Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Permendikbud Nomor 49, Menuai Protes

Permendikbud Nomor 49, Menuai Protes

Winda Efanur FS,


Yogyakarta-KoPi, Peraturan Menteri dan Kebudayaan Nomor 49 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menuai kontroversi di kalangan praktisi pendidikan. Terutama pasal 17 mengenai batas maksimal studi S1 selama 5 tahun. Kebijakan teranyar dari mendikbud tersebut menyoal mutu perguruan tinggi di Indonesia.

Seperti yang diungkap oleh koordinator Kopertis DIY, Bambang tujuan pemberlakuan permen (peraturan menteri) ini untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan universitas pada umumnya. Dimana mahasiswa mampu mengatur waktunya agar tidak terlalu lama di kampus dan upaya menyelamatkan mahasiwa dari perubahan kurikulum setiap empat tahun sekali.

Namun bagi sebagian mahasiswa, peraturan itu dirasa sebagai upaya mengerdilkan ruang aktifitas mahasiswa. Pemangkasan waktu studi dari 14 semester (5 tahun) menjadi 10 semester (5 tahun) tidak saja cukup memberatkan tetapi dicurigai sebagai upaya sistematis untuk mereduksi pendidikan di Indonesia.Pasalnya rutinitas mahasiswa tidak hanya terpaku pada bangku kuliah. Kebutuhan meraka terjun ke dunia organisasi, mengolah bakat dan minat atau  bekerja part time pun menjadi poin penting.

Suhendra, misalnya, salah satu mahasiswa PGSD Universitas Negeri Yogyakarta sangat tidak setuju dengan keputusan itu.

"Mahasiswa kan tidak saja kuliah, tapi mereka juga punya aktifitas sosial dalam organisasi, " ujarnya.

Senada denga Suhendra,  Aditya Herwin, Presiden Mahasiswa BEM UGM berpendapat bahwa kuliah membutuhkan keseimbangan antara kuliah dan organisasi.

Sementara itu, Badriyanto, Wakil Presiden UIN Kalijaga Yogyakarta juga berpendapat bahwa di kalangan mahasiswa, prosentase kuliah hanya 25 %, selebihnya 75 % ilmu didapatkan di luar kampus baik organisasi dan lainnya. Pasalnya di dalam kuliah mahasiswa hanya menelan teori mentah-mentah. Esensi pentingnya ‘ruang pembelajaran’ ketika mahasiswa mengimplementasikan teori di dunia luar.

back to top