Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Sungguh mengagetkan sebab dosen terkemuka di Indonesia ini menjadi dosen plus-plus. Padahal, dia telah menelurkan karya-karya ilmu sosiologi yang dihormati oleh kalangan akademisi nasional. Ia menceritakan secara satir perjalannya sebagai seorang dosen yang sedang menimba ilmu doktoral di salah satu universitas terbaik di Indonesia. 


Inilah renungan satir yang semestinya negara ini menjawab. Jika tidak, apa artinya eksistensi negara dalam kehidupan masyarakat? Nama dosen ini adalah Ardhie Raditya, seorang dosen sosiologi dari Unesa. Berikut adalah salinan refleksi satir Ardhie dari akun facebooknya:

Seringkali saya mendengar bahwa pendidikan formal keilmuwan akan terasa menyenangkan dan mendalam saat tingkat doktoral. Di dalam negeri pun tak masalah. Asal, tekun belajar hasilnya akan luar biasa. "Ah, tidak juga", guman saya.

Ini buktinya, sehari-hari terpaksa mencari kayu bakar untuk dijual. Sebagai tambahan modal untuk melunasi bayaran semesteran. Karena bantuan pendanaan tak kunjung datang. Entah apa soalnya. Silahkan kira-kira sendiri saja dari sisi ketajaman nalar genealogis.

Akhirnya, dosen plus mahasiswa seperti saya sering belajar bagaimana menjadi kuli hutan di pedesaan. Daripada seorang ilmuwan, apalagi peneliti profesional yang menghasilkan banyak penelitian dan tulisan yang mendalam. Ini kisahku, bagaimana kisah kalian yang berhasil menikmati pendidikan menara gading itu? | NS |

back to top