Menu
Jogja International Street Performance 2017

Jogja International Street Performa…

Jogja-KoPi| Dinas Pariwis...

Kemenag restui pemutaran dan pembuatan film G30S/PKI

Kemenag restui pemutaran dan pembua…

Sleman-KoPi| Kementrian A...

Menag meralat makna radikalisme agama

Menag meralat makna radikalisme aga…

Sleman-KoPi|Menteri Agama...

Brigjen TNI Wirana Prasetya Budi, S.E. Jabat Wakil Gubernur Akmil

Brigjen TNI Wirana Prasetya Budi, S…

Akademi Militer (22/09/20...

Gus Ipul : Buka Pergusmad V di Lumajang

Gus Ipul : Buka Pergusmad V di Luma…

Lumajang-KoPi| Wakil Gube...

Gus Ipul Harapkan Persadin Lahirkan Seniman dan Atlet Handal Jatim

Gus Ipul Harapkan Persadin Lahirkan…

Malang-KoPi| Persadin (Pe...

Gus Ipul Apresiasi POC Promosikan Wisata Jatim

Gus Ipul Apresiasi POC Promosikan W…

Batu-Malang| Gus Ipul – s...

DPR dinilai kurang becus bahas isu nuklir

DPR dinilai kurang becus bahas isu …

Sleman-KoPi|Peneliti Inst...

Gus Ipul Ajak Siswa Jadi Generasi Unggul dengan Doa, Usaha, Ilmu dan Tawakal

Gus Ipul Ajak Siswa Jadi Generasi U…

Surabaya-KoPi| Wakil Gube...

Gubernur Jatim Ingatkan Tentang Integritas

Gubernur Jatim Ingatkan Tentang Int…

Surabaya-KoPi| Para pejab...

Prev Next

Cacat tubuh bukan masalah bagi anakku

Cacat tubuh bukan masalah bagi anakku

Herdin Listyo Pratiwi dan Edy Sasongko adalah pasangan paroh baya biasa, seperti halnya keluarga lainnya. Bedanya, ia memiliki anak difabel, tuna rungu dan berprestasi.

Jogja-KoPi│Bagi kebanyakan keluarga memiliki anak penyandang cacat bukan perkara mudah. Ada beban baik secara psikologis dan sosial. Belum lagi ketika harus mendidiknya agar setidaknya mampu berdikari, berdiri di kaki sendiri. Hal ini juga dirasakan oleh Herdin Listyo Pratiwi dan Edy Sasongko. Rasa putus asa pernah dialami sebelumnya, ketika anak mereka Arif yang awalnya terlahir normal tiba-tiba menjadi berbeda pada usia 1,5 tahun. Indera pendengaran buah hati mereka hilang ketika sembuh dari sakit panas.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama, Herdin Listyo Pratiwi berusaha melakukan segalanya untuk menjadikan anaknya sembuh dan normal seperti anak-anak lainnya. Berbagai daerah sudah didatanginya untuk mencari obat yang dapat menyembuhkan kekurangan anaknya, mulai dari Yogyakarta, Jawa Timur, Klaten dan tempat-tempat lainnya. Namun hasilnya nol, tidak ada perubahan bagi anaknya.

"Ketika semua usaha yang saya lakukan dan tidak ada hasilnya, sekarang saatnya saya menerima apa yang ditakdirkan Tuhan kepada saya dan anak saya," ungkap Herdin Listyo Pratiwi.

Semua kasih sayang keluarga kini tercurahkan kepada Arif. Saudara-saudara Arif diberikan pengertian bahwa Arif berbeda dengan saudaranya.

“Saudara-saudara Arif sudah paham bahwa Arif berbeda dengan mereka, ya walau sebelumnya mereka pernah iri kepada Arif, karena Arif yang mendapatkan perhatian paling banyak,” jelas Edy Sasongko.

Motivasi dan dorongan untuk bersosialisasi kepada lingkungan sekitar terus diberikan agar Arif dapat hidup selayaknya orang normal. Herdin Listyo Pratiwi mencoba segala cara untuk menghilangkan perasaan rendah diri yang ada di dalam diri anaknya. Salah satunya dengan membiasakan Arir ikut serta dalam lomba-lomba, seperti menggambar, mewarnai, lomba peringatan HUT RI. Tak hanya itu, Herdin Listyo Pratiwi juga membiarkan Arif bermain dengan anak-anak sekitar sehingga ia terbiasa dengan lingkungan yang ada. Tak sedikitpun terdapat rasa malu dibenak ibu ini.

“Saya tidak merasa malu ketika mengikutkan anak saya di lomba, malahan saya bangga karena anak saya bisa seperti anak-anak normal lainnya,” ujar Herdin Listyo Pratiwi.

Kebiasaan bersosialisasi yang ditanamkan sedari kecil membuat Arif tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Kegiatan sekolah diperkenalkan Herdin Listyo Pratiwi kepada Arif dengan cara mengajaknya ke sekolah ketika ia mengajar, dan menjadikan Arif sebagai murid di TK tersebut.

“Keinginan Arif untuk bersekolah semakin besar ketika melihat kakaknya bersekolah, ia meminta untuk sekolah juga seperti kakaknya, dan akhirnya kita memasukkan Arif ke SDLB Negeri 4 Yogyakarta,” jelasnya.

Selain membiasakan Arif bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, Edy Sasongko dan Istrinya juga membisakan Arif bercerita tentang semua masalah yang terjadi padanya. Kedekatan antara orang tua dan anak ini menjadikan Arif lebih tangguh dalam menghadapi masalah.

Tak ada masalah yang berarti ketika Arif menuntut ilmu di SDLB maupun SMPLB. Namun kekhawatiran mulai menyelimuti Ibu paruh baya ini ketika buah hatinya memasuki SMK. Lingkungan baru dengan berbagai teman yang normal akan dijalani oleh anaknya, kekhawatiran jika anaknya tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya menghantui ibu ini. Namun, kehawatiran itu hilang ketika Arif membuktikan bahwa ia mampu bersaing di SMK tersebut dan menjadi salah satu siswa yang berprestasi di dunia seni.

“Kami tidak pernah melarang anak-anak kami untuk berekspresi, apapun yang dilakukannya asal bermanfaat dan tidak mempermalukan keluarga kami perbolehkan,” jelas Edy Sasongko. “Anakku sama dengan anak lainnya, kekurangannya tidak menjadikan beban untuk kami orang tuanya."

Kesukaan arif dengan seni didukung keluarganya hingga saat ini. Edy Sasongko dan Herdin Listyo Pratiwi selalu mendampinginya, terlebih ketika ia memasuki universitas. Kegagalan-kegagalan memasuki universitas seni menjadi kesedihan sendiri bagi Edy Sasongko dan istrinya. Namun, mereka percaya bahwa anaknya akan dapat masuk universitas sama dengan anak-anak lainnya.

Usaha, keringat, uang, dan doa tak lagi diperhitungkan untuk keberhasilan buah hatinya. Dan kini sudah saatnya Edy Sasongko dan istrinya melihat buah hati mereka menjadi pribadi yang berhasil dalam dunia akademik maupun praktik dengan segala prestasi yang telah dicetak oleh Arif Wicaksono. | Frenda Yentin


Data Prestasi Arif : Prestasi yang diperolehnya sangat banyak mulai dari pemain pagelaran kolosal musik drama tari (Yogya Arya Pradipta) dalam puncak HUT Yogyakarta 249 di Mandala Krida Yogyakarta, pemain LIP (Lembaga Indonesia Perancis) Teater dan Musik kreasi “Dari Satu Dunia Ke Lain Dunia” bersama House of Sign, Sutradara “Virgine Lasitier” di Omah Panggung dan Selindo, Kolaborasi DAC dengan LM (Last Minute) dan Brandon (penari cilik) di Surabaya, pembicara di Hongkong dalam acara Seminar Internasional Makalah Linguistik Bahasa Isyarat, Peneliti Muda di Laboratorium Riset Bahasa Isyarat (LBRI, dan prestasi-prestasi lain baik dalam maupun luar negeri. Segudang prestasi yang didapatkan oleh Arif Wicaksono tak lepas dari peran keluarga, khususnya Ibunya. Didikan yang diberikan sejak kecil menjadikan ia sebagai pribadi yang tangguh dan percaya diri.

back to top