Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

ITFSS tahun kedua ajak peserta kagumi Pantai Bugel

ITFSS tahun kedua ajak peserta kagumi Pantai Bugel

Bantul-KoPi| ASA (Agrotechnology Student’s Association) UMY kembali mengadakan International Tropical Farming Summer School untuk para mahasiswa Agroteknologi. Acara ini dihelat dari tanggal 10 hingga 19 Agustus 2016. Dalam tahun keduanya kali ini, ITFSS mempunyai tema besar “ Integrated Farming System in Tropical Area”. Sebanyak 18 peserta mengikuti acara ini yang berasal dari Indonesia dan Thailand.

Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P, dalam pemaparannya memberikan class session kepada peserta dan mengajak para peserta mengagumi system Tropical Farming di wilayah Yogyakarta salah satunya Pantai Bugel. Menurutnya, petani di Pantai Bugel, mengaplikasikan Tropical Farming berdasarkan adaptasi lingkungan.

“Salah satu wilayah di Yogya yaitu di Pantai Bugel yang ada di Kulonprogo. Sebagai daerah pantai, Pantai Bugel mempunyai iklim panas sepanjang tahun, dengan precipitation lebih dari 1000 mm per tahun. Namun, petani lokal dapat membuat lahan kering mereka ditanami semangka, cabai dan beberapa sayuran lainnya,” paparnya.
Gunawan menambahkan bahwa adaptasi lingkungan yang berlangsung di pantai Bugel merupakan hasil pengalaman bertahun-tahun.

“Masalah utama yang dihadapi adalah bagaimana tanah di sana punya kapasitas untuk menahan air untuk kelangsungan hidup tanaman. Petani tahu bahwa dengan kondisi kering dan tekanan angin yang besar, tanaman membutuhkan air untuk meyeimbangkan pengeluaran air di daun. Mereka tahu hal tersebut karena sudah mengalaminya bertahun-tahun,”tambahnya.

Sementara itu, Menurut Chandra Kurnia Setiawan, selaku Penanggung Jawab acara ITFSS menyatakan ITFSS 2016 ini terdiri dari beberapa rangkaian acara.

“Selain class session, rangkaian acara ITFSS juga meliputi kunjungan lapangan, diskusi grup dan sosial program yaitu mengunjungi beberapa tempat wisata di Yogyakarta. Untuk tahun ini peserta akan diajak ke Desa Wisata Brayut, Sleman,”,ungkapnya.
Dipilihnya Yogyakarta sebagai tempat diadakannya ITFSS, menurut Chandra sesuai dengan Tema besar ITFSS kali ini yaitu “Integrated Farming System in Tropical Area”.

”Yogyakarta merupakan bagian dari Indonesia, yang merupakan wilayah tropis juga. Selain itu, wilayah Jogja memiliki spesifikasi daerah yang lengkap mulai dari dataran tinggi, menengah hingga daerah pantai. Wilayah itu semuanya bisa ditanami berbagai tanaman,” tambah Chandra.

Terakhir Chandra berharap agar Tropical Farming di Indonesia dapat diperkenalkan ke dunia. Sebagai acara tahunan, Chandra juga berharap agar ITFSS dapat menarik berbagai peserta di negara lain agar bisa berbagi sistem pertanian yang ada di sana.

“Masyarakat global perlu tahu tropical farming di Indonesia. Pasalnya sistem pertanian tersebut juga bisa diterapkan di negara lain. Selain itu, Indonesia juga mempunyai kearifan lokal yang juga dapat diperkenalkan di dunia. Semoga dalam pelaksanaan selanjutnya, makin banyak peserta dari berbagai negara,” tutupnya. |Bagas|

back to top