Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Ing Ngarso Sung Tulodho: mana teladan kita sekarang?

Ing Ngarso Sung Tulodho: mana teladan kita sekarang?

Surabaya – KoPi| Bertolak belakang dengan kisah Susi Pudjiastuti, ada cerita mengenai Ignatius Ryan Tumiwa. Ryan pernah menghebohkan Indonesia karena permohonannya kepada Mahkamah Konstitusi agar melegalkan euthanasia (suntik mati). Ryan yang lulusan S2 Universitas Indonesia depresi karena ia sudah satu tahun tidak mampu menemukan pekerjaan.

Jika dibandingkan dengan Susi, tentu kisah itu sangat bertolak belakang. Yang satu hanya lulusan SMP namun diangkat menjadi menteri, sedangkan yang lain telah meraih gelar S2 di unviersitas bergengsi namun sulit menemukan pekerjaan. Ijazah dan gelar seakan tidak menjamin kehidupan seseorang.

Mengomentari hal tersebut, Wakil Rektor I UNAIR Prof. Achmad Syahrani mengatakan memang ada yang salah pada pendidikan di Indonesia. “Kita bangsa Indonesia mengakui Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tapi kita tidak menerapkan apa yang beliau sampaikan pada kita,” ujarnya.

Syahrani mengatakan, agar pendidikan bisa sukses, menurut Ki Hajar Dewantara harus ada tiga prinsip yang mendasarinya. Ketiganya adalah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

“Kita tahu Kementerian Pendidikan yang dulu hanya menuliskan Tut Wuri Handayani. Tidak ada Ing Ngarso Sung Tulodho dan Ing Madya Mangun Karsa. Itu pun juga entah betul dilakukan atau tidak,” tukas pengajar di Fakultas Farmasi UNAIR ini.

Ketiadaan dua prinsip yang lain, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho dan Ing Madya Mangun Karsa, menyebabkan anak-anak jaman sekarang tidak lagi punya teladan.

“Kita ini tidak meneruskan apa yang disampaikan oleh Bung Karno dulu. Untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu nation and character building. Nation akan terpelihara jika ada pendidikan karakter,” lanjut Syahrani.

Sebenarnya, menteri pendidikan sebelumnya mengusung konsep pendidikan karakter ini. Hanya saja banyak orang yang tidak menyadari pentingnya hal ini. Permendikbud yang diteken Menteri Pendidikan sebelumnya sudah mengubah fokus pendidikan Indonesia.

“Dulu fokus pertama adalah knowledge, kemudian skill, terakhir baru attitude. Nah sekarang kita balik, attitude yang pertama. Sikap dan perilaku harus kita terapkan lebih dulu. Dari situ kita butuhkan prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho tadi. Kalau tidak ada teladannya akan susah,” ujar Syahrani lagi.

back to top