Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

ITFSS tahun kedua ajak peserta kagumi Pantai Bugel

ITFSS tahun kedua ajak peserta kagumi Pantai Bugel

Bantul-KoPi| ASA (Agrotechnology Student’s Association) UMY kembali mengadakan International Tropical Farming Summer School untuk para mahasiswa Agroteknologi. Acara ini dihelat dari tanggal 10 hingga 19 Agustus 2016. Dalam tahun keduanya kali ini, ITFSS mempunyai tema besar “ Integrated Farming System in Tropical Area”. Sebanyak 18 peserta mengikuti acara ini yang berasal dari Indonesia dan Thailand.

Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P, dalam pemaparannya memberikan class session kepada peserta dan mengajak para peserta mengagumi system Tropical Farming di wilayah Yogyakarta salah satunya Pantai Bugel. Menurutnya, petani di Pantai Bugel, mengaplikasikan Tropical Farming berdasarkan adaptasi lingkungan.

“Salah satu wilayah di Yogya yaitu di Pantai Bugel yang ada di Kulonprogo. Sebagai daerah pantai, Pantai Bugel mempunyai iklim panas sepanjang tahun, dengan precipitation lebih dari 1000 mm per tahun. Namun, petani lokal dapat membuat lahan kering mereka ditanami semangka, cabai dan beberapa sayuran lainnya,” paparnya.
Gunawan menambahkan bahwa adaptasi lingkungan yang berlangsung di pantai Bugel merupakan hasil pengalaman bertahun-tahun.

“Masalah utama yang dihadapi adalah bagaimana tanah di sana punya kapasitas untuk menahan air untuk kelangsungan hidup tanaman. Petani tahu bahwa dengan kondisi kering dan tekanan angin yang besar, tanaman membutuhkan air untuk meyeimbangkan pengeluaran air di daun. Mereka tahu hal tersebut karena sudah mengalaminya bertahun-tahun,”tambahnya.

Sementara itu, Menurut Chandra Kurnia Setiawan, selaku Penanggung Jawab acara ITFSS menyatakan ITFSS 2016 ini terdiri dari beberapa rangkaian acara.

“Selain class session, rangkaian acara ITFSS juga meliputi kunjungan lapangan, diskusi grup dan sosial program yaitu mengunjungi beberapa tempat wisata di Yogyakarta. Untuk tahun ini peserta akan diajak ke Desa Wisata Brayut, Sleman,”,ungkapnya.
Dipilihnya Yogyakarta sebagai tempat diadakannya ITFSS, menurut Chandra sesuai dengan Tema besar ITFSS kali ini yaitu “Integrated Farming System in Tropical Area”.

”Yogyakarta merupakan bagian dari Indonesia, yang merupakan wilayah tropis juga. Selain itu, wilayah Jogja memiliki spesifikasi daerah yang lengkap mulai dari dataran tinggi, menengah hingga daerah pantai. Wilayah itu semuanya bisa ditanami berbagai tanaman,” tambah Chandra.

Terakhir Chandra berharap agar Tropical Farming di Indonesia dapat diperkenalkan ke dunia. Sebagai acara tahunan, Chandra juga berharap agar ITFSS dapat menarik berbagai peserta di negara lain agar bisa berbagi sistem pertanian yang ada di sana.

“Masyarakat global perlu tahu tropical farming di Indonesia. Pasalnya sistem pertanian tersebut juga bisa diterapkan di negara lain. Selain itu, Indonesia juga mempunyai kearifan lokal yang juga dapat diperkenalkan di dunia. Semoga dalam pelaksanaan selanjutnya, makin banyak peserta dari berbagai negara,” tutupnya. |Bagas|

back to top