Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Kuliah budaya FIPBUI: Kami Anak Indonesia

Kuliah budaya FIPBUI: Kami Anak Indonesia

Jakarta- KoPi- Program Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia mengadakan Kuliah Budaya dengan tema “Kami Anak Indonesia”, Selasa 28 Oktober 2014. Kuliah Budaya ini bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Hadir sebagai  pembicara, yaitu Amrullah Sofyan perwakilan dari Plan Organization, Kombes Budi Wijanarko, dan Riris K. Toha Sarumpaet Guru besar FIB UI. Acara dipimpin oleh Maman S. Mahayana Dosen Sastra FIB UI sebagai moderator.

Di awal acara, Manneke Budiman selaku perwakilan dari Dekan FIB UI memberikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan mengenai tantangan yang dihadapi anak-anak Indonesia, khususnya yang berusia 5-7 tahun. Anak-anak zaman sekarang memiliki tantangan dan bahaya yang lebih berat dibandingkan anak-anak zaman dahulu. Tantangan serta bahaya yang menjadi sumber utama itu datang dari orang terdekat dan lingkungan si anak, seperti orangtua, guru, saudara, dan teknologi. Mereka yang seharusnya melindungi dan menjadi panutan bagi anak-anak justru tidak melakukan perannya dengan baik.
   
Amrullah Sofyan perwakilan dari Plan Organization yaitu sebuah organisasi internasional kemanusiaan dan pengembangan masyarakat. Organisasi ini berfokus pada kesejahteraan anak tanpa berpihak kepada agama, organisasi politik, atau sistem pemerintahan tertentu. Di awal pembicaraannya, Amrullah Sofyan menyuguhkan sebuah video berdurasi pendek yang membuat penonton miris melihatnya. Video ini bercerita mengenai tantangan dan kesulitan yang dihadapi anak-anak di seluruh dunia khususnya anak-anak perempuan. Dari menonton video ini, terlihat jelas bagaimana gender memunculkan ketidakadilan yang secara langsung dirasakan oleh kaum wanita. Anak-anak perempuan dipaksa menikah pada usia muda dan meninggalkan bangku sekolah. Pernikahan perempuan di usia muda ini berdampak pada kematian ibu-ibu muda karena belum siap untuk melahirkan serta kematian bayi karena terlahir tidak sehat. Inilah yang kemudian menyebabkan tidak adanya kesetaraan antara kamu laki-laki dan perempuan.


   
Selain itu, anak-anak juga menghadapi tantangan alam. Faktor alam membuat anak-anak harus bermigrasi untuk mencari makan. Pada saat perpindahan inilah biasanya anak diasuh oleh kerabat, masuk ke panti asuhan, dibuang oleh orangtuannya, menjadi anak jalanan, dan mendapat kekerasan. Seringnya kekerasan terjadi pada anak dapat menjadikan anak berperilaku tidak semestinya, misalnya para LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) biasanya orang-orang seperti itu pernah mengalami trauma di masa kecil. Anak-anak di Indonesia banyak yang meninggal ketika usia mereka kurang dari lima tahun akibat penyakit karena kurangnya imunisasi. Hal ini ditambah dengan banyaknya anak Indonesia yang lahir tanpa memiliki identitas, tidak memiliki akta kelahiran, tidak mengenal orangtuanya, putus sekolah, dan terpaksa bekerja di usia dini.
   
Kombes Budi Wijanarto dari pihak kepolisian yang hadir menambahkan, bahwa selain masalah-masalah tersebut, narkoba adalah salah satu masalah utama yang harus diperangi oleh anak-anak Indonesia. Banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak yang sering muncul di berbagai pemberitaan media massa juga membuat pihak kepolisian prihatin. Dalam pembicaraannya Budi Wijanarto banyak berbicara mengenai kewajiban serta hak-hak yang harus diterima anak, salah satunya hak untuk mendapatkan perlindungan. Beliau juga banyak berpesan agar masyarakat Indonesia ikut memikirkan nasib anak-anak Indonesia serta berhenti melakukan kekerasan terhadap anak.
   
Prof. Riris K. Toha Sarumpet mengkaji masalah ini melalui perspektif budaya. Beliau mengatakan bahwa selain bimbingan, yang paling penting adalah sastra anak atau bacaan bagi anak-anak Indonesia. Apalagi sekarang, sastra tidak hanya ditulis oleh orang dewasa tetapi juga anak-anak. Anak-anak memiliki kebebasan dalam menulis atau bercerita. Sayangnya, buku cerita anak yang ditemukan di pasaran kebanyakan bercerita mengenai hal-hal yang kurang baik, misalkan menonjolkan rasa iri, perselisihan, dan budaya yang kebarat-baratan. Fakta ini semakin diperparah dengan banyaknya pengeditan yang membuat cerita kehilangan keorisinalitasanya. Bacaan anak tidak hanya berasal dari buku-buku, malainkan program televisi, teknologi, lingkungan sekitar, dan orang-orang terdekat juga merupakan bacaan bagi anak. Bacaan yang buruk dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perilaku anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus kelak.

back to top