Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Ing Ngarso Sung Tulodho: mana teladan kita sekarang?

Ing Ngarso Sung Tulodho: mana teladan kita sekarang?

Surabaya – KoPi| Bertolak belakang dengan kisah Susi Pudjiastuti, ada cerita mengenai Ignatius Ryan Tumiwa. Ryan pernah menghebohkan Indonesia karena permohonannya kepada Mahkamah Konstitusi agar melegalkan euthanasia (suntik mati). Ryan yang lulusan S2 Universitas Indonesia depresi karena ia sudah satu tahun tidak mampu menemukan pekerjaan.

Jika dibandingkan dengan Susi, tentu kisah itu sangat bertolak belakang. Yang satu hanya lulusan SMP namun diangkat menjadi menteri, sedangkan yang lain telah meraih gelar S2 di unviersitas bergengsi namun sulit menemukan pekerjaan. Ijazah dan gelar seakan tidak menjamin kehidupan seseorang.

Mengomentari hal tersebut, Wakil Rektor I UNAIR Prof. Achmad Syahrani mengatakan memang ada yang salah pada pendidikan di Indonesia. “Kita bangsa Indonesia mengakui Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tapi kita tidak menerapkan apa yang beliau sampaikan pada kita,” ujarnya.

Syahrani mengatakan, agar pendidikan bisa sukses, menurut Ki Hajar Dewantara harus ada tiga prinsip yang mendasarinya. Ketiganya adalah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

“Kita tahu Kementerian Pendidikan yang dulu hanya menuliskan Tut Wuri Handayani. Tidak ada Ing Ngarso Sung Tulodho dan Ing Madya Mangun Karsa. Itu pun juga entah betul dilakukan atau tidak,” tukas pengajar di Fakultas Farmasi UNAIR ini.

Ketiadaan dua prinsip yang lain, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho dan Ing Madya Mangun Karsa, menyebabkan anak-anak jaman sekarang tidak lagi punya teladan.

“Kita ini tidak meneruskan apa yang disampaikan oleh Bung Karno dulu. Untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu nation and character building. Nation akan terpelihara jika ada pendidikan karakter,” lanjut Syahrani.

Sebenarnya, menteri pendidikan sebelumnya mengusung konsep pendidikan karakter ini. Hanya saja banyak orang yang tidak menyadari pentingnya hal ini. Permendikbud yang diteken Menteri Pendidikan sebelumnya sudah mengubah fokus pendidikan Indonesia.

“Dulu fokus pertama adalah knowledge, kemudian skill, terakhir baru attitude. Nah sekarang kita balik, attitude yang pertama. Sikap dan perilaku harus kita terapkan lebih dulu. Dari situ kita butuhkan prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho tadi. Kalau tidak ada teladannya akan susah,” ujar Syahrani lagi.

back to top