Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

M. Nuh: Buat apa ada ujian yang tak menentukan kelulusan?

M. Nuh: Buat apa ada ujian yang tak menentukan kelulusan?
Surabaya – KoPi | Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh punya komentar sendiri mengenai sistem UN 2015. Nuh mengaku ia berpegang pada aliran di mana ujian sebagai penentu kelulusan.
 

“Entah lulusnya 100 %, entah tidak lulus 100 %, yang penting ujian. Saya belum pernah menemui ujian yang tidak menentukan kelulusan. Buat apa ujian seperti itu? Ujian hidup itu juga ada yang lulus ada yang tidak lulus,” kata Nuh pada wartawan (18/4).

Nuh mengatakan hal itu karena iaberanggapan manusia itu perlu mendapat reward. Baginya orang yang sudah bekerja harus dapat penghargaan. “Anak-anak kita suruh belajar, kita uji, lalu kita beri penghargaan. Apa penghargaannya? Kelulusan dan masuk ke perguruan tinggi. Penghargaan untuk sekolah juga ada, yaitu pemetaan,” ujarnya.

Mengenai efektif atau tidaknya penggunaan nilai UN sebagai syarat kelulusan tergantung pada desainnya. Saat ini pemerintah menggunakan desain UN tidak dipakai sebagai syarat kelulusan. Namun nilai UN akan dipakai sebagai pertimbangan untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi, pemetaan, dan intervensi kebijakan.

“Tapi kalau mau dijadikan pemetaan, yang jangan pakai U, tapi pakai P, jadi Pemetaan Nasional. Pemetaan tidak harus lewat sensus, bisa lewat perwakilan. Satu orang siswa merepresentasi 100 siswa misalnya. Jadi biaya tidak perlu habis banyak,” ungkapnya.

Apakah tidak digunakannya nilai UN sebagai syarat kelulusan sebagai cara untuk menghindari isu mengenai banyaknya anak Indonesia yang tidak lulus? “Loh yang tidak lulus itu berapa? Ada ribuan, tapi itu kan dari jutaan anak Indonesia. Secara persentase itu sangat kecil. Wajar saja jika ada anak bandel, tidak mau mendengarkan guru, lalu tidak lulus,” tukas Nuh.

Namun ia menyerahkan keputusan itu pada pemerintah saat ini. Ia berharap pemerintah tetap melakukan yang terbaik untuk anak Indonesia. “Saya sekarang berikan kepercayaan itu pada kementerian yang sekarang, tapi pesan kami tolong haknya anak tetap diperhatikan,” ucapnya.

 

back to top