Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Skripsi diganti pengabdian masyarakat, tidak tepat

arifdwijanrko.wordpress.com arifdwijanrko.wordpress.com
Jogjakarta-KoPi| Banyak pihak memandang skripsi penuh dengan masalah entah masalah muncul dari plagiasi atau kualitas skripsi menggugurkan syarat kelulusan semata. 
 
Wacana Kemenristek Muh Nasir tidak mewajibkan skripsi sebagai syarat kelulusan namun bisa menggantinya dengan pengabdian masyarakat juga berpotensi masalah.
 
Menurut mahasiswa HI UGM, Mochammad Kukuh Susanto mengatakan wacana pemerintah mengganti skripsi dengan opsi pengabdian ke masyarakat keliru. Pasalnya mengabdi ke masyarakat adalah kewajiban bagi semua mahasiswa, bukan sekedar syarat kelulusan.
 
Hal senada juga dipaparkan oleh Koordinator Kopertis V Jogjakarta, Bambang Supriyadi model pengabdian masyarakat seperti KKN belum berperan penting dalam masyarakat.
 
“Apalagi contoh KKN yang bareng-bareng. Kalau mengembangkan dari kerja praktek itu mungkin terus dia angkat dari skripsinya, ini diteliti latar belakangnya, dari data kerja praktek bukan melaksanakan pengabdian masyarakat itu otomatis jadi pengganti skripsi itu no way”, kata Bambang.
 
Salah satu opsi lain yang ditawarkan oleh dosen ilmu politik UGM, Abdul Ghaffar pengganti skripsi dengan magang. Kegiatan magang, atau advokasi merupakan analisis atas masalah ditunjukkan dalam tindakan dan aktivitas.
 
“Nah apapun metodenya, mahasiswa tetap harus membuat perencanaan yang matang. Dalam magang, ada laporan ringkas saja, tentang analisis atas situasi yang dihadapi, serta langkah-langkah yang dilakukan”, papar Ghaffar.
 
Sependapat dengan Ghaffar, Kukuh menyetujui laporan magang pengganti skripsi. Syaratnya laporan tersebut sesuai dengan bidang ilmu mahasiswa. Laporan bersifat ilmiah, dan memuat analisis-kritisnya. 
“Idealnya tugas akhir bisa memberi solusi atau setidaknya membantu orang lain memahami fenomena yang ada”, pungkas Kukuh. |Winda Efanur FS|
 
 
 
 
 
back to top