Menu
Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

Prev Next

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

KoPi, Sebuah riset yang dilakukan oleh kelompok anti-bullying, Ditch The Label, menunjukkan bahwa 45% pelajar dengan rentang usia 13-18 tahun pernah “di-bully” (digertak atau diganggu) dan hal yang sering dijadikan bahan untuk mem-bully seseorang adalah penampilan fisik.

Profesor Ian Rivers dari Brunel University menyatakan bahwa hasil riset tersebut menunjukkan bahwa kita masih punya tantangan yang amat besar untuk memastikan bahwa generasi muda kita aman saat berada di sekolah dan dapat belajar dalam lingkungan pendidikan yang mendukung.


Survey penelitian tersebut menunjukkan bahwa 61 persen murid  yang sering “di-bully” mendapat serangan secara fisik dan 10 persen lainnya mengalami pelecehan seksual. Perlakuan-perlakuan tersebut menimbulkan efek pada harga diri mereka. Dan akhirnya, efek ini mengarah kepada  tindakan yang tak diinginkan seperti menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri.


“Bully” sering terjadi kepada murid yang berkebutuhan khusus. Mereka juga kerap kali dikucilkan. Lebih lanjut, tindakan “bully” mengarah pada diskriminasi ras, agama dan homophobia.


Tak hanya berimbas kepada harga diri sang murid, tindakan “bully” ternyata berimbas pada hasil dan prestasi belajar mereka karena ternyata murid-murid yang menjadi target “bully” seringkali mendapatkan nilai yang kurang bagus dalam ujian mereka.

 


 (Ana Puspita Sari)
Sumber: The Independent



back to top