Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Siapkah anak nelayan mengelola laut Indonesia?

Siapkah anak nelayan mengelola laut Indonesia?
Surabaya – KoPi. Penyelenggara pendidikan perikanan Indonesia menyambut baik visi Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim. Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo Endang Suhaedy menyebut Jokowi paham bahwa kekuatan Indonesia sebenarnya ada di laut. Ia menyatakan penyelenggara pendidikan perikanan di Indonesia siap menggembleng sumber daya manusia agar mampu mengelola seluruh potensi laut Indonesia.

“Kalau pemerintahan kemarin kita menghadapnya ke darat, sekarang mari kita balik kanan menghadap ke laut. Laut kita punya segalanya. Laut itu sumber segala kehidupan,” ujar Endang.

Sebagai salah seorang yang menangani pendidikan perikanan di Indonesia, Endang sudah mempunyai beberapa terobosan. Sumber daya manusia yang paling paham mengenai masalah perikanan tentu saja pelaku usaha perikanan sendiri. Karena itu, sejak 3 tahun lalu Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo memulai dengan memberi kesempatan kepada putra-putri pelaku usaha perikanan, seperti anak nelayan tangkap, anak nelayan budidaya, anak pengolah, dan anak petani garam, untuk mengenyam pendidikan tinggi. 

“Putra-putri pelaku usaha perikanan itu banyak yang belum terjamah pendidikan tinggi. Kalau mereka berkompetisi masuk pendidikan tinggi yang lain, mereka bisa kalah bersaing dengan anak yang lain,” tuturnya.

Endang mengakui awalnya sedikit sulit, namun lama kelamaan mendidik mereka ternyata menyenangkan. Menurut kajian Endang selama mendidik mereka, anak pelaku perikanan lebih bersungguh-sungguh dalam belajar, taat dan patuh pada dosen, serta sangat religius.

Kebijakan ini awalnya hanya dilakukan di politeknik yang dulu bernama Akademi Perikanan Sidoarjo ini. Namun, kebijakan itu kini sudah diikuti oleh lembaga pendidikan lain yang berada di bawah naungan Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

“Para pimpinan Departemen Kelautan dan Perikanan berpikir bahwa putra-putri pelaku perikanan itu tidak ada yang menyentuh. Banyak berita yang menyebutkan nelayan itu miskin, tapi tidak ada yang mau memberdayakan,” ungkapnya. 

Dengan kebijakan ini, Endang yakin 5-10 tahun lagi akan berjejer putra-putri nelayan yang punya kompetensi di bidang perikanan dan kelautan. Indeks Prestasi (IP) mereka tidak kalah dengan mahasiswa lain. Kualitas mereka juga tidak kalah dengan yang lain. 

“Mungkin saat ini mereka masih mencari bentuk, tidak kembali dulu ke lingkungan awal mereka, mungkin kerja dulu di perusahaan-perusahaan dan mencari uang, dan seterusnya. Tapi lambat laun pola-pola nelayan tradisional akan mereka revolusi, seperti istilah Pak Jokowi, revolusi mental,” cetus pria asal Sumedang ini.

Selama mendidik, Endang dan dosen lain selalu mengingatkan mereka bahwa nelayan itu kaya. Ia membandingkan kalau orang di daratan mau beli motor saja harus susah payah mengumpulkan uang, tapi nelayan bisa beli kapal yang harganya berlipat-lipat dari motor. 

“Nelayan itu kaya, hanya pola pikirnya yang harus kita ubah. Kami dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo perlahan tapi pasti membentuk keluarga nelayan yang sejahtera dari dalam,” tegasnya.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top