Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Profesor Jerman Ajarkan Mahasiswa UMY, Teknik Pengukuran Air pada Makanan

Profesor Jerman Ajarkan Mahasiswa UMY, Teknik Pengukuran Air pada Makanan

Bantul-KoPi| Untuk mendukung kegiatan belajar mahasiswa, program studi Agroteknologi UMY mengundang dosen dari Jerman untuk mengajarkan tentang 'Food Analysis'. Oleh karenanya, Prof. Heinz-Dieter Isengard dari Institute of Food Science and Biotechnology, Stuttgart, Germany, diundang untuk menjadi pemateri dalam kuliah umum pada Kamis (27/10) di Ruang Stadium General Fakultas Teknik UMY.

Prof. Heinz menjelaskan kepada kurang lebih seratus mahasiswa Agroteknologi, tentang Teknik Pengukuran Air pada Makanan. Pengukuran kadar air pada makanan dinilai penting karena akan mempengaruhi kualitas produk.

"Contohnya seperti jus jeruk. Bila kadar air yang ditentukan 10%, maka harus tepat 10%. Tidak boleh kurang atau lebih. Karena bila kurang nanti akan terlalu banyak kandungan vitamin C nya. Dan itu akan berpengaruh pada kesehatan. Oleh karenanya, pengukuran kadar air juga harus dilakukan secara berkala," jelas Prof. Heinz.

Selama ini, pengukuran kadar air dalam makanan banyak menggunakan oven dan dilakukan secara manual. Namun Prof Heinz menyebutkan, saat proses pemanasan menggunakan oven, ada beberapa substansi lain selain H2O yang juga hilang.

"Saat dipanaskan, tidak hanya air yang menguap, tetapi ada senyawa lain yang ikut hilang seperti volatil, alkohol, dan lain-lain. Sehingga ini menjadi konsen dari perusahaan-perusahaan pangan yang hanya ingin mengukur kadar air saja," ujar Prof. Heinz.

Menanggapi masalah tersebut, Prof. Heinz memperkenalkan kepada mahasiswa teknik titrasi Karl Fischer. Titrasi sendiri adalah salah satu metode yang dipakai dalam analisis kimia kuantitatif untuk menentukan konsentrasi suatu larutan yang belum diketahui konsentrasinya dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.

"Teknik titrasi Karl Fischer ini tidak seperti teknik titrasi manual yang mengidentifikasi hasil dengan warna merah muda yang standar. Warna dalam teknik titrasi Karl Fischer tidak bisa dideteksi. Dan teknik ini menggunakan voltase tertentu dalam pengukurannya," jelas Prof. Heinz sambil menunjukkan cara kerja teknik titrasi Karl Fischer dalam gambar.

Penggunaan metode titrasi Karl Fischer ini, dijelaskan Prof. Heinz sudah digunakan pada produksi laktosa di Jerman. "Namun sayangnya, metode titrasi Karl Fischer belum menjadi official method bagi pabrik susu. Padahal susu juga mengandung laktosa. Dan hasil uji dengan metode titrasi Karl Fischer pada susu sudah terbukti 95% akurat," tutur prof. Heinz. |Deansa

back to top