Menu
Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Prev Next

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Surabaya – KoPi| Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membuat orang menjadi kompeten. Namun kenyataannya kompetensi bisa diperoleh lewat pengalaman. Oleh karena itu meskipun seseorang tidak punya pendidikan secara formal mereka masih bisa memiliki kompetensi, karena mereka belajar secara mandiri.

“Kita punya contoh dari masa lalu, seperti Agus Salim dan Adam Malik. Sekarang kita punya Bu Susi Pudjiastuti. Itu kan orang-orang yang tidak punya pendidikan formal. Tapi karena mereka mau jadi pembelajar, akhirnya mereka bisa menjadi orang besar,” ujar Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Warsono.

Warsono mengingatkan tentang kritik Ivan Illich dalam bukunya yang berjudul Deschooling Society. Dalam buku tersebut Illich menyatakan sekolah itu sebenarnya sebagai penjara, dalam arti sekolah memaksa orang untuk belajar. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memang harus mengatur peserta didiknya. Orang mau belajar ini, jamnya harus ini, kurikulumnya harus ini.

“Nah, persoalannya kenapa belajar itu harus pakai dipaksa. Padahal belajar harusnya kebebasan. Kan sebetulnya ada orang-orang otodidak yang belajar tanpa terpaksa, mereka belajar sendiri. Jadi prinsipnya, pendidikan seharusnya membuat orang kompeten. Tapi untuk menjadi kompeten tidak harus selalu lewat pendidikan formal,” tukas Warsono.

Ini artinya ketika orang mau belajar, ia akan jadi orang yang kompeten. Menurut Warsono, belajar tidak harus lewat pendidikan formal. Bisa dengan bertanya pada siapa saja, bisa merenung melalui pengalaman yang dilalui dan direfleksikan, sehingga menjadi kompetensi.

“Memang kalau penganut paham formalis pasti jadi akan protes, tidak setuju. Makanya sekarang kita tanya, what can you do, bukan what do you have,” tutur pria yang sebelumnya menjabat sebagai Pembantu Rektor III Unesa tersebut.

Warsono menyatakan, fakta-fakta ini mestinya bisa memotivasi orang-orang yang mampu kuliah untuk bisa menunjukkan bahwa mereka kompetensi. Jangan sampai punya gelar tinggi, tapi tidak punya kompetensi.

back to top