Menu
Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi jangan jauhi pelakunya

Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi …

Jogja-KoPi|Menteri Agam...

Gus Ipul akan perkuat pendidikan agama

Gus Ipul akan perkuat pendidikan ag…

Nganjuk-KoPi| Wakil Gub...

Menhub meminta PT KAI mengantisipasi bahaya longsor

Menhub meminta PT KAI mengantisipas…

Jogja-KoPi|Memasuki mus...

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah Kejuruan Industri

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah…

Jogja-KoPi|Kementerian ...

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari Komunikasi Interpersonal

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari…

Sleman-KoPi| Lulusan dari...

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untuk patroli di tutup tahun 2017

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untu…

Jogja-KoPi|Kepolisian R...

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Prev Next

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Surabaya – KoPi| Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membuat orang menjadi kompeten. Namun kenyataannya kompetensi bisa diperoleh lewat pengalaman. Oleh karena itu meskipun seseorang tidak punya pendidikan secara formal mereka masih bisa memiliki kompetensi, karena mereka belajar secara mandiri.

“Kita punya contoh dari masa lalu, seperti Agus Salim dan Adam Malik. Sekarang kita punya Bu Susi Pudjiastuti. Itu kan orang-orang yang tidak punya pendidikan formal. Tapi karena mereka mau jadi pembelajar, akhirnya mereka bisa menjadi orang besar,” ujar Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Warsono.

Warsono mengingatkan tentang kritik Ivan Illich dalam bukunya yang berjudul Deschooling Society. Dalam buku tersebut Illich menyatakan sekolah itu sebenarnya sebagai penjara, dalam arti sekolah memaksa orang untuk belajar. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memang harus mengatur peserta didiknya. Orang mau belajar ini, jamnya harus ini, kurikulumnya harus ini.

“Nah, persoalannya kenapa belajar itu harus pakai dipaksa. Padahal belajar harusnya kebebasan. Kan sebetulnya ada orang-orang otodidak yang belajar tanpa terpaksa, mereka belajar sendiri. Jadi prinsipnya, pendidikan seharusnya membuat orang kompeten. Tapi untuk menjadi kompeten tidak harus selalu lewat pendidikan formal,” tukas Warsono.

Ini artinya ketika orang mau belajar, ia akan jadi orang yang kompeten. Menurut Warsono, belajar tidak harus lewat pendidikan formal. Bisa dengan bertanya pada siapa saja, bisa merenung melalui pengalaman yang dilalui dan direfleksikan, sehingga menjadi kompetensi.

“Memang kalau penganut paham formalis pasti jadi akan protes, tidak setuju. Makanya sekarang kita tanya, what can you do, bukan what do you have,” tutur pria yang sebelumnya menjabat sebagai Pembantu Rektor III Unesa tersebut.

Warsono menyatakan, fakta-fakta ini mestinya bisa memotivasi orang-orang yang mampu kuliah untuk bisa menunjukkan bahwa mereka kompetensi. Jangan sampai punya gelar tinggi, tapi tidak punya kompetensi.

back to top