Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

KoranOpini bagi resep menulis untuk media massa

KoranOpini bagi resep menulis untuk media massa
Surabaya – KoPi | Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga menggelar workshop artikel media massa untuk kalangan mahasiswa, Rabu (29/04). Workshop yang bertempat di Aula Soetandyo FISIP Universitas Airlangga ini bertujuan mendorong mahasiswa berani mengungkapkan ide lewat tulisan di media massa.

Narasumber Tomy C. Gutomo selaku Redaktur Opini Jawa Pos memberikan tips agar tulisan mahasiswa dapat diterima media massa. “Barang termahal yang dimiliki penulis adalah ide, sedangkan argumentasi merupakan kadar yang menentukan tingkat kepenulisan seseorang. Kedua dasar tersebut kalian aktualisasikan dalam bentuk tulisan yang semenarik mungkin,” ujar Tomy.

Ia melanjutkan bahwa yang dibutuhkan media cetak seperti Jawa Pos adalah tulisan yang aktual, lead yang ada di dalamnya, sudut berita (angle) yang menarik, dan orisinalitas tulisan.

Bagong Suyanto, kolumnis Jawa Pos sekaligus dosen Sosiologi Universitas Airlangga juga berbagi pengalamannya menulis sejak kuliah. Bagong yang mulai menulis artikel sejak semester 2 kuliah ini meyakinkan peserta bahwa menulis bisa dilakukan siapa saja.

“Menulis harus dipraktekan. Cara berpikir kita akan terbuka kalau kita banyak membaca. Nanti tidak akan terasa cara menulis kita akan menjadi lebih baik,” ujar Bagong.

Bagong menuturkan tulisan yang baik dihasilkan dari ide yang baik juga. Menjawab pertanyaan peserta, ia menyebutkan fenomena sosial di sekeliling kita adalah ide yang bisa dijadikan tulisan. Bagaimana menciptakan tulisan yang baik dilakukan dengan menggali fenomena tersebut secara mendalam.

Sesi terakhir ditutup oleh Ardhie Raditya, Ketua Litbang KoranOpini.com. Ia mengajarkan bagaimana mengaplikasikan cara menulis yang benar. Menurut Ardhie, akan sia-sia jika mahasiswa hanya menitikberatkan karya mereka buat hanya sebatas untuk artikel di media massa.

“Tulisan yang kita tulis tidak memiliki hak untuk berbicara di media massa, karena yang memiliki hak tersebut adalah redakturnya. Artinya tulisan kita disesuaikan dengan “gaya” media tersebut. Dan di KoranOpini.com kalian justru bebas berpandangan,” ungkapnya.

Ardhie menekankan cara penulisan yang baik dan benar tidak hanya sebatas SPOK. Menciptakan kalimat pembuka (lead) yang menarik dan membuat penasaran adalah kuncinya.

Mengapa mahasiswa harus menulis?

“Karena menulis menciptakan keabadian dan dengan menulis adalah melakukan kritik besar-besaran untuk mencapai perubahan,” ujar Ardhie. | Labibah

back to top