Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Korea Selatan butuh Indonesia

Korea Selatan butuh Indonesia

Yogya – KoPi| Indonesia masih menjadi bangsa yang punya peran dan posisi penting bagi bangsa lain. Peran Indonesia di masa lalu sebagai salah satu bangsa pelopor Gerakan Non-Blok masih sangat diingat oleh dunia internasional. Selain itu, peran Indonesia dalam membantu menyelesaikan permasalahan dan pertingkaian antarnegara, juga masih menjadi perhatian banyak Negara. Termasuk Korea Selatan yang menganggap Indonesia bisa membantunya dalam menyelesaikan permasalahan Semenanjung Korea.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Yang Seung-Yoon, Ph.D, Prof. Emeritus Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan, saat menjadi narasumber dalam seminar internasional “Korea-Indonesia Update 2014” bertajuk hubungan Korea Selatan dan Indonesia dalam perspektif politik, sosial dan budaya, hari ini, yang diselenggarakan Jurusan Hubungan Internasional UMY bekerjasama dengan The International Association of Korean Studies in Indonesia (INAKOS), sebuah lembaga kerjasama Indonesia dan Korea Selatan.

Hadir pula Dewi Savitri Wahab (Direktur Asia Pasifik, Kementerian Luar Negeri Indonesia), Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si (profesor jurusan HI UMY), Dr. Nur Aini Setiawati, M.Hum (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada) dan Dr. Anton Minardi (Dosen HI Universitas Pasundan Bandung).

Prof. Yang Seung-Yoon mengatakan, Indonesia memiliki posisi yang sangat penting bagi Korea, khususnya Korea Selatan. Hal ini disebabkan Indonesia bisa menjadi jalan keluar dan penengah dalam permasalahan Semenanjung Korea, antara Korea Selatan dan Korea Utara. Karena Indonesia juga bukan negara yang memiliki keberpihakan pada satu negara. "Di samping itu, Indonesia juga bisa mengisi kekosongan dalam upaya reunifikasi Semenanjung Korea, serta menambal kekurangan situasi serta dan keadaan geo-politik di Semenanjung Korea dalam permasalahan dengan Korea Utara," papar Yang Seung-Yoon.

Bukan dalam hal itu saja. Indonesia menjadi salah satu negara yang punya posisi penting bagi Korea Selatan dalam beberapa bidang lainnya: ekonomi, industri, manufaktur dan pertukaran budayanya. Indonesia kaya akan sumber daya, termasuk sumber daya manusianya yang punya semangat tinggi untuk bekerja. “Sementara kami (Korea Selatan) memiliki kelebihan dalam hal industri yang juga membutuhkan banyak sumber daya manusia. Jadi, kita bisa saling bekerja sama dalam hal pop-industri ini,” tegas Yang Seung-Yoon.

Menurut Yang Seung-Yoon, pihaknya menyediakan modal dan teknologinya. “Sementara tenaga kerja yang kompeten serta pasar yang luas dan aktif bisa kami dapati di Indonesia ini. Seperti saat ini, kami tengah menyelesaikan kapal selam kedua dengan teknologi terbaru yang dibantu oleh orang-orang Indonesia. Dan untuk kapal selam yang ke tiga, rencananya juga semua onderdilnya akan dipindah ke Indonesia atau dengan kata lain akan dibuat di Indonesia," ujar pendiri Islamic Studies di Korea Selatan ini lagi.

Selain itu, Prof. Yang juga meyakini bahwa Indonesia ke depannya sebenarnya bisa menyetarakan kemajuannya dengan Korea dan negara-negara maju lainnya. Sebab, hubungan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan bukan hanya hubungan bilateral saja. Tapi lebih dari itu, kedua negara ini sudah memiliki ikatan batin yang bisa saling membantu dan menguntungkan satu sama lainnya. "Saya percaya, bahwa Indonesia ke depannya bisa setara dengan Korea dan negara-negara maju lainnya. Bila Indonesia dan Korea tetap bisa terus menjalin kerjasama dengan baik," ungkapnya.

Di sisi lain, Dr. Anton Minardi, dosen jurusan Hubungan Internasional Universitas Pasundan Bandung mengharapkan, kerja sama yang sudah terjalin antara Indonesia dengan Korea Selatan tidak mematikan industri di Indonesia. Sebab selama ini, menurutnya, para investor-investor asing mulai mendominasi di Indonesia.

"Karena itu, saya berharap pemerintah Indonesia maupun pemerintah Korea Selatan untuk sama-sama bertanggungjawab menjaga, memelihara dan melestarikan kekayaan dan keindahan alam Indonesia. Agar generasi mendatang bisa menyaksikan dan menikmatinya juga," ungkapnya.

Anton juga berharap, sumber-sumber energi yang tidak dapat diperbaharui dan juga ikut dinikmati oleh para investor, tetap bisa dihemat penggunaannya. Kemudian juga, para investor dan pemerintah juga berkewajiban melatih sumber daya manusia Indonesia agar terjadi upgrading keahlian, dari konsumen menjadi produsen, dari operator ke manajer, dari manajer ke owner. "Kemudian juga sharing teknologi agar tidak hanya dikuasai oleh pihak asing, meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik pada tingkat pendidikan, kesehatan maupun daya beli masyarakat, mendorong agar Indonesia tetap menjadi negara agraris yang berteknologi dan berbasis pada pertanian, perkebunan, hutan, perikanan dan kelautan. Dan ikut serta dalam menahan inflasi (kenaikan harga-harga barang) agar seimbang dengan penghasilan rakyat," pungkasnya.

Reporter: Affan Safani Adham

 

back to top