Menu
Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

Prev Next

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Surabaya – KoPi| Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membuat orang menjadi kompeten. Namun kenyataannya kompetensi bisa diperoleh lewat pengalaman. Oleh karena itu meskipun seseorang tidak punya pendidikan secara formal mereka masih bisa memiliki kompetensi, karena mereka belajar secara mandiri.

“Kita punya contoh dari masa lalu, seperti Agus Salim dan Adam Malik. Sekarang kita punya Bu Susi Pudjiastuti. Itu kan orang-orang yang tidak punya pendidikan formal. Tapi karena mereka mau jadi pembelajar, akhirnya mereka bisa menjadi orang besar,” ujar Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Warsono.

Warsono mengingatkan tentang kritik Ivan Illich dalam bukunya yang berjudul Deschooling Society. Dalam buku tersebut Illich menyatakan sekolah itu sebenarnya sebagai penjara, dalam arti sekolah memaksa orang untuk belajar. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memang harus mengatur peserta didiknya. Orang mau belajar ini, jamnya harus ini, kurikulumnya harus ini.

“Nah, persoalannya kenapa belajar itu harus pakai dipaksa. Padahal belajar harusnya kebebasan. Kan sebetulnya ada orang-orang otodidak yang belajar tanpa terpaksa, mereka belajar sendiri. Jadi prinsipnya, pendidikan seharusnya membuat orang kompeten. Tapi untuk menjadi kompeten tidak harus selalu lewat pendidikan formal,” tukas Warsono.

Ini artinya ketika orang mau belajar, ia akan jadi orang yang kompeten. Menurut Warsono, belajar tidak harus lewat pendidikan formal. Bisa dengan bertanya pada siapa saja, bisa merenung melalui pengalaman yang dilalui dan direfleksikan, sehingga menjadi kompetensi.

“Memang kalau penganut paham formalis pasti jadi akan protes, tidak setuju. Makanya sekarang kita tanya, what can you do, bukan what do you have,” tutur pria yang sebelumnya menjabat sebagai Pembantu Rektor III Unesa tersebut.

Warsono menyatakan, fakta-fakta ini mestinya bisa memotivasi orang-orang yang mampu kuliah untuk bisa menunjukkan bahwa mereka kompetensi. Jangan sampai punya gelar tinggi, tapi tidak punya kompetensi.

back to top