Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Surabaya – KoPi| Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membuat orang menjadi kompeten. Namun kenyataannya kompetensi bisa diperoleh lewat pengalaman. Oleh karena itu meskipun seseorang tidak punya pendidikan secara formal mereka masih bisa memiliki kompetensi, karena mereka belajar secara mandiri.

“Kita punya contoh dari masa lalu, seperti Agus Salim dan Adam Malik. Sekarang kita punya Bu Susi Pudjiastuti. Itu kan orang-orang yang tidak punya pendidikan formal. Tapi karena mereka mau jadi pembelajar, akhirnya mereka bisa menjadi orang besar,” ujar Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Warsono.

Warsono mengingatkan tentang kritik Ivan Illich dalam bukunya yang berjudul Deschooling Society. Dalam buku tersebut Illich menyatakan sekolah itu sebenarnya sebagai penjara, dalam arti sekolah memaksa orang untuk belajar. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memang harus mengatur peserta didiknya. Orang mau belajar ini, jamnya harus ini, kurikulumnya harus ini.

“Nah, persoalannya kenapa belajar itu harus pakai dipaksa. Padahal belajar harusnya kebebasan. Kan sebetulnya ada orang-orang otodidak yang belajar tanpa terpaksa, mereka belajar sendiri. Jadi prinsipnya, pendidikan seharusnya membuat orang kompeten. Tapi untuk menjadi kompeten tidak harus selalu lewat pendidikan formal,” tukas Warsono.

Ini artinya ketika orang mau belajar, ia akan jadi orang yang kompeten. Menurut Warsono, belajar tidak harus lewat pendidikan formal. Bisa dengan bertanya pada siapa saja, bisa merenung melalui pengalaman yang dilalui dan direfleksikan, sehingga menjadi kompetensi.

“Memang kalau penganut paham formalis pasti jadi akan protes, tidak setuju. Makanya sekarang kita tanya, what can you do, bukan what do you have,” tutur pria yang sebelumnya menjabat sebagai Pembantu Rektor III Unesa tersebut.

Warsono menyatakan, fakta-fakta ini mestinya bisa memotivasi orang-orang yang mampu kuliah untuk bisa menunjukkan bahwa mereka kompetensi. Jangan sampai punya gelar tinggi, tapi tidak punya kompetensi.

back to top