Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah
Surabaya – KoPi| Peraturan sekolah kadang masih berupa prosedur yang harus dijalankan. Itu membuat siswa merasa menaati peraturan karena rasa takut, bukan karena mengerti. Ketakutan tersebut kadang membuat siswa berpikir tidak rasional, seperti kasus jatuhnya siswa dari gedung sekolah karena berupaya menyembunyikan ponsel temannya baru-baru ini.

“Peraturan yang ditegakkan secara konsisten akan membuat siswa mematuhinya. Jika peraturan hanya dijalankan secara sporadis, razia secara acak, hanya akan membuat siswa mencuri-curi kesempatan,” terang Sosiolog Pendidikan Tuti Budirahayu di Surabaya (16/10).

Jika peraturan membuat anak takut, peraturan itu artinya tidak berhasil mengakomodasi kebutuhan anak. Di jaman sekarang, alat komunikasi seperti telepon seluler bukan lagi keinginan, namun sebuah kebutuhan. Siswa juga perlu ponsel untuk dapat berhubungan dengan keluarganya. Keluarga pun dapat memantau keadaan siswa melalui alat komunikasi.

Larangan membawa ponsel ke sekolah seharusnya sudah waktunya direvisi. Perlu aturan baru yang bisa menyenangkan semua pihak. 

“Ponsel sekarang sudah jadi kebutuhan. Memang siswa perlu dilarang menggunakan ponsel pada jam belajar. Tapi kan bisa diatur, misalnya siswa harus menyerahkan ponsel mereka di ruang guru begitu pelajaran dimulai. Guru bisa menjaga ponsel mereka dengan aman, dan murid tidak lagi harus sembunyi-sembunyi jika perlu membawa ponsel. Orangtua juga tetap bisa memantau keadaan siswa di sekolah,” cetus Tuti.

back to top