Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Sungguh mengagetkan sebab dosen terkemuka di Indonesia ini menjadi dosen plus-plus. Padahal, dia telah menelurkan karya-karya ilmu sosiologi yang dihormati oleh kalangan akademisi nasional. Ia menceritakan secara satir perjalannya sebagai seorang dosen yang sedang menimba ilmu doktoral di salah satu universitas terbaik di Indonesia. 


Inilah renungan satir yang semestinya negara ini menjawab. Jika tidak, apa artinya eksistensi negara dalam kehidupan masyarakat? Nama dosen ini adalah Ardhie Raditya, seorang dosen sosiologi dari Unesa. Berikut adalah salinan refleksi satir Ardhie dari akun facebooknya:

Seringkali saya mendengar bahwa pendidikan formal keilmuwan akan terasa menyenangkan dan mendalam saat tingkat doktoral. Di dalam negeri pun tak masalah. Asal, tekun belajar hasilnya akan luar biasa. "Ah, tidak juga", guman saya.

Ini buktinya, sehari-hari terpaksa mencari kayu bakar untuk dijual. Sebagai tambahan modal untuk melunasi bayaran semesteran. Karena bantuan pendanaan tak kunjung datang. Entah apa soalnya. Silahkan kira-kira sendiri saja dari sisi ketajaman nalar genealogis.

Akhirnya, dosen plus mahasiswa seperti saya sering belajar bagaimana menjadi kuli hutan di pedesaan. Daripada seorang ilmuwan, apalagi peneliti profesional yang menghasilkan banyak penelitian dan tulisan yang mendalam. Ini kisahku, bagaimana kisah kalian yang berhasil menikmati pendidikan menara gading itu? | NS |

back to top