Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

KoPi, Sebuah riset yang dilakukan oleh kelompok anti-bullying, Ditch The Label, menunjukkan bahwa 45% pelajar dengan rentang usia 13-18 tahun pernah “di-bully” (digertak atau diganggu) dan hal yang sering dijadikan bahan untuk mem-bully seseorang adalah penampilan fisik.

Profesor Ian Rivers dari Brunel University menyatakan bahwa hasil riset tersebut menunjukkan bahwa kita masih punya tantangan yang amat besar untuk memastikan bahwa generasi muda kita aman saat berada di sekolah dan dapat belajar dalam lingkungan pendidikan yang mendukung.


Survey penelitian tersebut menunjukkan bahwa 61 persen murid  yang sering “di-bully” mendapat serangan secara fisik dan 10 persen lainnya mengalami pelecehan seksual. Perlakuan-perlakuan tersebut menimbulkan efek pada harga diri mereka. Dan akhirnya, efek ini mengarah kepada  tindakan yang tak diinginkan seperti menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri.


“Bully” sering terjadi kepada murid yang berkebutuhan khusus. Mereka juga kerap kali dikucilkan. Lebih lanjut, tindakan “bully” mengarah pada diskriminasi ras, agama dan homophobia.


Tak hanya berimbas kepada harga diri sang murid, tindakan “bully” ternyata berimbas pada hasil dan prestasi belajar mereka karena ternyata murid-murid yang menjadi target “bully” seringkali mendapatkan nilai yang kurang bagus dalam ujian mereka.

 


 (Ana Puspita Sari)
Sumber: The Independent



back to top