Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri

Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri

Sleman-KoPi| Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori middle income trap, yakni negara yang terjebak dalam pusaran ekonomi berpenghasilan rendah. Dalam kondisi dan situasi semacam ini maka mustahil bagi Indonesia, sebagai negara dengan tingkat populasi 250 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,5% per tahun, untuk melaju menjadi negara maju.

Demikian antara lain pokok-pokok pikiran yang diungkapkan oleh Buntoro (Chairman dan Founder PT Mega Andalan Kalasan) dalam seminar dan diskusi bertajuk “Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Pembangunan Sektor Industri.”

Seminar dan diskusi yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-51 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini berlangsung di Kampus III, Gedung Bonaventura, Jl. Babarsari 43 Yogyakarta pada Kamis, 22 September 2016.

Tak kurang dari 250 peserta, yang terdiri atas mahasiswa dan dosen maupun praktisi memadati acara ini. Kecuali Buntoro, pembicara lain dalam seminar dan diskusi ini adalah Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Piter Abdullah.

Sebagai pembicara kedua, Piter Abdullah mengungkapkan bahwa penyebab industrialisasi Indonesia kalah bersaing dengan negara maju meliputi beberapa sebab, yakni berkurangnya daya saing upah sehingga meingkatkan persaingan investasi padat karya dengan negara peers.

Di sisi lain, daya saing non-upah mengalami penurunan sehingga menjadi hambatan tambahan dalam menarik investasi. Selanjutnya Piter menegaskan, “Ketidakseimbangan struktur industri domestik saat ini tercermin pada profil industri yang kuat pada sektor SDA dan low-tech labor intensive. Padahal, industri masa depan berdaya saing dinamis yang dibutuhkan Indonesia adalah kelompok Med-High Tech Manufacturing yang saat ini masih tidak kompetitif.”

Rektor UAJY, Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH. LL.M. secara resmi membuka acara ini. Dalam pidato sambutannya, Rektor UAJY menegaskan bahwa konsep kemandirian industri, harus mulai bergeser dari sekadar pembahasan swasembada, impor atau tidak impor dan lain-lain yang sejenis.

Saat ini dunia mulai memikirkan konsep Global Value Chain (GVC) untuk mendukung industrinya, di mana semaksimal mungkin diupayakan bahan baku dari dalam negeri, tetapi tidak diharamkan impor.

Rektor menambahkan, “Kolaborasi dengan akademisi sangat penting dalam menjawab tantangan inovasi berbasis teknologi tepat guna dan sasaran. Inovasi berbasis kebutuhan sehingga hasil inovasi tidak mubazir.

Tak kalah pentingnya, peran konsumen dalam mendukung konsep industri tidak sekedar mencari barang murah tetapi kurang bernilai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Peran konsumen menjadi kekuatan dalam mendorong industri dalam negeri berkembang. Yang pasti adalah bahwa membangun induistri tidaklah semudah dan sesederhana membangun pabrik.”, demikian pungkasnya.| (One 23/9)

back to top