Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Kontrol terhadap industri rokok di Indonesia masih minim

Kontrol terhadap industri rokok di Indonesia masih minim

Bantul-KoPi|Peredaran rokok di Indonesia dinilai masih sangat mudah dan murah, dibandingkan dengan peredaran rokok di negara lain. Hal ini erat kaitannya dengan industri rokok di Indonesia yang kurang terkontrol dan tidak ada kebijakan ketat terhadap peredaran rokok di Indonesia.

Wakil Direktur MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center), Dianita Sugiyo, S.Kep., Ns., MHID, menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah terhadap peredaran rokok di Indonesia masih dinilai kurang bila dibandingkan dengan negara lain seperti Brazil dan Filipina.

Seperti yang diketahui khalayak umum sendiri, rokok memiliki dampak sangat negatif bagi para pecandunya pada jangka yang panjang.

"Di negara Brazil, pemerintahnya mengontrol masalah tobacco industry yang ada di sana. Sedangkan di Indonesia, tobacco industry merupakan masalah yang serius. Pasalnya, komoditas target industri rokok tersebut adalah anak-anak muda.

Lihat saja pada iklan rokok yang isinya menceritakan tentang anak-anak muda. Mana ada iklan rokok yang menceritakan tentang orang tua," jelas Dianita dalam pembukaan kegiatan Tobacco Control Champion Training, Selasa (6/12) di Pascasarjana UMY. Kegiatan ini akan berlangsung hingga Rabu (7/12).

Alasan industri rokok menyasar kalangan muda dalam target pasarnya, dijelaskan Dianita karena usia produktif pemuda relatif panjang dibandingkan generasi tua.

Contohnya apabila rata-rata usia hidup manusia mencapai usia 70 tahun, maka bila pemasar rokok menjajakan rokok pada pemuda usia 20 tahun, akan ada 50 tahun lagi kesempatan industri rokok untuk terus memasarkan rokok pada pemuda generasi tersebut.

"Dengan demikian pelaku industri rokok akan dapat terus menerus memasarkan rokoknya. Apalagi pada tahun 2020 mendatang, jumlah pemuda di Indonesia diperkirakan mencapai 70% dari total seluruh jumlah masyarakat Indonesia.

Dengan begitu, pelaku industri rokok akan merasa bisa mendapatkan keuntungan yang berkelanjutan dari jumlah yang banyak tersebut," jelas Dianita.

Sedangkan di negara Filipina, Dianita mengungkapkan, bahwa pemerintah di ase sana memiliki kebijakan dalam pemberlakuan biaya cukai yang besar pada produk rokok. "Biaya cukai yang besar tersebut kemudian dialokasikan pada biaya kesehatan untuk masyarakat Filipina.

Dengan begitu, harga rokok akan semakin mahal. Dan diharapkan, konsumsi masyarakat Filipina terhadap rokok dapat semakin menurun. Meskipun tidak menurun, industri rokok tetap dapat menyumbang uang kepada pemerintah yang akan dialokasikan pada dana kesehatan untuk masyarakat," ujar Dianita. |Deansa|

back to top