Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah

Saat ponsel dilarang dibawa ke sekolah
Surabaya – KoPi| Peraturan sekolah kadang masih berupa prosedur yang harus dijalankan. Itu membuat siswa merasa menaati peraturan karena rasa takut, bukan karena mengerti. Ketakutan tersebut kadang membuat siswa berpikir tidak rasional, seperti kasus jatuhnya siswa dari gedung sekolah karena berupaya menyembunyikan ponsel temannya baru-baru ini.

“Peraturan yang ditegakkan secara konsisten akan membuat siswa mematuhinya. Jika peraturan hanya dijalankan secara sporadis, razia secara acak, hanya akan membuat siswa mencuri-curi kesempatan,” terang Sosiolog Pendidikan Tuti Budirahayu di Surabaya (16/10).

Jika peraturan membuat anak takut, peraturan itu artinya tidak berhasil mengakomodasi kebutuhan anak. Di jaman sekarang, alat komunikasi seperti telepon seluler bukan lagi keinginan, namun sebuah kebutuhan. Siswa juga perlu ponsel untuk dapat berhubungan dengan keluarganya. Keluarga pun dapat memantau keadaan siswa melalui alat komunikasi.

Larangan membawa ponsel ke sekolah seharusnya sudah waktunya direvisi. Perlu aturan baru yang bisa menyenangkan semua pihak. 

“Ponsel sekarang sudah jadi kebutuhan. Memang siswa perlu dilarang menggunakan ponsel pada jam belajar. Tapi kan bisa diatur, misalnya siswa harus menyerahkan ponsel mereka di ruang guru begitu pelajaran dimulai. Guru bisa menjaga ponsel mereka dengan aman, dan murid tidak lagi harus sembunyi-sembunyi jika perlu membawa ponsel. Orangtua juga tetap bisa memantau keadaan siswa di sekolah,” cetus Tuti.

back to top