Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Pungli sekolah, wali murid bayar hingga jutaan

Pungli sekolah, wali murid bayar hingga jutaan

Jogjakarta-KoPi| Pungutan liar sekolah negeri kepada peserta didik baru menjadi persoalan yang tak kunjung usai. Pungutan liar sekolah melalui cara pembelian seragam hingga pemeliharaan gedung sekolah.

Para wali murid dengan terpaksa atau sukarela diwajibkan membayar tuntutan sekolah tersebut. Tak jarang para wali murid harus merogoh kocek jutaan demi kelancaran program belajar putera-puterinya di sekolah.

Menurut anggota Sarang Lidi (Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan), Yuliani menyebutkan praktek pungutan liar sekolah negeri SD,SMP, dan SMP sudah menjadi praktek tahunan. Namun sayangnya setiap tahun bukannya menurun, justru pungutan semakin naik.

Hal senada diungkapkan oleh wali murid Purnomo menyebutkan salah satu anaknya yang bersekolah di SDN Purwobinangun, Kalasan ditarik uang seragam. Pihak sekolah menawarkan seragam yang diklaim lebih murah dibandingkan harga di pasaran.

“Pungutan SDN Purwobinangun, Kalasan sudah bertahun-tahun sejak anak saya SD sampai saat ini belum berakhir, uang seragam masih berlanjut, tanggal 11 saya coba konfirmasi, itu ibu gurunya dengan lantang itu adalah infak ,pungutan itu disebut infak, pertanyaan apakah benar itu infak,” tutur Purnomo.

Purnomo menambahkan salah satu anak buahnya, Daniel siswa SMPN 1 Berbah memliki tanggungan sekolah yang besar. “Anak buah saya, Daniel kurang dana PPDB sekitar 500 ribu, tutup tahun 50 ribu, uang kegiata agama 80 ribu, dana tata kelola 400 ribu, ECC Bahasa Iggris 330 ribu, LKS 121 ribu, rata-rata Sleman mungut yang pasti seragam, lainnya uang bangunan relatif,” imbuh Purnomo.

Yuliani anggota Sarang Lidi menegaskan pihak sekolah tidak memanfaatkan Penerimaan Siswa baru sebagai ajang bisnis. Pasalnya tunjangan saranan pembelajaran sekolah sudah menjadi tanggungan dari dana BOS.

|Winda Efanur FS|

back to top