Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

KoranOpini bagi resep menulis untuk media massa

KoranOpini bagi resep menulis untuk media massa
Surabaya – KoPi | Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga menggelar workshop artikel media massa untuk kalangan mahasiswa, Rabu (29/04). Workshop yang bertempat di Aula Soetandyo FISIP Universitas Airlangga ini bertujuan mendorong mahasiswa berani mengungkapkan ide lewat tulisan di media massa.

Narasumber Tomy C. Gutomo selaku Redaktur Opini Jawa Pos memberikan tips agar tulisan mahasiswa dapat diterima media massa. “Barang termahal yang dimiliki penulis adalah ide, sedangkan argumentasi merupakan kadar yang menentukan tingkat kepenulisan seseorang. Kedua dasar tersebut kalian aktualisasikan dalam bentuk tulisan yang semenarik mungkin,” ujar Tomy.

Ia melanjutkan bahwa yang dibutuhkan media cetak seperti Jawa Pos adalah tulisan yang aktual, lead yang ada di dalamnya, sudut berita (angle) yang menarik, dan orisinalitas tulisan.

Bagong Suyanto, kolumnis Jawa Pos sekaligus dosen Sosiologi Universitas Airlangga juga berbagi pengalamannya menulis sejak kuliah. Bagong yang mulai menulis artikel sejak semester 2 kuliah ini meyakinkan peserta bahwa menulis bisa dilakukan siapa saja.

“Menulis harus dipraktekan. Cara berpikir kita akan terbuka kalau kita banyak membaca. Nanti tidak akan terasa cara menulis kita akan menjadi lebih baik,” ujar Bagong.

Bagong menuturkan tulisan yang baik dihasilkan dari ide yang baik juga. Menjawab pertanyaan peserta, ia menyebutkan fenomena sosial di sekeliling kita adalah ide yang bisa dijadikan tulisan. Bagaimana menciptakan tulisan yang baik dilakukan dengan menggali fenomena tersebut secara mendalam.

Sesi terakhir ditutup oleh Ardhie Raditya, Ketua Litbang KoranOpini.com. Ia mengajarkan bagaimana mengaplikasikan cara menulis yang benar. Menurut Ardhie, akan sia-sia jika mahasiswa hanya menitikberatkan karya mereka buat hanya sebatas untuk artikel di media massa.

“Tulisan yang kita tulis tidak memiliki hak untuk berbicara di media massa, karena yang memiliki hak tersebut adalah redakturnya. Artinya tulisan kita disesuaikan dengan “gaya” media tersebut. Dan di KoranOpini.com kalian justru bebas berpandangan,” ungkapnya.

Ardhie menekankan cara penulisan yang baik dan benar tidak hanya sebatas SPOK. Menciptakan kalimat pembuka (lead) yang menarik dan membuat penasaran adalah kuncinya.

Mengapa mahasiswa harus menulis?

“Karena menulis menciptakan keabadian dan dengan menulis adalah melakukan kritik besar-besaran untuk mencapai perubahan,” ujar Ardhie. | Labibah

back to top