Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Perilaku guru faktor perkembangan kepribadian siswa

Perilaku guru faktor perkembangan kepribadian siswa

Bantul-KoPi| Dalam proses pendidikan, perilaku guru memegang peranan yang sangat penting untuk perkembangan kepribadian siswa. Perilaku yang baik dari seorang guru bukan hanya cakap dan terampil dalam memberikan materi di depan kelas, namun harus lebih dari itu karena seorang guru merupakan teladan sekaligus mitra bagi muridnya.

Guru harus berhati-hati menjaga sikap, perilaku, penampilan dan tutur kata dimanapun guru berada. Jika guru mengabaikan hal tersebut, maka akan berimplikasi negatif bagi perkembangan perilaku para muridnya.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Idi Warsah, M.Pd.I. saat menyampaikan hasil disertasinya dalam sidang promosi doktor Ilmu Psikologi Pendidikan Islam pada Sabtu (23/7) di Ruang Sidang Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta lantai 4.

Dalam mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pendidikan Berbasis Rahmah Dalam Al-Qur’an,”Idi menjelaskan bahwa dalam praktek pendidikan, guru cenderung menekankan pada kemampuan intelektual murid dan mengabaikan aspek-aspek lain dalam proses pembelajaran.

“Saat ini guru masih belum mampu memposisikan diri sebagai pendidik sekaligus mitra belajar. Jika dilihat dalam proses pendidikan, salah satu faktor penting menjadikan guru yang professional yaitu dengan menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan kasih sayang guru terhadap muridnya, sehingga tercipta pembelajaran yang lebih bermakna.

Bagi guru, kepribadian yang baik adalah keniscayaan yang harus dimiliki, serta kompetensi yang menjadi standar bagi setiap guru dalam menjalankan tugas dan profesinya sebagai pendidik,” papar Idi.

Idi menjelaskan bahwa dalam rujukan salah satu penelitiannya, guru yang baik memberikan dampak positif bagi perkembangan kepribadian murid. Kompetensi yang memadai, sikap yang santun, lembut dan penuh kasih sayang menjadi keniscayaan dimiliki oleh setiap guru.

“Kenyamanan dan keberkesanan murid terhadap perilaku dan kepribadian guru tidak hanya akan menjadi motivasi murid dalam mengikuti pelajaran, namun juga akan memberikan kesan tersendiri bagi murid di kemudian hari,” lanjut Idi yang berhasil lulus dengan nilai cumlaude pada sidang doktor ke 28 tersebut.

Idi kembali menandaskan bahwa realitas di lapangan nyaris tidak muncul sosok guru yang memiliki inisiatif dalam meningkatkan kompetensinya. Kondisi ini dapat dipastikan berasal dari dampak dari peraturan pemerintah pusat melalui program sertivikasi guru dan dosen.

“Dengan adanya apresiasi pemerintah pusat melalui program sertifikasi guru dan dosen, semakin membelenggu para guru dan dosen dalam mencukupi target dan volume pembelajaran sebagai syarat memperoleh kompensasi sertifikasi.

Sepertinya kebijakan ini telah merampas keikhlasan dan panggilan hati setiap pendidik untuk memberikan konstribusi ilmiah kepada murid-muridnya. Sehingga guru sulit menciptakan suasana pembelajaran yang berkesan bagi para muridnya,”tandasnya

back to top