Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Menjual dan berbagi ilmu di Kampoeng Ilmu

Menjual dan berbagi ilmu di Kampoeng Ilmu
Surabaya – KoPi | Di sudut Kota Surabaya ada sebuah tempat dengan setumpuk ilmu pengetahuan dan gudang pengetahuan. Kawasan yang berada di Jalan Semarang ini menjadi surga bagi para pencari ilmu. Namun jangan sangka kawasan ini merupakan kawasan kampus. Sebaliknya, kawasan ini dipenuhi oleh pedagang buku bekas. Inilah Kampoeng Ilmu, tempat di mana warga Surabaya mereguk ilmu melalui buku-buku apkiran.

Padahal 7 tahun silam tempat itu hanya sebuah jalanan yang semerawut dan dipenuhi pedagang buku bekas yang menjajakan bukunya di kaki lima. Penerapan Perda No 17 tahun 2003 mengenai penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima di Surabaya mengubah wajah jalan Semarang.

Dipaksa digusur dari jalan Semarang pada 2008 lalu, pedagang sempat menuntut pemerintah untuk memberikan lahan baru bagi usaha mereka. Tuntutan mereka sempat menuai aksi massa. Hingga akhirnya para pedagang kembali mendapatkan hak mereka untuk berjualan buku bekas di lahan lain yang ditunjuk Pemkot.

Ditemui KoPi, Wardhani Musbanali, ketua pengelola Kampoeng Ilmu mengatakan bahwa usaha mereka adalah menjual ilmu. “Yang kami jual adalah buku, bukan barang lain. Buku berhak untuk mendapatkan tempat. Buku adalah rahim para orang-orang cerdas,” ucapnya.

Usahanya 7 tahun lalu memimpin aksi massa tidak sia-sia. Saat ini, Kampoeng Ilmu sebagai pusat buku bekas dan tempat bagi para pencari ilmu sudah terwujud dan bisa dinikmati warga Surabaya.

Lahan dengan luas 2.500 m2 itu padat pengunjung setiap harinya. Bahkan, menurut salah seorang pedagang, Rusli, pengunjung harian bisa mencapai 400 orang. Pengunjung bebas memilih buku yang mereka inginkan dari 85 toko yang berjejer. Adanya fasilitas tambahan seperti aula, kantin, perpustakaan, dan wifi gratis ini membuat Kampoeng Ilmu semakin ramai dikunjungi.

Tidak hanya menjual buku, Kampoeng Ilmu juga menjadi pusat kegiatan pendidikan dan seni budaya. Setiap akhir pekan, Kampoeng Ilmu bekerja sama dengan pihak terkait untuk mendidik anak-anak. Lembaga-lembaga masyarakat dan juga mahasiswa turut serta dalam kegiatan pengembangan anak-anak dari keluarga miskin. Misalnya melalui pelatihan tari Remo. Warga Kampoeng Ilmu berharap tari khas Surabaya ini dapat lestari dan menjadi identitas kota Surabaya.

Yang menarik dari Kampoeng Ilmu ini, setiap pembeli buku tidak hanya sekedar membeli. Mereka juga diharapkan dapat mengembalikan ilmu yang mereka peroleh dalam bentuk bisa diimplementasikan. Sehingga para pembeli kembali bukan sekedar untuk membeli Ilmu, tapi juga membaginya pada siapapun yang ada di Kampoeng Ilmu.

“Ada ruang publik, pembeli silahkan membeli atau meminjam, duduk dan berdiskusi dengan siapa pun,” ujar Dhani.

Latar belakang pendidikan para pedagang di Kampoeng ini memang tergolong rendah, namun siapa sangka ternyata mereka memiliki pengetahuan yang tergolong tinggi. Itu karena mereka selalu membaca buku yang menjadi dagangan mereka.

“Buku sudah jadi makanan sehari-hari buat kami di sini. Kami senang berdiskusi dengan semua orang. Walaupun kami tidak mengerti sistem ilmu secara terstruktur, tapi kami mendapatkan ilmu yang orang lain tidak dapat,” lanjut Dhani.

Menurut Sarmin, salah satu pedagang buku di Kampoeng Ilmu, tolak ukur masa depan arek-arek Suroboyo ditentukan dari apa yang mereka baca. Ia berharap Kampoeng Ilmu menjadi penentu masa depan anak-anak Surabaya. “Kampoeng Ilmu ini memberi manfaat dari segi ekonomi, Ilmu, dan juga seni budaya,” ujarnya. | Labibah

back to top