Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Muhammadiyah di kacamata Antropolog Jepang masih belum berkembang

Muhammadiyah di kacamata Antropolog Jepang masih belum berkembang

Bantul-KoPi|Profesor Antropologi Jepang melihat Muhammadiyah masih memerlukan banyak pengembangan dalam menghadapi tantangan dimasa mendatang. Sang Antropolog, Professor Mitsuo Nakamura menyampaikan tantangan terbesar Muhammadiyah adalah Globalisasi dan perkembangan era digital komunikasi.

"Melihat perkembangan Muhammadiyah selama seratus tahun ini, seperti yang disampaikan oleh Bapak Agung Danarto , saya rasa tantangan terbesar Muhammdiyah adalah globisasi dan era digital telekomunikasi,"katanya usai melaunching bukunya di Gedung Asri Medical Center,Sabtu (30/9)

Hal tersebut ia simpulkan setelah dirinya meneliti sejarah perkembangan Muhammadiyah di Kotagede selama bertahun-tahun,khususnya pada perkembangan Muhammadiyah dari tahun 1910 hingga 2010.

Ia pun mengakui sejarah Muhammadiyah hebat di masa lalu. Namun, untuk saat ini,Muhammadiyah masih perlu dongkrakan kuat untuk mendorong organisasi ini menjadi berjaya seperti dimasa lalu

"Saya lihat sejarah Muhamadiyah memang hebat, namun khazanah itu harus ditinjuau kembali dan diambil pula esensinya agar bisa direvitalisasi ke era baru,"tambahnya

Selain perkembangan, Prof Nakamura juga memaparkan permasalahan lainnya adalah pengentasan ketidak adilan sosial dalam ekonomi sosial. Penyelesaian antara
si miskin di era saat ini menjadi isu utama yang harus ditangani Muhammadiyah.

Tak hanya itu, Ia juga menekankan dalam kancah perpolitikan,Muhammadiyah juga harus tetap menjadi pihaknya yang netral. Titel netral ini juga seharusnya tetap ada dan dijaga oleh kader Muhammadiyah sejak berdiri hingga era saat ini.

Soal penelitian serta buku yang diluncurkannya yang mengambil objek Muhammadiyah,Prof. Nakamura pun mengungkapkan dirinya sudah tertarik sejak kedatangannya di Indonesia pada tahun 1970 saat akan meneliti sejarah Kotagede.

"Tertarik meneliti Muhammadiyah itu permulaannya tahun 1970, saya datang ke Indonesia meneliti sejarah sosial Kotagede. Saat itu saya tidak ditekankan pada penelitian soal Islam tetapi setelah lama penelitian dilapangan, saya melihat Muhammadiyah sebagai salah satu tiang Kotagede, dalam melihat sejarah sosialnya itu tidak bisa diabaikan,"ujar lulusan Universitas Cornel ini.

Setelah tertarik pada Muhammadiyah,ia pun tertarik menuliskan buku terkait sejarah perkembangan Muhammdiyah dari tahun ke tahun dimasa lalu. Buku pertama pun diterbitkan pada tahun 1983 dibawah penerbit Gadjah Mada University Press.

Buku kedua terjemahan berjudul Bulan Sabit Terbit Diatas Pohon Beringin diterbitkan pada saat ini dibawah naungan UMY Press.Buku inipun berisi sebuah studi tentang perkembangan gerakan Muhammadiyah di Kota Gede selama seratus tahun dari sekitar 1912-2010 atau penanggalan islam 1330-1430.

Agung danarto, sebagai sekretaris pp Muhammadiyah mengatakan pihaknya mendukung tulisan-tulisan penulis berbagai kalangan manapun untuk dicetak pihaknya. Namun,ia juga berusaha mendorong kader-kader agar juga menuliskan karya-karya Muhammadiyah

"Muhammdiyah pun akan terus menerima tulisan dari kalangah manapun untuk perkembangan ilmu muhammadiyah. Namun demikian kita juga menekankan agar dari Muhammadiyah agar menuliskan tulisan-tulisan yang menunjukkan kemajuan kita,"tandasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top