Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Perilaku guru faktor perkembangan kepribadian siswa

Perilaku guru faktor perkembangan kepribadian siswa

Bantul-KoPi| Dalam proses pendidikan, perilaku guru memegang peranan yang sangat penting untuk perkembangan kepribadian siswa. Perilaku yang baik dari seorang guru bukan hanya cakap dan terampil dalam memberikan materi di depan kelas, namun harus lebih dari itu karena seorang guru merupakan teladan sekaligus mitra bagi muridnya.

Guru harus berhati-hati menjaga sikap, perilaku, penampilan dan tutur kata dimanapun guru berada. Jika guru mengabaikan hal tersebut, maka akan berimplikasi negatif bagi perkembangan perilaku para muridnya.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Idi Warsah, M.Pd.I. saat menyampaikan hasil disertasinya dalam sidang promosi doktor Ilmu Psikologi Pendidikan Islam pada Sabtu (23/7) di Ruang Sidang Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta lantai 4.

Dalam mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pendidikan Berbasis Rahmah Dalam Al-Qur’an,”Idi menjelaskan bahwa dalam praktek pendidikan, guru cenderung menekankan pada kemampuan intelektual murid dan mengabaikan aspek-aspek lain dalam proses pembelajaran.

“Saat ini guru masih belum mampu memposisikan diri sebagai pendidik sekaligus mitra belajar. Jika dilihat dalam proses pendidikan, salah satu faktor penting menjadikan guru yang professional yaitu dengan menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan kasih sayang guru terhadap muridnya, sehingga tercipta pembelajaran yang lebih bermakna.

Bagi guru, kepribadian yang baik adalah keniscayaan yang harus dimiliki, serta kompetensi yang menjadi standar bagi setiap guru dalam menjalankan tugas dan profesinya sebagai pendidik,” papar Idi.

Idi menjelaskan bahwa dalam rujukan salah satu penelitiannya, guru yang baik memberikan dampak positif bagi perkembangan kepribadian murid. Kompetensi yang memadai, sikap yang santun, lembut dan penuh kasih sayang menjadi keniscayaan dimiliki oleh setiap guru.

“Kenyamanan dan keberkesanan murid terhadap perilaku dan kepribadian guru tidak hanya akan menjadi motivasi murid dalam mengikuti pelajaran, namun juga akan memberikan kesan tersendiri bagi murid di kemudian hari,” lanjut Idi yang berhasil lulus dengan nilai cumlaude pada sidang doktor ke 28 tersebut.

Idi kembali menandaskan bahwa realitas di lapangan nyaris tidak muncul sosok guru yang memiliki inisiatif dalam meningkatkan kompetensinya. Kondisi ini dapat dipastikan berasal dari dampak dari peraturan pemerintah pusat melalui program sertivikasi guru dan dosen.

“Dengan adanya apresiasi pemerintah pusat melalui program sertifikasi guru dan dosen, semakin membelenggu para guru dan dosen dalam mencukupi target dan volume pembelajaran sebagai syarat memperoleh kompensasi sertifikasi.

Sepertinya kebijakan ini telah merampas keikhlasan dan panggilan hati setiap pendidik untuk memberikan konstribusi ilmiah kepada murid-muridnya. Sehingga guru sulit menciptakan suasana pembelajaran yang berkesan bagi para muridnya,”tandasnya

back to top