Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Guru Besar baru UMY kritisi tata kelola pemerintahan

Guru Besar baru UMY kritisi tata kelola pemerintahan

Bantul-KoPi|Universitas Muhammadiyah Yogyakarta(UMY) mengukuhkan kembali wakil rektor ,Prof Achmad Nurmandi menjadi Guru Besar di kampus UMY.

Prof. Achmad Nurmandi yang mengajar di jurusan Ilmu Pemerintahan, Filsafat dan Ilmu Politik (Fisipol) UMY ini diangkat menjadi Guru besar UMY keenam tahun ini. Pada pengangkatannya,ia pun membawakan tema inti fenomena dan dinamika masalah tata kelola pemerintahan dalam pidatonya.

"ini adalah bentuk pengabdian kami, dimana ilmu pengetahuan pada ranah akademis kami kolaborasikan dengan dinamika lapangan sebagai sebuah solusi untuk permasalahan tata kelola pemerintahan,"ujarnya di Gedung Ar Fachruddin UMY,Jumat (25/8).

Prof. Achmad pun melingkari isu penyelesaian masalah publik yang kian hari semakin rumit, khususnya isu terkini organisasi organisasi pemerintahan. Permasalahannya sendiri terkait lingkungan, pengangguran, keamanan, kejahatan, tunawisma ,kemiskinan, dan perbatasan.

"Seringkali permasalahan yang dihadapi oleh pemerintahan sampai melampaui batasan administrasi baik wilayah maupun organisasi. serta prosedur yang melibatkan aktor multi-level, multi-aktor, dan multi-sektor,"ucapnya.

Ia pun melanjutkan Terwujudnya tata kelola pemerintah yang baik (good governance) tidak lepas dari peran institusional tiga domain ,yaitu state (pemerintahan). private sector (sektor swasta atau dunia usaha). dan society (masyarakat) yang saling berinteraksi dan menjalankan fungsinya masing-masing. Sehingga nantinya ketiga peran ini diharapkan dapat mengatasi-masalah saat ini.

Namun sayangnya institusi pemerintah yang diharapkan dapat memerankan fungsinya sebagai pihak yang dapat menciptakan lingkungan politik dan hukum yang kondusif justru memiliki masalah tersendiri dalam tata kelola organisasinya.

Prof. Achmad pun mengatakan ini semua menjadi kendala tersendiri dalam proses implementasi good governance. Buruknya tata kelola pemerintah ini menjadikan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah menjadi semakin rumit. Masalah organisasi pemerintah serta bayang-bayang politik seringkali menjadi penghambat gerakan pemerintah dalam menyelesaikan masalah.

"Fenomena tata kelola pemerintahan ini menjadi fokus yang menarik untuk terus diteliti dan dikaji sebagai sebagai upaya untuk mencari solusi akan permasalahan yang terjadi. Pemerintah dengan segudang masalah tak akan mampu menyelesaikan permasalahan itu sendiri. Untuk itu, upaya melakukan kerja kolektif sejumlah pihak seperti perguruan tinggi, lembaga konsultan profesional, maupun elemen masyarakat lainnya adalah sebuah hal yang harus dilakukan," jelasnya menutup pidato.

Sementara, dari sisi Universitas,Pihak kampus sangat bangga dengan diangkatnya Prof. Achmad menjadi guru besar dalam bidang ilmu pemerintahan. Ketua Senat Universitas sekaligus salah satu guru besar UMY, Prof. Agus Muntohar berharap,Prof. Achmad Nurmandi dapat memberikan sumbangsih yang besar kepada Kampus dan negara lewat pemikiran-pemikirannya.

Lebih lanjut,ia mengimbuhkan sering guru besar yang baru diangkat tidak mengetahui hal yang akan dilakukan setelah mereka diangkat.

"Banyak yang berusaha mencapai guru besar namun tidak tahu langkah setelahnya. Padahal menjadi guru besar merupakan impian dari semua dosen. Setelah menjadi guru besar kita setidak nya dapat melakukan sesuatu yang nyata,"imbuhnya.

Tak hanya itu,Prof. Agus Muntohar juga menuturkan kedepan banyak dosen UMY termotivasi dengan pengangkatan ini. Untuk saat ini pihak kampus UMY berusaha mendorong 40 dosennya mendapat gelar profesor pada tahun ini dan kedepan UMY menargetkan 80 Profesor yang selanjutnya diharapkan mengikuti langkah Prof.Achmad Nurmandi menjadi guru Besar.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top