Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Liberalisme memicu kiamat?

Liberalisme memicu kiamat?

Jogja-KoPi| Bisa saja kehancuran bumi terjadi di tahun 2024 karena keserakahan yang mengatasnamakan kemakmuran terbuka, mealalui ledakan penduduk, perebutan sumber daya alam, kehancuran lingkungan. Ketika jumlah anak manusia di bumi mencapai 8 miliar, hasil dari kelipatan 12 tahunan sejak 1975. Demikian Adi Dedi Mulawarwan mengatakan.

Adi Dedi Mulawarman, Founder Yayasan Rumah Peneleh dan Penulis dalam bedah buku 2024: Hijrah untuk Negri Kehancuran atau Kebangkitan (?) Indonesia dalam Ayunan Peradaban, Sabtu (18/2) bertempat di Aditorium Filsafat UGM Lt 3,  mengatakan bahwa daya tampung bumi hanya 4 miliar. “Ini merupakan kejadian demografis luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya,” katanya.
    
Akan terjadi puncak perebutan pangan dan energi di tahun 2019-2020 oleh semua negara. Negara berkembang tidak akan bisa menjadi negara maju. “Negara maju hanya memberikan sumbangan pada negara miskin, bukan membuat mereka maju. Negara berkembang dibentuk sebagai negara konsumtif dan liberal termasuk Indonesia,” jelas Adi Dedi Mulawarman.
    
Apakah hal ini akan memicu kiamat? Mungkin tidak ketika umat mengembalikan Tuhan dalam keadaan semestinya, bukan justru menghilangkan peran-Nya. Liberalisme, pragmatisme, serta sekulerisme dilawan dengan keberadaan zat-Nya. Akan terjadi kiamat di tahun 2024 ketika Tuhan tidak dihadirkan dalam perebutan pangan dan energi. Kenyataan tidak dapat dilepaskan dari titah langit seperti yang dilakukan oleh liberalisme.
    
Liberalisme yang terjadi akibat perebutan pangan dan energi akan menjadikan negara berkembang menjadi negara sasaran dari negara maju. Pengekplotasian akan semakin bertambah baik SDA maupun SDM. Liberal akan menjadi cara berpikir masyarakat.

Untuk itu perlu adanya pengembalian cara berpikir dari liberal ke ideologi Pancasila. “Cara berpikir liberal harus dikembalikan, kalau tidak negara ini akan terombang-ambingkan karena tidak punya agama tidak punya kejelasan,” kata Adi Dedi Mulawarman. Sedangkan negara lain akan mudah menyuntikan berbagai ideologi ke dalam negarai ini.
    
Untuk itu konsolidasi umat harus diperkuat sebagai promotor dalam mengantisipasi kiamat yang akan terjadi. Sehingga keserakahan yang mengatasnamakan segala keperluan dan kebutuhan tidak menguasai manusia. Kehendak manusia dapat dikengkang dengan adanya agama.

"Ketika Tuhan dibunuh dalam tubuh manusia maka kehendak yang menguasai manusia dan akhirnya menimbulkan perikau konsumtif," kata Adi Dedi Mulawarman. Ketika kuasa kehendak yang menguasai manusia maka rakyat tidak memilki kedaulatan sendiri dan terjadi kiamat, dalam maksud penghancuran dunia akibat perebutan pangan dan energi antara negara-negara di dunia.

back to top