Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Kompetensi membaca di Indonesia masih rendah

Sumber: esensi.co.id Sumber: esensi.co.id

KoPi, Dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membaca merupakan hal yang fundamental. Oleh karenanya, semenjak dini seyogyanya seseorang memiliki kemampuan dalam membaca.

Sebagai badan Internasional yang melakukan studi tentang kemampuan membaca pada tingkat pendidikan sekolah dasar kelas empat, PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) menyediakan data mengenai hasil studinya yang dilakukan setiap lima tahun sekali. PIRLS menilai bahwa kelas empat sekolah dasar merupakan masa transisi perkembangan anak-anak dalam hal membaca. Diharapkan, pada tingkat tersebut mayoritas murid sudah memiliki kemampuan dalam membaca.

Dimulai pada tahun 2001, PIRLS sudah terhitung tiga kali melakukan studi tersebut, yaitu pada tahun 2001, 2006 dan 2011. Indonesia termasuk dalam 49 negara yang menjadi anggota dari PIRLS, yang keikutsertaannya dimulai pada studi PIRLS kedua, yaitu pada tahun 2006. Menurut data yang dimiliki oleh PIRLS, semenjak tahun 2001 hingga 2011, sepuluh negara mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca. Dalam kurun waktu 2006 hingga 2011, 13 negara tercatat lebih maju dalam hal membaca, dimana Indonesia adalah salah satunya.

Secara umum, hal yang diujikan oleh PIRLS pada tahun 2011 kepada kurang lebih 325.000 murid adalah mengenai kemampuan membaca, yang kemudian dibagi secara khusus ke dalam dua hal. Pengalaman membaca literasi merupakan hal yang pertama, sedangkan yang kedua adalah kemampuan dalam menerima serta menggunakan informasi setelah membaca. Dalam tes tersebut, Indonesia berada pada peringkat 42 dari 49 negara, dengan mencapai nilai rata-rata di bawah standar PIRLS.

Selain hal tersebut, PIRLS juga menggali data untuk menemukan hal-hal yang dapat mempengaruhi kemampuan membaca murid SD kelas empat. Hasilnya, PIRLS mengetahui beberapa hal yang mempengaruhi kemampuan membaca yaitu kondisi lingkungan rumah, kondisi lingkungan sekolah dan kurikulum. PIRLS juga menemukan bahwa perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh dalam kompetensi membaca. Perempuan, menurut data PIRLS, perempuan secara umum memiliki kompetensi membaca yang lebih tinggi dibandingkan pria.

Kondisi lingkungan rumah dimana orang tua murid senang membaca, seringkali mengajak anaknya dalam kegiatan membaca, kondisi rumah yang memungkinkan untuk belajar serta murid yang dahulu giat mengikuti kegiatan belajar mengajar sebelum memasuki sekolah dasar dapat mempengaruhi kemampuan baca murid dalam tingkat SD kelas empat. 

Dalam hal kondisi lingkungan sekolah, terdapat beberapa hal yang mempengaruhi kemampuan membaca. Antara lain adalah murid yang berasal dari keluarga dengan kondisi sosial-ekonomi yang mencukupi, murid yang menggunakan bahasa PIRLS (bahasa Inggris) sebagai bahasa awal mereka serta murid yang masuk sekolah dengan kemampuan membaca yang mumpuni. Kondisi sekolah yang memiliki fasilitas mencukupi dapat mendukung pembelajaran bagi murid – seperti kepemilikan buku, komputer, dukungan teknologi serta infrastruktur juga dapat mempengaruhi kemampuan membaca murid. 

Sekolah yang menekankan kesuksesan akademik juga mempengaruhi kompetensi membaca murid sekolah dasar kelas empat. Hal tersebut ditandai dengan ketatnya aplikasi kurikulum oleh sekolah, efektifitas pemberian materi oleh guru, tingginya keinginan murid untuk mencapai kesuksesan akademis serta dukungan dari orang tua. Penerapan disiplin serta keamanan di dalam sekolah turut mempengaruhi kompetensi membaca. Sekolah dengan kondisi dimana murid seringkali menerima bullying serta kondisi sekolah yang tidak disiplin dapat menurunkan kompetensi membaca muridnya.

Guru sebagai agen yang mentransmisikan pengetahuan kepada muridnya juga mempengaruhi kemampuan membaca para muridnya. Tercatat oleh PIRLS, guru dengan tingginya pengalaman kerja serta merasa nyaman dengan pekerjaannya mampu mempengaruhi muridnya dalam hal kemampuan membaca.

Kemampuan membaca para murid juga dipengaruhi oleh motivasi dari diri murid sendiri. Murid dengan minat membaca yang tinggi, menurut data yang diperoleh PIRLS, memiliki kompetensi membaca yang tinggi pula. Namun, kecukupan akan nutrisi serta durasi waktu istirahat dapat mempengaruhi hal tersebut.

Sumber: http://timssandpirls.bc.edu/

Reporter: Yudho NP

 

back to top