Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Kesenjangan menyebabkan intoleransi

Kesenjangan menyebabkan intoleransi

Jogja-KoPi| Mantan Walikota Yogyakarta periode 2001-2011, H. Herry Zudianto, SE.Akt,MM berpendapat intoleransi bukan masalah ideologi namun kesenjangan yang terjadi di masyarakat. Kesenjangan di berbagai sektor seperti ekonomi, sosial dan agama menumbuhkan rasa intoleransi, katanya.

"Perbedaan kondisi antar setiap orang inilah yang membuat membuat seseorang menjadi intoleransi.

Intoleransi, isu SARA, nrimo ing padu (menerima tapi masih mempermasalahkan), itu berhubungan dengan kesenjangan sosial, ekonomi dll," ujarnya saat mengisi studium generale, Di Gedung KH. Saifuddin Zuhri, UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (11/2).

Beberapa kasus intoleransi yang kuat seperti kasus terorisme, Herry Zudianto berpendapat bahwa kondisi individu tersebut tidak berbicara ke ideologi, namun kondisi individu yang sudah putus asa atau hopeless yang menerima dogma agama yang salah.

Ia juga menjelaskan keberagaman sudah ada dalam kebhinekaan yang dirintis oleh pendiri negara. Indonesia sendiri sudah menerima kemajemukan budaya, ras dan agama karena memang para pendiri serta masyarakat bersama dalam keadaan senasib dan bercita-cita sama membuat satu negara.

"Negara kita dibangun berdasarkan kemajemukan berdasarkan pilihan yang disadari untuk membuat satu negara," jelasnya.

Permasalahan kesenjangan diberbagai sektor inilah yang memperkeruh kebhinekaan serta intoleransi, beberapa penyebab pun menjadi pemicu munculnya intoleransi. Salah satunya adalah kurangnya interaksi sosial antarsesama.

Herry mengatakan interaksi antarindividu mampu memahami perbedaan dan kesamaan antarindividu. Bermain aman seperti tidak ikut campur atau tidak peduli pada permasalahan justru merusak hubungan antarsesama ini.

"Ini akan menjadi permasalahan jika kita hanya mencari aman,karena di situlah kita tidak menjadi Indonesia secara utuh karena Interaksi yang kurang."

Dengan melihat persamaan terlebih dahulu dibandingkan perbedaan akan membantu dalam menerima proses perbedaan dan keberagaman. Menurutnya, manusia sendiri sudah tercipta untuk menerima perbedaan dan keberagaman,  namun rasa takut pada perbedaanlah yang merusaknya, rasa takut ini hanya berupa wacana.

Mantan walikota itu juga mengatakan untuk mencapai toleransi dan kebhinekaan, bisa dengan kembali ke konsep nenek moyang seperti istilah Tepo Slira (tenggang rasa), Tresno Jalaran Seko Kulino (Cinta karena terbiasa /interaksi).

"Toleransi itu saling mengisi satu sama lain, bukan saling membedakan satu sama lain,"pungkasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

 

back to top