Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah
Surabaya – KoPi| Peraturan sekolah kadang masih berupa prosedur yang harus dijalankan. Itu membuat siswa merasa menaati peraturan karena rasa takut, bukan karena mengerti. Ketakutan tersebut kadang membuat siswa berpikir tidak rasional, seperti kasus jatuhnya siswa dari gedung sekolah karena berupaya menyembunyikan ponsel temannya baru-baru ini.

“Peraturan yang ditegakkan secara konsisten akan membuat siswa mematuhinya. Jika peraturan hanya dijalankan secara sporadis, razia secara acak, hanya akan membuat siswa mencuri-curi kesempatan,” terang Sosiolog Pendidikan Tuti Budirahayu di Surabaya (16/10).

Jika peraturan membuat anak takut, peraturan itu artinya tidak berhasil mengakomodasi kebutuhan anak. Di jaman sekarang, alat komunikasi seperti telepon seluler bukan lagi keinginan, namun sebuah kebutuhan. Siswa juga perlu ponsel untuk dapat berhubungan dengan keluarganya. Keluarga pun dapat memantau keadaan siswa melalui alat komunikasi.

Larangan membawa ponsel ke sekolah seharusnya sudah waktunya direvisi. Perlu aturan baru yang bisa menyenangkan semua pihak. 

“Ponsel sekarang sudah jadi kebutuhan. Memang siswa perlu dilarang menggunakan ponsel pada jam belajar. Tapi kan bisa diatur, misalnya siswa harus menyerahkan ponsel mereka di ruang guru begitu pelajaran dimulai. Guru bisa menjaga ponsel mereka dengan aman, dan murid tidak lagi harus sembunyi-sembunyi jika perlu membawa ponsel. Orangtua juga tetap bisa memantau keadaan siswa di sekolah,” cetus Tuti.

back to top