Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Bedah Buku Tan Malaka di UGM berjalan Aman

Bedah Buku Tan Malaka di UGM berjalan Aman

Jogja-KoPi, Bedah Buku “Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia” oleh Harry A. Poeze berjalan aman dan lancar di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Selasa sore (18/2/2014)

Acara yang sempat mendapat kecaman di berbagai provinsi nusantara ini akhirnya berlangsung dengan tertib dan lancar di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta dan dihadiri puluhan mahasiswa, meskipun sempat mengalami kemoloran selama 1,5 jam yang disebabkan keterlambatan perjalanan Harry A Poeze dari Salatiga menuju Yogyakarta. Untuk mengisi kemoloran tersebut Eko Prasetyo turut menjadi pembicara dadakan.

Menanggapi berbagai penolakan yang dialaminya di Indonesia, Harry berujar,Tan Malaka sendiri sudah keluar dari PKI di tahun 1927. Kalau ada yang berpikiran acara seperti ini untuk menghidupkan ajaran komunis, itu salah.

"Saya sendiri bukan komunis, saya adalah peneliti Tan Malaka ," tegasnya dalam diskusi.

Menanggapi kasus kecaman yang sempat terjadi di kota lain dalam bedah buku ini Yuris Reza,Ketua Dewan Mahasiswa berkomentatar.

”Bedah buku ini di adakan hanya untuk wadah pembelajaran, seperti pada diskusi tadi saya sampaikan bahwa sama halnya dengan belajar sejarah, harapannya dengan salah satu buku yang berisi dengan salah satu tokoh Indonesia Tan Malaka ini kita bedah, maka kita bias tau sejarah, gagasan-gagasan dan ide dia yang bagus bisa kita terapkan di masa yang sekarang. Jadi kalau kemarin-kemarin ada penolakan, saya pikir, saya memilih tempat di kampus karena memang ini sebagai ruang diskusi, dan saya harapkan kita akan berdiskusi secara akademis, bukan secara yang lain.”

Berbea denga reaksi berelbihan di Surabaya dan Semarang, acara bedah buku di Jogja ini tidak mendapatkan kecaman dari pihak manapun.


Reportera;  Hari N.

back to top