Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Menekuni Riset Orangutan, Wisnu Nurcahyo Hasilkan Banyak Publikasi Internasional

Menekuni Riset Orangutan, Wisnu Nurcahyo Hasilkan Banyak Publikasi Internasional

Jogja-KoPi| Dosen Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM Hewan Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo mendapat penghargaan dari Kemenristekdikti sebagai penulis dan peneliti terproduktif di tingkat Perguruan Tinggi Negeri di Pulau Jawa. Ia dinilai sebagai peneliti yang paling banyak melakukan kerja sama dengan bermitra dengan peneliti asing untuk kegiatan publikasi internasional. Penghargaan diberikan oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti di Jakarta 5 Juli 2018 lalu.

Ditemui di ruang kerjanya di FKH UGM, Rabu (29/8), Wisnu menyampaikan apresiasinya atas penghargaan yang diberikan pemerintah padanya. Bagi Wisnu, penghargaan tersebut merupakan hasil atas dedikasi dan ketekunanya selama 18 tahun menggeluti riset satwa liar yang bisa dikatakan selama ini minim pendanaan dari dalam negeri.

Seperti diketahuim, riset yang dilakukan oleh Wisnu sejak tahun 2000-an adalah meneliti perilaku dan penyakit parasitologi pada orang utan. Penelitiannya yang cukup unik, beruntung Wisnu mendapat mitra kerja dari peneliti asing yang memiliki perhatian dan riset yang sama pada satwa langka yang keberadaannya semakin langka ini.

Wisnu bercerita ia mulai tertarik meneliti orang utan berawal dari ketertarikannya pada kehidupan satwa liar. Setelah menjadi diterima dosen pada dekade 1990-an, ia mengikuti berbagai seminar dan dikusi tentang satwa liar.

Dari seminar ke seminar, ia pun mendapat banyak rekan peneliti dari luar negeri yang memiliki perhatian yang sama pada satwa orangutan. Hingga akhirnya mereka sepakat melaksnakan kolaborasi riset bersama dengan mengajukan pendanaan dari lembaga dan mitra dari luar negeri.

“Awalanya tidak banyak orang yang tertarik menekuni riset ini. Bayangkan, sejak 1992 saya rela naik turun kereta ekonomi dan bis menghadiri setiap kali ada seminar di Jakarta,” kenang Wisnu.

Saat ia menempuh pendidikan doktor di Jerman pun tahun 1994-1998, Wisnu memiliki sahabat yang mengajaknya berkolbaorasi riset untuk meneliti tentang orangutan. Tidak hanya dari jerman, hingga akhirnya Wisnu juga memiliki mitra kerja dari Republik Ceko, Amerika Serikat, Perancis, dan Belgia. Selama 18 tahun menekuni riset tentang orangutan sedikitnya sudah 17 publikasi internasional yang telah dihasilkan, bahkan beberapa diantranya telah dibukukan yang diterbitkan oleh universitas oxford. “Semua publikasi ini mengenai kehidupan primata, ada orangutan, ada Makaka dan Gibbon. Umumnya primata semua,” kata pria kelahiran Klaten 53 tahun silam ini

Keluar Masuk Hutan

Wisnu bercerita saat awal meneliti kehidupan orang utan tidaklah mudah. Ia harus rela keluar masuk hutan di pedalaman Kalimantan dan Sumatera. Bersama dengan peneliti asing lainnya, mereka berbagi tugas untuk mengawasi satu orang orangutan untuk satu peneliti saat berada di dalam hutan.

Untuk mencari keberadaan orangutan di hutan lebat kalimantan, mereka tidak segan-segan menyewa pemandu lokal yang tidak lain suku asli orang dayak. Apalagi orangutan suka tinggal di pohon yang tingginya mencapai 20-30 meter. “Kita menyewa orang lokal, tidak lain orang dayak. Orang dayak punya kemampuan magic, mereka bisa mencium bau orang utan. Dengan membakar kemenyan, mereka menunjuk arah yang ada orang utan. Kita pun naik perahu klotok, karena masih banyak rawa, kita tunggu di lokasi yang disebutkan hingga sampai ada suara orang utan,” kenangnya.

Dikarenakan penelitian yang mereka lakukan untuk mengidentifikasi penyakit orangutan mereka harus menunggu waktu defekasi (buang air besar) orang utan yang biasanya terjadi pagi hari. Sehingga pagi subuh mereka sudah berangkat agar bisa mendapatkan feses orang utan. “Setelah buang air besar, kita ambil fesesnya, lalu kita teliti apa yang ia makan, daun apa. Kita ambil daun itu, kita ambil, kita korelasi dengan hasil feses,” kata pria yang mendapat penghargaan best young scientist dari Masaryk University Brno, Republik Ceko pada 2015 lalu.

Menurut Wisnu dedaunan dan buah-buahan yang dikonsumsi oleh orangutan mempengaruhi jenis penyakit parasit yang diderita orang utan. Bahkan dari dedaunan yang tumbuh di alam juga ternyata mengandung senyawa anti parasit yang bisa mengobati orangutan sendiri.”Setelah mengetahui penyakitnya, kita ingin mengidentifikasi bahan obat alam yanga ada di alam yang bisa mengobatai orangutan dengan sendirinya. Misalnya Orangutan kalo tubuhnya bengkak karena digigit lebah, lalu ia turun dari pohon mengambil daun mirip pandan, dikunyah, lalu ditempel di tempat yang digigit, sepuluh menit kempes,” tuturnya.

Menurut Wisnu, dedaunan yang dikonsumsi orang utan diambil untuk didientifikasi dan diteliti kandungannya senyawanya di laboratorium. Banyak dari tumbuhnnyang dikonsumis tersebu mengandung obat anti parasit. ”Kita teliti lagi, kita kerjasama dengan fakultas kehutanan (UGM) untuk identifikasi tanaman hutan, lalu di LIPI kita teliti kandungan senyawanya,” katanya.

Selain itu Winu juga memiliki penglaman yang unik saat mengambil sampel orangutan di pedalaman Sumatera. Ia bersama dengan salah satu mahasiswa yang kebetulan berada di urutan belakang rombongan, tiba-tiba tas ransel yang ada dipunggungnya ditarik oleh orangutan yang berada di atas pohon, dengan begitu mahasiswa tersebut terangkat hingga 1-2 meter. “Saya meminta mahasiswa itu untuk melepaskan tas ranselnya, hingga ia terjatuh ke tanah. Tas itu dibawa orangutan ke atas pohon, ia hanya mengambil stabilo di dalam tas, tasnya dibuang, ternyata orangutan tertarik dengan warna yang kelihatan mencolok,”katanya.

Penelitian terhadap perilkau, jenis penyakit dan pakan alam yang dikonsumi ini menurut Wisnu bisa diterapkan untuk kepentingan kegiatan rehabilitasi orangutan. Menurutnya di pusat rehabilitasi nantinya bisa ditanami tumbuhan dan jenis buah-buahan yang mengandung bahan jenis-jenis obata-obatan yang ada di hutan sehingga bermanfaat bagi orang utan ketika suatu saat di lepas kembali ke hutan.

Penelitian yang dilakukannya selama 18 tahun ini menurut Wisnu ia bisa mendapatkan data soal perilaku, pola makan, kegiatan harian orang utan hingga kebiasan orangutan membuat sarang. Adapun penyakityang paling dominan dan bersifat Zoonopsis diderita orangutan diantaranya tbc, bakteri pad buah seperti salmonella, E.colli yang patogen, virus hepatitis dan ada juga virus yang belum teridentifikasi pada orang utan. “Namun kalau untuk parasit paling banyak diderita adalah malaria, cacing, dan penyakit yang disebabkan protozoa,” katanya.

Meski tetap setia menekuni riset tentang orangutan, Wisnu dalam tiga tahun terakhir juga menginisiasi gerakan konservasi Gajah Sumatera. Ia bekerjasama dengan pusat rehabilitasi Gajah, melatih para dokter hewan dan pawang gajah untuk meningkatkan kemampuan mereka merawat kesehatan gajah. “Kita temukan banyak gajah yang mati karena parasit cacing,” paparnya.

Kepeduliannya pada konservasi orangutan dan gajah menurut Wisnu akan terus berlanjut pasalnya populasi kedua hewan langka ini makin terancam akibtanya berkurangnya jumlah habitat akibta pembukaan lahan dan kekaran hutan serta perburuan liar. “Popualsi orang utan di alam liar diperkirangan masih sekitar 10.000-an di Kalimantan dan Sumatera, sementara gajah jinak ada 249 ekor di pusat penangkaran, gajah liar di alam sekitar 2000-an,” pungkas Wisnu. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top