Menu
Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

Prev Next

Ing Ngarso Sung Tulodho: mana teladan kita sekarang?

Ing Ngarso Sung Tulodho: mana teladan kita sekarang?

Surabaya – KoPi| Bertolak belakang dengan kisah Susi Pudjiastuti, ada cerita mengenai Ignatius Ryan Tumiwa. Ryan pernah menghebohkan Indonesia karena permohonannya kepada Mahkamah Konstitusi agar melegalkan euthanasia (suntik mati). Ryan yang lulusan S2 Universitas Indonesia depresi karena ia sudah satu tahun tidak mampu menemukan pekerjaan.

Jika dibandingkan dengan Susi, tentu kisah itu sangat bertolak belakang. Yang satu hanya lulusan SMP namun diangkat menjadi menteri, sedangkan yang lain telah meraih gelar S2 di unviersitas bergengsi namun sulit menemukan pekerjaan. Ijazah dan gelar seakan tidak menjamin kehidupan seseorang.

Mengomentari hal tersebut, Wakil Rektor I UNAIR Prof. Achmad Syahrani mengatakan memang ada yang salah pada pendidikan di Indonesia. “Kita bangsa Indonesia mengakui Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tapi kita tidak menerapkan apa yang beliau sampaikan pada kita,” ujarnya.

Syahrani mengatakan, agar pendidikan bisa sukses, menurut Ki Hajar Dewantara harus ada tiga prinsip yang mendasarinya. Ketiganya adalah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

“Kita tahu Kementerian Pendidikan yang dulu hanya menuliskan Tut Wuri Handayani. Tidak ada Ing Ngarso Sung Tulodho dan Ing Madya Mangun Karsa. Itu pun juga entah betul dilakukan atau tidak,” tukas pengajar di Fakultas Farmasi UNAIR ini.

Ketiadaan dua prinsip yang lain, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho dan Ing Madya Mangun Karsa, menyebabkan anak-anak jaman sekarang tidak lagi punya teladan.

“Kita ini tidak meneruskan apa yang disampaikan oleh Bung Karno dulu. Untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu nation and character building. Nation akan terpelihara jika ada pendidikan karakter,” lanjut Syahrani.

Sebenarnya, menteri pendidikan sebelumnya mengusung konsep pendidikan karakter ini. Hanya saja banyak orang yang tidak menyadari pentingnya hal ini. Permendikbud yang diteken Menteri Pendidikan sebelumnya sudah mengubah fokus pendidikan Indonesia.

“Dulu fokus pertama adalah knowledge, kemudian skill, terakhir baru attitude. Nah sekarang kita balik, attitude yang pertama. Sikap dan perilaku harus kita terapkan lebih dulu. Dari situ kita butuhkan prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho tadi. Kalau tidak ada teladannya akan susah,” ujar Syahrani lagi.

back to top