Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Pilkada Serentak 2017, Proses Pembelajaran Bagi Demokrasi Indonesia

Pilkada Serentak 2017, Proses Pembelajaran Bagi Demokrasi Indonesia

Bantul-KoPi|Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak, kembali diselenggarakan secara serentak pada bulan Februari2017  ini. Penyelenggaraan tersebut menjadi penyelenggaraan kedua pilkada secara serentak di 101 daerah (Provinsi, Kabupaten/ Kota) di seluruh Indonesia setelah juga diadakan Pilkada serentak pada 2015. Walau secara umum Pilkada serentak relatif aman dan tidak ada kerusuhan, namun ada banyak cerita yang membuka wawasan  demokrasi rakyat Indonesia.

Hal ini dinyatakan oleh Akademisi dan Pemerhati Politik UMY, Tunjung Sulaksono, S.IP.,M.Si pada diskusi bertajuk “Angkringan Pilkada: Pilkada dan Rasionalitas Pemilih” di Lantai Dasar Gedung Pascasarjana UMY pada Rabu malam (22/2).

Menurut Tunjung, salah satu cerita yang ada di Pilkada 2017 yaitu soal Kotak kosong yang menjadi lawan Paslon yang bertanding. “Bagi orang yang belajar demokrasi, hal ini membuka pertanyaan seputar pilkada. Soal kotak kosong, apakah ini kegagalan pendidikan politik yang dilakukan oleh parpol, atau parpol kesulitan dalam melahirkan sosok calon pemimpin yang berkualitas,”jelasnya.

Dalam Pilkada serentak 2017, Tunjung  juga melihat adanya sentiment anti-partai yang melanda masyarakat Indonesia yang cenderung reaktif. Namun menurut Tunjung, tidak masalah adanya sentiment anti-partai sejauh parpol menjadikan hal tersebut sebagai momen untuk memperbaiki diri.

“Partai menjadi kendaraan paling ideal untuk memperoleh jabatan publik, namun di satu sisi ada ketidakpercayaan publik pada partai. Terbukti partisipasi masyarakat dalam pilkada ini meningkat prosentasenya. Hal ini seharusnya menjadi momen bagi parpol untuk memperbaiki proses yang ada dalam internal sehingga diharapkan memunculkan sosok calon yang berkualitas. Ada banyak cara yang ditempuh partai untuk menuju ke sana,”tuturnya.

Lebih jauh, Tunjung menyatakan ajang Pilkada serentak 2017 juga menjadi pendidikan politik bagi masyarakat untuk menerima yang menang dan yang kalah.

“Mungkin di beberapa daerah terdapat paslon yang menang tipis dan calon lainnya mengajukan protes. Namun bagaimana pun demokrasi mensyaratkan adanya kompetisi, jadi masyarakat harus menerima konsep menang-kalah,”lanjutnya.

Sementara itu, Sosiolog UMY Dr. Zuly Qodir melihat dalam kacamata sosiologi ajang pilkada serentak ini menyebabkan hiruk pikuk yang menyita perhatian publik, terutama di media sosial.

“Hiruk pikuk Pilkada di media sosial, contohnya Pilkada Jakarta yang ramai diperbincangkan di Twitter dan Facebook. Masyarakat di luar Jakarta juga ikut mengomentari pilkada Jakarta, padahal mereka sendiri tidak punya hak pilih. Jadi masyarakat kita hanya ikut euforianya saja,”tandasnya.

Zuly juga menyoroti money politic yang kerap terjadi pada penyelenggaraan pemilu. Begitu pula dengan penyelenggaran Pilkada serentak 2017 ini. “Money politic terjadi seperti orang buang kentut, kita membaui bersama tapi kita nggak bisa menunjuk siapa yang buang kentut.

Money politic akan tetap ada di setiap penyelenggaraan pemilu bahkan akan semakin canggih modusnya. Ada yang ditukar pakai voucher, ada yang langsung pakai amplop, macam-macam,”pungkasnya sambal tertawa. (Bagas)

back to top