Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Sungguh mengagetkan sebab dosen terkemuka di Indonesia ini menjadi dosen plus-plus. Padahal, dia telah menelurkan karya-karya ilmu sosiologi yang dihormati oleh kalangan akademisi nasional. Ia menceritakan secara satir perjalannya sebagai seorang dosen yang sedang menimba ilmu doktoral di salah satu universitas terbaik di Indonesia. 


Inilah renungan satir yang semestinya negara ini menjawab. Jika tidak, apa artinya eksistensi negara dalam kehidupan masyarakat? Nama dosen ini adalah Ardhie Raditya, seorang dosen sosiologi dari Unesa. Berikut adalah salinan refleksi satir Ardhie dari akun facebooknya:

Seringkali saya mendengar bahwa pendidikan formal keilmuwan akan terasa menyenangkan dan mendalam saat tingkat doktoral. Di dalam negeri pun tak masalah. Asal, tekun belajar hasilnya akan luar biasa. "Ah, tidak juga", guman saya.

Ini buktinya, sehari-hari terpaksa mencari kayu bakar untuk dijual. Sebagai tambahan modal untuk melunasi bayaran semesteran. Karena bantuan pendanaan tak kunjung datang. Entah apa soalnya. Silahkan kira-kira sendiri saja dari sisi ketajaman nalar genealogis.

Akhirnya, dosen plus mahasiswa seperti saya sering belajar bagaimana menjadi kuli hutan di pedesaan. Daripada seorang ilmuwan, apalagi peneliti profesional yang menghasilkan banyak penelitian dan tulisan yang mendalam. Ini kisahku, bagaimana kisah kalian yang berhasil menikmati pendidikan menara gading itu? | NS |

back to top