Menu
Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun Menderita

Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun…

Kupang-KoPi| Rakyat kor...

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan Mahasiswa HI UMY ke Tiongkok

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan…

Bantul-KoPi| Nur Indah ...

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Sehat

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Seh…

Jogja-KoPi| Depresu bis...

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa Untuk Anak Desa Gamplong

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa…

Jogja-KoPi| Unit Kegiat...

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banyak Investasi India di Jatim

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banya…

New Delhi-KoPi| Gubernu...

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kota Magelang

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kot…

Magelang-KoPi| Menyambu...

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi Dilema

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi…

Bantul-KoPi| Kemerdekaa...

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA KOMPENSASI BUKAN CSR

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA …

Kupang-KoPi| Gubernur N...

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gelar Workshop dan Pelatihan Make Up

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gela…

Jogja-KoPi| Mempunyai w...

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasan Bisnis Pada Calon Startup UGM

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasa…

Jogja-KoPi| Mantan CEO ...

Prev Next

Mengikat kerukunan dan perdamaian dengan agama

bunga pk2
Menyongsong Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa 8-10 Februari 2018

Bantul-KoPi| Sebagai bangsa yang besar, Indonesia masih membutuhkan banyak instrumen untuk mendorong kerukunan dan perdamaian.

Keharmonisan masyarakat dan kerukunan agama yang selama ini dijalin selama puluhan tahun, kerap ternoda sikap-sikap intoleran, pandangan tentang masalah kebangsaan, dan memudarnya etika sosial hubungan umat beragama.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, MP, saat dihubungi pada Senin (5/2).

Untuk itu, menurut Gunawan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) guna membahas isu-isu strategsi dan persoalan-persoalan pokok untuk kerukunan bangsa.

Acara FGD ini rencanannya digelar dalam rangka menyambut dan sekaligus memberikan masukan untuk “Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa” yang digelar Kantor Utusan Khusus Presiden RI Untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban di Jakarta pada 8-10 Februari 2018.

Gunawan menyatakan bahwa saat ini banyak forum yang harus digelar yang melibatkan tokoh dan unsur akar rumput dalam masyarakat agar proses dialog bisa lebih efektif.
"Prof. Dr. Din Syamsuddin yang ditunjuk Presiden Ir. Joko Widodo sebagai Kepala Kantor Urusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban akan menghadiri acara ini," ujarnya.

Gunawan juga mengatakan bahwa terdapat beberapa masalah pokok yang dibahas dalam Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban, yaitu: 1) Pandangan dan sikap umat beragama tentang NKRI berdasarkan Pancasila; 2) Pandangan dan Sikap Umat Beragama tentang Bhineka Tunggal Ika; 3) Pandangan dan sikap umat beragama tentang pemerintahan yang sah hasil pemilu demokratis berdasarkan konstitusi; 4) prinsip-prinsip kerukunan umat beragama; 5) Etika kerukunan umat beragama; 6) Penyiaran agama dan pendirian rumah ibadah; 7) Rekomendasi tentang faktor-faktor non-Agama yang mengganggu kerukunan antar umat beragama.

Sementara itu, FGD di yang diselenggarakan di Gedung Pascasarjana UMY ini akan, memfokuskan kepada beberapa isu pokok di atas, antara lain tentang sikap dan pandangan umat beragama terhadap NKRI dan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan pemerintahan yang sah.

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, juga menegaskan, Muhammadiyah sudah lama memiliki perhatian terhadap masalah kebangsaan, termasuk ketika merumuskan Pancasila. Karena FGD di UMY akan mendalami aspek-aspek yang khusus terkait dengan masalah kerukunan yang terkait dengan isu kebangsaan.

“Biar kontribusi dan masukan kita terhadap pemerintah, tentu dengan perspektif yang dimiliki oleh Muhammadiyah, bisa lebih fokus,” tambahnya.

back to top