Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

KoPi, Sebuah riset yang dilakukan oleh kelompok anti-bullying, Ditch The Label, menunjukkan bahwa 45% pelajar dengan rentang usia 13-18 tahun pernah “di-bully” (digertak atau diganggu) dan hal yang sering dijadikan bahan untuk mem-bully seseorang adalah penampilan fisik.

Profesor Ian Rivers dari Brunel University menyatakan bahwa hasil riset tersebut menunjukkan bahwa kita masih punya tantangan yang amat besar untuk memastikan bahwa generasi muda kita aman saat berada di sekolah dan dapat belajar dalam lingkungan pendidikan yang mendukung.


Survey penelitian tersebut menunjukkan bahwa 61 persen murid  yang sering “di-bully” mendapat serangan secara fisik dan 10 persen lainnya mengalami pelecehan seksual. Perlakuan-perlakuan tersebut menimbulkan efek pada harga diri mereka. Dan akhirnya, efek ini mengarah kepada  tindakan yang tak diinginkan seperti menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri.


“Bully” sering terjadi kepada murid yang berkebutuhan khusus. Mereka juga kerap kali dikucilkan. Lebih lanjut, tindakan “bully” mengarah pada diskriminasi ras, agama dan homophobia.


Tak hanya berimbas kepada harga diri sang murid, tindakan “bully” ternyata berimbas pada hasil dan prestasi belajar mereka karena ternyata murid-murid yang menjadi target “bully” seringkali mendapatkan nilai yang kurang bagus dalam ujian mereka.

 


 (Ana Puspita Sari)
Sumber: The Independent



back to top