Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

KoPi, Sebuah riset yang dilakukan oleh kelompok anti-bullying, Ditch The Label, menunjukkan bahwa 45% pelajar dengan rentang usia 13-18 tahun pernah “di-bully” (digertak atau diganggu) dan hal yang sering dijadikan bahan untuk mem-bully seseorang adalah penampilan fisik.

Profesor Ian Rivers dari Brunel University menyatakan bahwa hasil riset tersebut menunjukkan bahwa kita masih punya tantangan yang amat besar untuk memastikan bahwa generasi muda kita aman saat berada di sekolah dan dapat belajar dalam lingkungan pendidikan yang mendukung.


Survey penelitian tersebut menunjukkan bahwa 61 persen murid  yang sering “di-bully” mendapat serangan secara fisik dan 10 persen lainnya mengalami pelecehan seksual. Perlakuan-perlakuan tersebut menimbulkan efek pada harga diri mereka. Dan akhirnya, efek ini mengarah kepada  tindakan yang tak diinginkan seperti menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri.


“Bully” sering terjadi kepada murid yang berkebutuhan khusus. Mereka juga kerap kali dikucilkan. Lebih lanjut, tindakan “bully” mengarah pada diskriminasi ras, agama dan homophobia.


Tak hanya berimbas kepada harga diri sang murid, tindakan “bully” ternyata berimbas pada hasil dan prestasi belajar mereka karena ternyata murid-murid yang menjadi target “bully” seringkali mendapatkan nilai yang kurang bagus dalam ujian mereka.

 


 (Ana Puspita Sari)
Sumber: The Independent



back to top