Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Kajian Budaya Populer di Unesa

Kajian Budaya Populer di Unesa

Surabaya-KoPi| Rangkaian acara kajian budaya populer di Prodi Sosiologi Unesa yang bekerja sama dengan Koranopini.com, IRB (Indonesia Review of Books), dan Jurnal Sosiologi Pendidikan telah dilaksanakan dengan lancar. Acara ini mendapat respon publik yang luar biasa. Hari ini, Kamis, (28/05) merupakan hari terakhir kegiatan tersebut dengan menyajikan analisis budaya populer pada tiga topik sekaligus; pendidikan kritis dalam perspektif kajian budaya, subkultur dan punk muslim, serta tontonan dan tatapan tubuh.

Hadir sebagai pembicara, Moh. Mudzakkir (dosen pendidikan kritis Unesa), Moh. Rokib (alumni ARI NUS, Penulis buku “punk moeslim”), dan Ardhie Raditya (penulis buku “Sosiologi Tubuh” dan redaktur Antitesis Koranopini.com).

Sebelumnya diberitakan di koran ini (13/05), telah dilaksanakan secara sukses kajian budaya populer dengan suguhan tema “Feminisme dan Ketahanan Nasional” yang menghadirkan Jaleswari Primodhawardani (anggota SesKab Presiden R.I) sebagai pembicara utamanya. Tetapi, tiga topik kajian budaya populer kali ini tidak kalah serunya dengan diskusi sebelumnya.

Menurut Mudzakkir, selama ini kualitas pendidikan kita kerap didera berbagai persoalan karena rendahnya kualitas kesadaran kritis masyarakat dan agen pendidikannya. Mereka seringkali mewarisi budaya elitis yang cenderung menggunakan budaya bisu dalam relasi sosialnya. Padahal, budaya bisu hanya memungkinkan terjadi dua pilihan praktik pendidikan: antara menghamba pada penguasa atau bersikap naif dalam menyikapi realitas sosial pendidikannya.

“Pendidikan kritis bertujuan untuk membebaskan dari berbagai persoalan ekonomi politik yang melanda sistem pendidikan kita. Sayangnya, pendidikan kritis lebih banyak disuarakan justru di luar kampus. Khususnya para NGO-NGO. Sementara, kampus negeri yang notabene mengsusung visi pendidikan sering terjebak pada urusan instrumen teknis pendidikan saja, tidak menukik hingga ke akar persoalan dalam arti radikal”.

Lanjut Mudzakkir, yang terjadi kemudian sistem pendidikan kita tidak lebih dari pendidikan gaya bank yang menjadikan pendidik sebagai satu-satunya sumber pengetahuan (subjek). Sementara itu, para peserta didik diposisikan sebagai objek pendidikan. Ironisnya, produksi budaya tinggi dan budaya rendah (populer) yang disebarkan melalui pemberitaan media massa turut melanggengkan ideologi dominan kelas sosial berpunya.

“Media sering memberitakan tanpa analisis sosial yang tajam tentang identitas siswa pintar dan siswa yang tidak pintar. Padahal, ini adalah kategorisasi kognitif. Sementara, latar belakang para siswa dari aspek ekonomi, politik dan budayanya tidak dikaji secara tajam dan mendalam. Sehingga, para penikmat media hanya disuguhkan oleh pemberitaan yang tidak adil secara sosial” tuturnya.

Sementara itu, Moh. Rokib (akrab dipanggil Rokib Mo) membaca fenomena budaya populer dari perspektif yang lain. Menurutnya, masyarakat modern saat ini telah menciptakan dua ideologi kebudayaan. Yakni, ideologi budaya dominan dan ideologi subkultur. Kelompok subkultur biasanya termajinalkan dari standar ideologi budaya dominan. Mereka seringkali dianggap ‘pelanggar’ aturan sosial-budaya. Padahal, identitas sosial-budaya itu dibanguan atas dasar perspektif budaya dominan. Sehingga, para kelompok subkultur bernegosiasi dan berkontestasi dengan gerakan resistensi dan counterwacana. Agar, mencairkan kadar otoriterian budaya dominan.

“Punk Muslim merupakan salah satu kelompok subkultur yang mencoba menegosiasikan identitas sosial budaya mereka di masyarakat. Meski secara simbolik mereka menggunakan identitas punk, ritual ibadah tidak mereka tinggalkan. Lantas, mengapa banyak orang sering menganggap sinis mereka yang pada dasarnya juga memiliki tujuan teologis yang sama dengan orang pada umumnya ?” kata Rokib Mo.

Tetapi, Rokib Mo juga memandang punk muslim secara kritis. Karena, kreatifitas yang tinggi di kalangan mereka membuat pemerintah ikut campur dalam praktik budaya kesehariannya. Efeknya adalah identitas simbolik yang merupakan hasil kreasi budaya subkultur lantas dijadikan komoditas dalam industri kreatif. Kalau sudah demikian halnya, budaya subkultur yang lekat dengan resistensi dan otonomi menjadi kabur. Karena, mereka secara tidak sadar terjerat ke dalam ideologi pasar yang hanya berorientasi profit. Mereka menjadi objek industri budaya massa yang kehilangan kesadaran kritisnya.

“Belakangan ini sejak pemerintah mewacanakan industri kreatif, praktik budaya kelompok subkultur menjadi tidak lagi otonom dari kepentingan kekuasaan. Mereka menjadikan simbol-simbol subkultur sebagai produk yang menarik untuk dipasarkan atas nama industri kreatif. Secara ekonomi memang menguntungkan, tetapi secara simbolik dan kultural justru mengalami defisit” ujar Rokib.

Berbeda halnya dengan Ardhie Raditya. Munculnya kategorisasi budaya dalam masyarakat modern karena disebabkan budaya tontonan. Tontonan bukan hanya produk media, melainkan cara pandang masyarakat terhadap dunianya yang dimaterialkan. Sehingga, efek ekonomi tontonan telah merubah logika produksi dan konsumsi dalam masyarakat.

“Keberadaan diri seseorang dalam masyarakat tontonan bukan lagi ditentukan oleh kerja-kerja produktif ataupun komunikasi bebas dominasi sebagaimana dipahami mazhab Frankfurt antar generasinya. Ekonomi masyarakat tontonan lebih mengangungkan penampakan (appearing) semata, daripada substansi dibaliknya. Penampakan sebagai representasi citra diri dan sosialnya. Lalu, orang terkadang lebih sibuk mengurusi dandanan wajahnya, fashionnya, handphonenya, perhiasan yang akan dipakainya, daripada substansi ritual keagamaan yang akan diikutinya” ungkap Ardhie.

Lanjut Ardhie, masyarakat tontonan memang tidak lepas dari adanya praktik mediatisasi di dalam praktik budaya masyarakat sekarang ini. Tak ada satupun aspek kehidupan, termasuk budaya masyarakat yang tidak termediatisasikan. Masalahnya logika media kerap mereduksi makna budaya itu sendiri. Sehingga, makna budaya yang mendalam rentan sekali terdistorsi oleh logika media. Hal yang patut ‘diwaspadai’ dari efek mediatisasi adalah budaya tatapan mata terhadap tubuh manusia. Tatapan mata akan memposisikan perempuan sebagai objek citra laki-laki.

“Tatapan mata laki-laki (male gaze), misalnya, akan menjadikan tubuh perempuan sebagai objek kesenangannya (pleasure gaze). Di ruang publik, tatapan mata yang bersifat veyoriusme akan mudah ditemui saat laki-laki melihat perempuan yang seksi. Di sisi lain, terkadang perempuan juga merasa senang menatap tubuhnya dan tubuhnya ditatap orang lain.

Senam erobik misalnya. Tidak sedikit laki-laki yang ikut hanya untuk melirik dan mengintip bagian tubuh perempaun yang bersifat sensual dan erotisme. Bukan berarti membolehkan tatapan mata laki-laki yang “telanjang dan bugil” seperti ini. Tatapan mata yang demikian ini hanya membuat tubuh perempuan terluka secara sosial, kultural, dan psikoanalisis” tutup Ardhie.| ARA

back to top