Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

 JogjaKoPi| Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius mengisi kuliah umum pada upacara penerimaan mahasiswa baru program pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Senin (25/9), di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta.

Di hadapan 3.464 mahasiswa baru UGM, Suhardi mengajak mahasiswa untuk tak segan-segan melaporkan apabila ada kelompok yang mengajarkan paham radikal di dalam kampus baik dilakukan oleh rekan mahasiswa atau dosen. “Jika ada mentor yang mengajarkan yang tidak benar, laporkan ke Dosen, Dekan dan Rektor,” kata Suhardi.

 Menurut Suhardi paham radikalisme sudah menjalar ke berbagai lini bahkan sampai ke institusi pendidikan mulai dari pendidikan tinggi hingga ke jenjang pendidikan anak usia dini. “Radikalisme sudah masuk kemana- mana, ada anak PAUD yang tidak mau diajak orang tua ke mall karena menganggap orang lain itu kafir,” ujarnya

Ia menyebutkan ciri paham radiakalilsme itu bisa dilihat dari perilaku dan sikap yang intoleransi, anti pancasila, dan anti NKRI serta mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan kelompok mereka. Pendapat tersebut dikemukan Suhardi berdasarkan pengalaman BNPT dalam memeriksa napi mantan teroris bahkan anggota keluarga teroris yang masih hidup. 

“Dari hasil pemetaan psikologis, anak dari mantan keluarga pelaku bom bunih diri di Surabaya ini memiliki keinginan kuat menjadi mujahid, anti pancasila, anti merah putih, rindu bertemu orang tuanya di alam lain, ia kangen menonton aksi-aksi kekerasan saat bersama orang tuanya dulu,” katanya.  

 Ia menambahkan paham radikalisme tidak hanya disebar lewat kegiatan diskusi dan pertemuan namun sudah melalui website dan media sosial. “Sekarang mereka menyebarkan paham radikalisme lewat web dan medsos, sehingga muncul fenonema lone wolf atau aksi tunggal bom bunuh diri, jangan sampai keluarga kita terpapar,” katanya

 Meski pemerintah melakukan upaya deradikalisasi, namun ia mengharapkan semua warga negara meningktakan rasa kebangsaan dengan bersama-sama mengawasi seluruh warga yang ditengarai memiliki perilaku berbeda dari sebelumnya. “Apabila ada teman yang datang dan kemudian tiba-tiba menghilang, segera cari, jangan dibiarkan, apalagi ia buat kelompok yang sifatnya eksklusif, disitulah proses indoktrinasi dimulai,” katanya.

Rektor UGM Prof.Ir. Panut Mulyono, M.Eng., Ph.D., dalampidato sambutannya kepada mahasiswa baru menyampaikan ucapan selamat bergabung menjadi keluarga besar UGM. “UGM sebagai universitas nasional pertama setelah kemerdekaan memiliki dua garis perjuangan yakni bekerja untuk kemanusiaan dan berjuang untuk pembangunan nasional,” katanya.

 Selama menempuh pendidikan di kampus UGM, kata Rektor, mahasiswa pascasarjana dituntut untuk bisa menghasilkan produk inovatif selama melaksanakan kegiatan riset. Namun demikian, mahasiswa juga mampu menjaga sikap toleransi dan menghargai keragaman. “Saya yakin, dua atau empat tahun lagi setelah lulus,  kemanapun Anda pergi, UGM tetap selalu di hati saudara,” katanya.

Upacara penyambutan mahasiswa baru untuk program master, doktor dan spesialis ini ditandai dengan pemakaian jas almamter oleh Rektor kepada empat orang perwakilan mahasiswa pascasarjana, disaksikan oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM, Prof. Djagal Wiseso Marseno dan Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. R. Suharyadi, M.Sc. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top