Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Metode Perjokian Perluas Target Incaran

Mawardi

Bantul-KoPi| Modus perjokian untuk masuk ke perguruan tinggi hingga kini masih marak terjadi dengan berbagai metode. Apalagi saat ini perjokian yang terjadi bukan hanya mengincar program studi favorit seperti kedokteran. Akan tetapi juga sudah mulai mengincar program studi yang telah terakreditasi A.

 

Hal tersebut disampaikan Mawardi Achmad, A.Md selaku Kepala Urusan Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Penmaru UMY), saat menerima kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), di Gedung KH. Ibrahim, Lantai 5 Kampus Terpadu UMY, Rabu (28/2). Kunjungan yang dilakukan UMJ tersebut salah satunya bertujuan untuk studi banding berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru.

"Metode perjokian saat ini tidak hanya dilakukan untuk masuk ke program studi yang favorit seperti kedokteran. Namun juga berbagai program studi yang lain juga saat ini sudah menjadi target incaran. Khususnya bagi program studi yang telah terakreditasi A," ujar Mawardi.

Mawardi juga menambahkan untuk mengatasi hal tersebut pihaknya membuat sebuah tim anti perjokian yang bekerjasama dengan pihak kepolisian.

Selain membuat 5000 jenis soal berbeda. Metode terbaru yang diterapkan adalah finger print dan foto wajah.

"Jadi sebelum memasuki ruang ujian, dilakukan finger dan foto wajah. Setelah selesai ujian, peserta juga kembali melakukan finger dan pengecekan wajah," jelasnya.

Selain itu, menurut Mawardi, UMY sebelumnya juga mengadakan tes ujian tertulis di sekolah-sekolah. Akan tetapi, tingkat keamanan dalam pelaksanaan ujian tersebut masih bisa ditembus oleh oknum-oknum yang terlibat dalam perjokian. "Maka dari itu untuk saat ini kami melakukan penghentian sementara," ungkapnya.

Mawardi juga mengungkapkan bahwa praktik perjokian dengan modus memanfaatkan kecanggihan teknologi pun pernah terjadi. Diantaranya dengan merekam soal tes dan mengirimkannya keluar. Ketika dicegah dengan mengacaukan sinyal, berganti dengan metode lain yaitu menggunakan sinyal HT.

Bahkan setelah sinyal HT diblok masih dapat menggunakan metode memanipulasi LJK sehingga mesin scanner melakukan kesalahan pembacaan. "Begitu gigihnya para pelaku perjokian dimungkinkan karena keuntungan yang didapatkan begitu besar hingga ratusan juta rupiah," tambahnya.

Selain memaparkan tentang keamanan sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fill.I., MPA selaku Kepala Urusan Promosi Penerimaan Mahasiswa Baru memaparkan tentang metode sosialisasi untuk menarik minat calon Mahasiswa.

Berbagai metode terbaru perlu untuk diterapkan dalam memberikan informasi yang lengkap sehingga mampu menarik minat calon mahasiswa.

"Promosi saat ini bisa dilakukan melalui media televisi, koran, majalah, social media." jelasnya

Namun Bachtiar juga menuturkan bahwa metode konvensional dengan mendatangi sekolah-sekolah masih sangat perlu untuk dilaksanakan.

"Walaupun saat ini sudah dikatakan sebagai zaman now yang serba online. Namun, metode face to face atau bertemu secara langsung juga diperlukan. Karena tidak semua calon mahasiswa online, masih banyak yang perlu untuk dikunjungi secara langsung. Jika hanya dilaksanakan dengan metode online maka calon mahasiswa yang mendaftar tidak akan banyak," tuturnya.

back to top