. Tri Wahyu Widiantoro, Pr., terdapat dua macam toleransi, yaitu toleransi statis dan toleransi dinamis. Toleransi statis adalah “toleransi dingin” tidak melahirkan kerjasama hanya bersifat teoritis.

Sedangkan toleransi dinamis adalah toleransi aktif melahirkan kerja sama untuk tujuan bersama, sehingga kerukunan antar umat beragama bukan dalam bentuk teoritis, tetapi sebagai refleksi dari kebersamaan umat beragama sebagai satu bangsa. Harus ditegaskan bahwa, "Toleransi adalah demi untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia sehingga toleransinya adalah toleransi aktif, yang meliputi terciptanya dialog dan kerja sama antara umat beragama," demikian pungkasnya.

Menurut Dr. Inayah Rochmaniyah, MA, Dosen matakuliah Radikalisme Agama di UIN Sunan Kalijaga sekaligus aktivis gender ini, dalam tataran normatif, Islam sangat toleran, damai, agama yang menganjurkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi sesamanya. Bahkan Islam memberikan perhatian khusus terhadap agama lain khususnya Kristen dan Yahudi, dengan kedua agama ini Islam mempunyai hubungan yang erat.

Islam mengakui bahwa kedua agama ini berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu, Islam adalah agama yang bersifat toleran, yang eksistensinya tidak tersekat oleh ruang dan waktu. Ia merupakan agama sepanjang sejarah kemanusiaan yang dibawa oleh Muhammad SAW , Nabi dan Rasul Allah SWT. Sumber dari watak toleran tersebut sebenarnya berpangkal dari pengertian ‘Islam” itu sendiri, yang tak lain bermakna sebagai damai, tunduk, menyerah dan taat.

Meskipun demikian, menurut Inayah, Islam dalam tataran teks sering timbul berbagai masalah. Hal ini disebabkan karena wahyu ditulis dalam teks sehingga kualitasnya pun tergantung kepada para penulis teks, penafsirannya, dan sebagainya. Dalam tataran living Islam, yakni Islam dalam keseharian sering timbul berbagai tindak kekerasan. Namun secara mainstream, terutama di kalangan grass root, “Sesungguhnya Islam amat merindukan Pancasila sebagai dasar penyelenggara kehidupan bernegara yang penuh toleransi,” tegasnya. (One 2/11)

back to top