Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Bedah Buku Tan Malaka di UGM berjalan Aman

Bedah Buku Tan Malaka di UGM berjalan Aman

Jogja-KoPi, Bedah Buku “Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia” oleh Harry A. Poeze berjalan aman dan lancar di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Selasa sore (18/2/2014)

Acara yang sempat mendapat kecaman di berbagai provinsi nusantara ini akhirnya berlangsung dengan tertib dan lancar di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta dan dihadiri puluhan mahasiswa, meskipun sempat mengalami kemoloran selama 1,5 jam yang disebabkan keterlambatan perjalanan Harry A Poeze dari Salatiga menuju Yogyakarta. Untuk mengisi kemoloran tersebut Eko Prasetyo turut menjadi pembicara dadakan.

Menanggapi berbagai penolakan yang dialaminya di Indonesia, Harry berujar,Tan Malaka sendiri sudah keluar dari PKI di tahun 1927. Kalau ada yang berpikiran acara seperti ini untuk menghidupkan ajaran komunis, itu salah.

"Saya sendiri bukan komunis, saya adalah peneliti Tan Malaka ," tegasnya dalam diskusi.

Menanggapi kasus kecaman yang sempat terjadi di kota lain dalam bedah buku ini Yuris Reza,Ketua Dewan Mahasiswa berkomentatar.

”Bedah buku ini di adakan hanya untuk wadah pembelajaran, seperti pada diskusi tadi saya sampaikan bahwa sama halnya dengan belajar sejarah, harapannya dengan salah satu buku yang berisi dengan salah satu tokoh Indonesia Tan Malaka ini kita bedah, maka kita bias tau sejarah, gagasan-gagasan dan ide dia yang bagus bisa kita terapkan di masa yang sekarang. Jadi kalau kemarin-kemarin ada penolakan, saya pikir, saya memilih tempat di kampus karena memang ini sebagai ruang diskusi, dan saya harapkan kita akan berdiskusi secara akademis, bukan secara yang lain.”

Berbea denga reaksi berelbihan di Surabaya dan Semarang, acara bedah buku di Jogja ini tidak mendapatkan kecaman dari pihak manapun.


Reportera;  Hari N.

back to top